+10 344 123 64 77

Sufi mengecam orang yang menyembah Allah karena menginginkan surga dan takut neraka. Menurut mereka hanya boleh menyembah Allah karena cinta kepada Allah. Oleh karena itu seorang sufi, Rabiatul ‘Adawiyah berkata, “Ya Allah jika aku menyembahMu karena ingin surga, maka tutup pintu surga bagiku. Jika aku menyembahMu karena takut neraka, maka buka pintu neraka untukku” Itu adalah sifat sombong dan riya. Dalam Islam kita diajarkan untuk mencintai Allah dan Rasulnya di atas yang lain termasuk diri kita sendiri. Meski demikian kita juga diperintahkan untuk berharap akan surga dan takut api neraka.

Mereka membatasi ibadah hanya pada aspek al-mahabbah (kecintaan) saja dengan mengenyampingkan aspek-aspek lainnya, seperti aspek al-khauf (rasa takut) dan ar-raja` (pengharapan), sebagaimana terlihat dalam ucapan beberapa orang ahli tashawwuf: "Aku beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, bukan karena aku mengharapkan masuk surga, dan juga bukan karena takut masuk neraka". (!?)

Memang benar, aspek al-mahabbah merupakan landasan ibadah. Akan tetapi, ibadah itu tidak hanya terbatas pada aspek al-mahabbah saja, seperti persepsi orang-orang ahli tashawwuf. Karena, ibadah itu memiliki banyak jenis dan aspek yang melandasinya selain aspek al-mahabbah, misalnya aspek al-khauf, ar-raja`, adz-dzull (penghinaan diri), al-khudhû` (ketundukkan), do'a, dan aspek-aspek lainnya.

Salah seorang ulama Salaf berkata: "Barang siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan kecintaan semata, maka dia adalah seorang zindiq (kafir). Barang siapa yang beribadah kepada Allah l dengan pengharapan semata, maka dia adalah seorang Murji'ah. Barang siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan ketakutan semata, maka dia adalah seorang Haruuriyyah (Khawarij). Dan barang siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan, maka dialah seorang mukmin sejati dan muwah-hid (orang yang bertauhid dengan benar)".

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla memuji sifat para nabi dan rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sa;;a, yang mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan perasaan takut dan berharap, dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap siksaan-Nya.

a. Allah berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ () وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” [QS. Al-hijr: 49-50]

Allah juga berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” [QS. Al-A’raaf: 56]

Maka dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya -dan doa itu adalah ibadah- karena takut dari neraka-Nya dan berharap akan surga-Nya dan hendaknyalah seorang muslim itu antara takut dan harap sehingga akan seimbang perikehidupan pelajar dan akan baik keadaannya.

b. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah berdoa:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Ayat-ayat dan hadits ini adalah bantahan terhadap orang-orang sufi yang mengatakan bahwa mereka itu beribadah kepada Allah tidak mengharap surga-Nya dan tidak takut kepada neraka-Nya. Seolah-olah mereka tidak mendengar Al-Qur’an dan hadits yang telah disebutkan di muka.

Oleh: Khairil Miswar

Banda Aceh, 10 September 2015

Idrus Ramli. Foto hidayatullah.com
Idrus Ramli “cintaku”, ... aku berharap agar engkau tidak lagi “mengusik” kebersamaan kaum muslimin di tanah kami (Aceh). Biarkan Aceh kami hidup damai. Kami sudah lelah berperang. Pergilah, pergilah, dan pergilah engkau, pulang ke “negerimu”.
Tulisan ini aku tujukan ke hadapan Yang Mulia Kiyai Haji Muhammad Idrus Ramli Hafizahullah. Anggap saja tulisan ini sebagai “surat cintaku” kepadamu. Bukannya aku tidak mengenal kantor Pos, bukan pula aku tak punya ongkos, tapi sengaja kutulis surat ini di sini, agar saudara-saudaraku dan juga saudara-saudaramu dapat membaca surat ini. Meskipun surat ini kutujukan kepadamu, tapi tidak ada secuil rahasia pun dalam surat ini.

Idrus Ramli yang dirahmati Allah, sebelum berpanjang kalam, izinkan aku untuk memperkenalkan diriku padamu. Bukan berarti aku begitu penting untuk engkau kenal, tapi aku hanya menjalankan firman Tuhanku, bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Sama halnya seperti dikau yang tak mengenal diriku, pada hakikatnya aku pun tidak mengenal dirimu, aku cuma tahu sedikit saja tentang dirimu. Baiklah, perkenalkan, Aku ini orang Aceh yang lahir di Aceh dan bernenek-moyang Aceh.
Idrus Ramli yang berbahagia, kemarin (10 September 2015) orang-orang di “negeriku” telah melaksanakan satu acara yang mereka sebut sebagai “Parade Ahlussunnah Waljama’ah”.

Dalam surat ini, aku tak hendak mengomentari acara tersebut, tersebab aku tahu bahwa itu adalah hak mereka sebagai warga negara. Mereka mau buat parade, karnaval, maraton, jalan santai atau apapun namanya, itu tidaklah menjadi urusanku. Cuma saja, aku “dengar-dengar”, dikau turut hadir dalam acara itu.

“Sayangku” Idrus Ramli, aku menulis surat ini singkat saja, karena aku tahu engkau tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama membaca surat ini. Aku sangat paham akan jadwalmu yang “super sibuk”, hari ini engkau diundang ke Aceh, mungkin besok lusa engkau di undang ke Papua. Kesibukanmu dapat kumaklumi karena engkau adalah “Singa Aswaja” di Asia Tenggara, demikian khabaran yang kudengar dari kawan-kawanmu.
Begini Idrus Ramli, dalam acara “parade” itu, aku melihat beberapa spanduk yang berisikan penolakan terhadap Wahabi, PKI dan Syi’ah. Seperti aku katakan di atas, itu bukan urusanku, karena spanduk itu milik mereka dan yang menulis pun mereka. Cuma saja, aku merasa heran kepada dirimu yang turut memposting foto-foto itu di akunfacebookmu. Engkau nampaknya sangat setuju dengan tulisan-tulisan itu. Secara tidak langsung, engkau telah ridha jika Wahabi disederajatkan dengan PKI dan Syi’ah. Meskipun engkau paham, bahwa Wahabi bukanlah Syi’ah, dan Syi’ah pun bukan Wahabi. Aku yakin seyakin yakinnya bahwa dikau juga paham bahwa Wahabi bukanlah PKI, dan PKI bukanlah Wahabi. Tapi engkau terlihat sangat berbahagia memposting foto-foto itu di facebookmu.
Idrus Ramli yang berbahagia. Soal kedatanganmu ke Aceh, pada prinsipnya tidaklah menjadi urusanku, karena engkau memakai biayamu sendiri. Aku juga paham bahwa kedatanganmu bukanlah “murni” kehendakmu, tapi hanya sekedar memenuhi undangan. Tapi, kemarin engkau pasti telah mendengar dan membaca di spanduk-spanduk bahwa Wahabi tidak layak hidup di Aceh. Dalam hal ini, aku melihat keterlibatanmu sudah terlalu jauh. Engkau telah turut campur dalam urusan rumah tangga kami (Aceh) yang semestinya bisa terselesaikan tanpa kehadiranmu.

Idrus Ramli yang dimuliakan Allah, terkait kebencianmu terhadap Wahabi, itu adalah hakmu, tiada yang mampu melarangmu untuk menebar kebencian terhadap Wahabi. Silahkan dikau membenci Wahabi, tapi lakukan itu di tanahmu sendiri (Jawa), jangan engkau “tebar kebencian” di tanah kami (Aceh). Jika pun Wahabi ingin diusir dari Aceh, maka biarlah itu menjadi urusan masyarakat Aceh, tanpa perlu engkau melibatkan diri.
Idrus Ramli “sayangku”, saat ini kaum muslimin di Papua tengah diuji. Engkau tentu ingat beberapa waktu lalu mesjid mereka dibakar. Datanglah ke sana untuk memberi peringatan kepada pihak-pihak yang telah “mengganggu” saudara-saudara kita. Engkau juga pasti tahu, bahwa kaum muslimin di Suriah juga hidup dalam kesusahan dan terpaksa mengungsi menghidari perang akibat kekejaman si Basyar yang telah melampaui batas. Datangilah mereka, bantu mereka, semangati mereka, karena mereka adalah saudara-saudara kita seiman. Dan yang terpenting, lupakanlah Aceh!
Sebelum aku mengakhiri surat ini, aku pertegas kembali bahwa surat ini aku tujukan kepada engkau seorang wahai Idrus Ramli “tersayang”, bukan untuk yang lain. Idrus Ramli “cintaku”, di akhir surat ini, aku berharap agar engkau tidak lagi “mengusik” kebersamaan kaum muslimin di tanah kami (Aceh). Biarkan Aceh kami hidup damai. Kami sudah lelah berperang. Pergilah, pergilah, dan pergilah engkau, pulang ke “negerimu”.
kompasiana.com/khairilmiswar, 11 September 2015 19:32:00

(nahimunkar.com)

(Bukti² penyimpangan dan kesesatan-bisa dikatakan kekufuran tingkat tinggi- ketua NU yang sekarang, yang terindikasi syi'ah nhc)

Said Aqil Siradj Bilang Malaikat Munkar Nakir Sampai Sekarang Belum Bisa Menanyai Gus Dur

Dalam video berikut ini pada menit ke 4.25 dan seterusnya Said Aqil Siradj bicara soal Gus Dur sebagai berikut:

https://youtu.be/lLwY4Eeeynw

Wahid Hasyim wafat punya putera di atas cerdas. Wahid Hasyim cerdas, puetranya sak nduwure ( di atas) cerdas, Kyai Haji Abdurrahman Wahid, Gus Dur, yang sampai sekarang (Malaikat) Munkar Nakir belum bisa nanyain Gus Dur. Karena di dalam hadits shahih, orang mati dimasukkan ke liang kubur pengiringnya pulang, sunyi sepi, Munkar Nakir datang, tanya man rabbuka (siapa Tuhanmu) waman nabiyyuka (siapa nabimu) dan seterusnya. Gus Dur ga’ pernah sepi kuburannya, sampai sekarang Munkar Nakir masih ngantri nunggu kapan sepine aku tak (kapan sepinya aku akan ...) sampai sekarang belum bisa.itu.

Perkataan Said Aqil Siradj ketua Umum NU itu mari kita bandingkan dengan hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits Imam Abu Daud:

حديث عثمان بن عفان رضي الله عنه قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ : ( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) رواه أبو داود (3221) ، وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص198 .

Hadits (dari) Utsman bin Affan Radhiallahu anhu, dia berkata,
“Biasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika selesai menguburkan mayat, beliau berdiri dan mengatakan,

( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) (رواه أبو داود (3221) , وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص 19)

“Mohonkan ampunan untuk saudara kalian. Dan mintakan baginya keteguhan, karena dia sekarang ditanya.” (HR. Abu Daud, 3221 dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Ahkamu Al-janaiz, hal. 198)/ http://islamqa.info/id/174715
Selain masalah berkata mengenai hal ghaib (yaitu malaikat) dengan akal-akalan yang menyelisihi hadits shahih, Said Aqil Siradj bicara pula tentang Iblis, dalam shalat.

Inilah beritanya.

***

Tidak Mau Merapatkan Shalat Seperti "Wahabi", Said Aqil Lebih Memilih Shalat Bersama Iblis (Video)

By: Syiah Indonesia on 10:05 AM

Syiahindonesia.com - Setelah menjabat menjadi Ketum PBNU, Said Aqil kembali menuai kontrovesi melalui ceramahnya yang menyatakan bahwa ia lebih senang apabila Syaitan atau Iblis ikut berjama'ah ketimbang mau merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah.

Diantara alasan sikapnya itu adalah karena merapatkan shaf dalam shalat adalah ajaran "wahabi". Padahal, kalau kita tengok beberapa hadits Rasulullah saw, ada nash yang menyebutkan bahwa diantara kesempurnaan shalat adalah rapat dan lurusnya shaf dalam berjama'ah.

Berikut beberapa hadits tentang anjuran merapikan shaf dalam shalat berjama'ah:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

”Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan sholat.”

Semakna dengannya, hadits Abu Hurairah -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- dalam riwayat Al-Bukhary (722) dan Muslim (435),

Juga sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:

وَأَقِيْمُوْا الصَّفِّ فِي الصَّلاَةِ, فَإِنَّ إِقَامَةِ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلاَةِ

“Dan tegakkanlah shaf di dalam shalat, karena sesungguhnya menegakkan shaf termasuk diantara baiknya sholat”.

Ulama Islam seperti Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dua hadits diatas sebagai berikut:

Kosa Kata Hadits:

1. Sabda beliau [luruskanlah shaf-shaf kalian] yakni, lurus dan seimbanglah dalam bershaf sehingga kalian seakan-akan merupakan garis yang lurus, jangan salah seorang di antara kalian agak ke depan atau agak ke belakang dari yang lainnya, serta merapat dan tutuplah celah-celah kosong yang berada di tengah shaf.

2. Sabda beliau [termasuk kesempurnaan sholat], yakni penyempurna sholat. Sesuatu dikatakan sempurna jika telah sempurna seluruh bagian-bagiannya, sehingga satu bulan dikatakan sempurna jika harinya sudah genap 30.

3. Sabda beliau [sesungguhnya menegakkan shaf], yakni meluruskan dan menyeimbangkannya ketika hendak mendirikan shalat berjama’ah.

4. Sabda beliau [termasuk diantara baiknya sholat]. Ibnu Baththol menjelaskan bahwa “baiknya sesuatu” adalah kadar tambahan setelah sempurnanya sesuatu tersebut.

[Lihat: Fathul Bary (2/209), ‘Aunul Ma’bud (2/259), dan Faidhul Qodir (2/537) dan (4/115-116)]

Selain itu, ada juga hadits penguat yang menjelaskan akan keharusan merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah, diantaranya:

أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (743)

Juga sabda beliau saw:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”. HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Ta’liq Ar-Roghib (1/335) cet. Maktabah Al-Ma’arif , tahun 1421 H.

Dengan demikian, ini menunjukan bahwa merapatkan shaf dalam shalat adalah sebuah anjuran yang patut dilaksanakan oleh kaum muslimin seluruhnya, dan bukan hal yang mengada-ngada. (nisyi/syiahindonesia.com)

Berikut videonya pernyataan Said Aqil yang lebih memilih shalat bersama Iblis ketimbang mengikuti ajaran "wahabi".

https://youtu.be/lLwY4Eeeynw

Sumber: nahimunkar.com

Kami Bukan Pengikut WAHABI. kami mengikuti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam... — 

Yang nyunnah - radikal
Yang nyeleneh - toleran

Yang muslim celana cingkrang dan berjenggot - terroris
Yang bule celana cingkrang dan berjenggot - fashion

Yang rajin sholat 5 waktu - sok alim
Yang muda ga sholat - masih muda

Yang jilbab syar'i - ekstrem
Yang ga pake jilbab - cantik

Yang rajin ke mesjid - waspadai
Yang rajin ke club - biarkan

Yang tiap minggi ke majelis ta'lim - kudet
Yang tiap minggu ke bioskop - gaul

Yang hafal al quran 30 juz - militan
Yang hafal cerita novel - hebat

Yang anaknya di jilbabin - pelanggaran ham
Yang anaknya pakai rok mini - imut

Yang pakai baju koko - sok islami
Yang ga pake baju - jantan

Yang tiap hari bicara islam - sok ustad
Yang tiap hari ghibah - ip to date

Yang pingin taubat - dikucilkan
Yang ngajak maksiat - didekati

Yang ngajak hijrah - ga asik
Yang ngajak mabuk - teman sejati

Media islam - radikal
Media porno - kebutuhan

"Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu." (H.R muslim no 208)
.
Sahabat bertanya siapakah orang asing itu, Nabi menjawab :
Mereka ialah orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan di tengah kerusakan. (H.R Ahmad)

(Copas dari FB seorang teman: Sarah Fajriah)

>> Di antara kaum Muslimin ada yang INGIN I’TIKAF RAMADHAN, tapi terkendala masalah-masalah.
>> Misal karena kesibukan kerja, karena tidak ada kawan, karena tidak ada masjid yang dekat, karena dalam perjalanan, karena dia seorang wanita, karena haidh, dll.
>> SECARA UMUM, namanya I’tikaf PASTI HANYA di masjid. I’tikaf adalah amal saleh yang terikat masjid. Tak ada masjid, ya tak ada I’tikaf.
>> Ulama menjelaskan, lama tidaknya I’tikaf tidak dibatasi. Mau 10 menit saja, boleh. Mau 10 tahun juga boleh, kalau kuat dan diizinkan melakukan itu. Para Ahlus Suffah di zaman Nabi Saw, tinggal lama di masjid.
>> Tapi khusus bulan Ramadhan, ada amal saleh yang namanya: I’TIKAF 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN. Benar-benar 10 hari terakhir, siang malam, sampai saat tiba MALAM Takbiran. Amal ini khusus saat Ramadhan saja. Tidak tergantikan dengan bulan-bulan lain.
>> Seorang Muslim sangat hebat bila setiap Ramadhan bisa beramal I’TIKAF 10 HARI AKHIR RAMADHAN. Hebat itu. Tapi boleh beberapa kali, semampunya. Minimal seumur hidup SATU KALI; demi melaksanakan Sunnah Nabi Saw. Jangan ditinggalkan sama sekali ya. Tak boleh. Nanti Nabi Saw akan menanyakan hal itu.
>> Oh ya, ini penting sekali. Ibadah I’tikaf ini terikat oleh dua hal: NIAT dan SUCI. Niat berarti ada kesengajaan melakukan I’tikaf demi meraih ridha Allah. SUCI berarti dalam keadaan WUDHU dan tidak dalam hadats besar/kecil.
>> I’tikaf tanpa niat adalah tidak mungkin. Meskipun berkemah di masjid 10 tahun, kalau tak ada niat I’tikaf, ya tidak dinilai ibadah I’tikaf.
>> Oh ya, ada aspek lain, yaitu AKHLAQ. I’tikaf harus diisi amal yang baik-baik, minimal diam atau tidur. Jangan diisi fitnah, ghibah, adu domba, hedonisme, apalagi maksiat. Perbuatan tercela tidak pantas di luar, lebih tidak pantas dilakukan di masjid.
>> Kembali ke topik di atas… Bolehkah I’tikaf sendirian di rumah?
>> Di rumah tidak ada I’tikaf. Meskipun itu ada musholla tempat shalat.
>> Sebagian ulama mensyaratkan I’tikaf di masjid yang ada SHALAT JUM’AT-nya. Ada juga masjid yang RUTIN MENGGELAR SHALAT LIMA WAKTU dan KUMANDANG ADZAN. Jadi musholla yang tidak memenuhi syarat itu, bukan tempat I’tikaf.
>> TAPI di rumah kita bisa lakukan AMAL SHALIH apa saja, seperti Shalat, Dzikir, Baca Al Qur’an, Doa, berbakti ke orangtua, shilaturahiim, sedekah, dll. Pokoknya amal shalih. Ini memang bukan I’tikaf, tapi TIDAK AKAN KETINGGALAN PELUANG AMAL.
>> Mengapa? Karena untuk mengejar LAILATUL QADAR tidak dibatasi amal-amalnya. Yang penting masuk cakupan: AMAL SHALIH DI MALAM 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN, SAMPAI SAAT TIBA WAKTU FAJAR. Amal baik apa saja di malam itu, akan ditimbang dengan pahala Lailatul Qadar.
>> Bagi kaum wanita haidh. Cara ibadahnya begini. Anda gelar sajadah atau tikar di rumah. Pakai mukena, lalu duduk berdzikir misalnya baca Istighfar, Tahlil, Tasbih, Tahmid, Takbir, Shalawat. Boleh juga membaca doa: “Allohumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniy” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku ini). Atau baca dzikir: “Subbuhun Quddusun Rabbuna wa Rabbul Malaikati war Ruuh” (Maha Suci Engkau, Maha Qudus, Engkau Tuhan kami, juga Tuhan para Malaikat dan ruh). Atau silakan berdoa apa saja yang bisa dilakukan. Jadi saat malam itu jangan dilewatkan untuk tidur saja. TETAPI tidak boleh melakukan Shalat dan Membaca Al-Qur’an. Selain itu boleh dan dipersilakan beribadah semampunya.
>> Bagi para MUSAFIR (terutama sedang mudik), silakan beramal di malam-malam itu di sepanjang jalan. Tentunya setelah menunaikan amalan SHALAT WAJIB, karena kewajiban tidak boleh diakhirkan dari amalan yang Sunnah. Silakan baca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, sedekah, mudzakarah (nasehat-menasehati), membaca kitab-kitab agama, membuat status medsos yang bermanfaat bagi Ummat, dan sebagainya.
>> Intinya, kita jangan kehilangan KESEMPATAN AMAL SHALIH di malam-malam 10 Hari Terakhir Ramadhan. Kalau tidak bisa beramal di masjid, jangan kehilangan amal shalih di mana saja, apakah di rumah, di perjalanan, di tempat kerja, dan sebagainya.
>> Demikian, semoga manfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
>> Menurut data Bank Indonesia, posisi hutang luar negeri kita pada Juni 2015 adalah: 300 Miliar Dolar atau Rp. 3.988 Triliun (sekitar 4000 Triliun Rupiah; dg kurs Rp. 13.300/dolar).
>> Persentase hutang, 45% hutang pemerintah; 55% hutang swasta.
>> PERBANDINGAN: Saat Menteri Ekuin Hatta Radjasa, pada era kedua SBY, hutang luar negeri kita mencapai sekitar Rp. 2.025 Triliun. Jadi ada kenaikan hutang dalam 2 tahun terakhir sekitar 2000 TRILIUN.
>> SEMUA hutang ini dibebankan kepada RAKYAT INDONESIA untuk menanggungnya; melalui upah rendah, pajak tinggi, harga-harga mahal, BBM naik, dan seterusnya.
>> SEANDAINYA Anda sekarang berjalan 100 m keluar rumah, dengan pakaian biasa, tanpa bawa uang sepeser pun; saat itu pun SEJATINYA Anda sedang ikut memikul beban hutang ini.
>> Ya Allah berikan hidayah dan taufik kepada semua pemimpin bangsa, agar mereka BERHENTI MENZHALIMI bangsa & rakyat negeri ini. Ya Allah perbaiki hati-hati mereka agar melaksanakan amanat, keadilan, dan kebajikan.
>> Amin amin Allahumma amin.

JUJUR LEBIH BAIK

>> Menko Ekuin Sofyan Djalil mengatakan, posisi hutang luar negeri Indonesia masih aman. Masih lebih baik dari Yunani.
>> Hutang Indonesia senilai 26% PDB, sedang Yunani mencapai 200% PDB. PDB = Produk Domestik Bruto. Penghasilan kotor negara.
>> SISI KRITIK: Yunani adalah negara Eropa kecil, miskin. Tidak punya hasil tambang, lautan, hutan luas, tanam-tanaman sekaya Indonesia.
>> SISI LAIN, ini yang paling parah, nilai PDB itu meliputi penghasilan semuanya, termasuk hasil perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Hasil mereka tentu diboyong ke negeri asalnya.
>> ANDAI mau jujur. Harusnya diambil perbandingan antara HUTANG LUAR NEGERI dan rata-rata INCOME PER KAPITA rakyat Indonesia. Dijamin para pemimpin tak akan berani.
>> SEMUDAH manusia bermain angka, untuk menutupi realita yang rata-rata rakyat tidak mengerti.
>> Nas’alullah al ‘afiyah.

AMPUNI KAMI YA ALLAH…

>> MESKIPUN, hutang LN kita sudah menyentuh angka 4000 Triliun.
>> TAPI, kata Menko Ekuin, Indonesia MASIH BISA pinjam sampai 5.500-an Triliun. Astaghfirullah…
>> SPONGEBOB: “Kita ngutang, dan kita bangga.”
>> KATANYA…hutang-hutang itu untuk BELANJA INFRASTRUKTUR.
>> PADAHAL siapa nanti yang akan menikmati infrastruktur itu? Pasti orang-orang asing lagi kan? Kita biasanya hanya sebatas “meramaikan”.
>> “Rabbana laa tusallith ‘alaina man laa yarhamuna.” Ya Allah jangan jadikan pemimpin kami orang yang tidak mengasihi kami. Amin

Segelintir mujahidin Suriah, Dan beberapa warga sipilnya belum bisa melepaskan hobi ngudud yang selama belasan atau puluhan tahun dilakoninya. Datangnya syariat jihad dan maut yang bergentayangan di sekitar mereka masih juga tidak mempan menghentikan kebiasaan kebal-kebul tersebut. Tentu banyak maksiat lebih besar dari itu, Kejahatan yang lain juga kadang terjadi disini, Tapi mari fokus dulu sama kegiatan mubadzir satu ini

Beberapa faksi besar dan fanatik atau disini biasa disebut Islamiyyin, Macam Jabhah An-Nushrah, Ahrarusy Syam, Ansharusy Syam, Jaisyul Islam, Dan beberapa lainnya, Resmi atau tidak, Telah menerapkan larangan merokok bagi anggotanya, Juga bagi warga di daerah kekuasaan mereka. Dan dari semuanya memang JN yang paling keras soal ini. Pada beberapa sub kelompok JN, Larangan itu bahkan disertai sanksi keras dan tegas terutama kepada anggotanya. Sedangkan pada grup lain kadar larangannya bertingkat-tingkat. Misal Jaisyul Islam, Jajaran komandannya dilarang keras. Lalu para syar'i mereka selain dilarang juga akan dipecat bila ngudud. Pasukan elit demikian pula hanya saja sanksinya ga terlalu berat. Tapi untuk serdadu reguler masih sebatas peringatan dan dakwah terus menerus

Terkait hukum rokok dan beberapa perkara lainnya, Menyikapinya terhadap masyarakat awam, Anggota mujahidin, Yang seringnya sehari-hari kalau pas lagi lepas dinas adalah masyarakat sipil dan awam, Serta muhajirin, Semua kelompok sepakat kalau sekarang ini merupakan fase dakwah. Ya, Perkara udud ini rupanya bukan perkara mudah, Ada semacam permakluman mereka bahwa keberhasilan jihad ini ketika seluruh muslim Suriah telah menjalankan dasar-dasar syariat Islam dengan kesadaran sendiri tanpa harus dipaksa. Dan jalan menuju kesana adalah dengan dakwah yang bijaksana (bil hikmah) serta dengan cara-cara yang baik (wal mauidhatil hasanah)

Beberapa aturan syariat telah ditegakkan disini, Kelompok-kelompok Islamiyyin sepakat membentuk mahkamah syariah bersama untuk menjalankannya, Dan para pendakwah, Da'i-da'i mujahid, Telah disebar ke seluruh penjuru. Menyeru orang-orang supaya kembali pada Allah, Menjalankan syariatnya, Serta menerapkan syariat hudud. Tapi dalam bertebaran di muka bumi, Para ketua mahkamah syariah terus mewanti-wanti agar para da'i bersikap hati-hati mendakwahkan syariat mulia ini, Jangan sampai timbul kebencian dan kemarahan masyarakat akibat cara yang salah. Para da'i itu memang bisa saja mengeraskan sikap serta menunaikan tangan besi, Toh apa kata mereka insyaAllah ditaati orang, Apalagi di belakang mereka berdiri kekuatan bersenjata yang tengah bersemangat menyempurnakan syariat. Tapi mereka telah belajar dari sejarah, Baik sejarah jihad sebelum mereka, Sejarah jihad di Suriah sendiri, Dan terutama sejarah jihad dijaman RasulUllah ShallAllahu A'laihi Wasallam. Yang mana beliau tegaskan bahwa kemenangan sejati bukan ketika berhasil menguasai musuh, Tapi ketika berhasil menguasai diri sendiri

Para da'i ga mau masyarakat bermuka dua, Di depan mereka sami'naa wa atha'naa (kami dengar dan kami patuh), Tapi di belakang mereka sami'naa wa ashainaa (kami dengar dan kami selisihi). Mereka ingin perbuatan jahat dan maksiat sebisa mungkin berhenti karena kesadaran masyarakat, Bukan karena todongan senjata. Memang ada hal-hal yang perlu dikerasi macam hobi masyarakat mengucapkan kalimat-kalimat pembatal keIslaman. Tapi untuk hal-hal seperti berhenti merokok, Shalat jama'ah di masjid, Memelihara jenggot, Dan lain sebagainya, Da'i-da'i mujahid tersebut ingin agar fasenya berjalan secara alami, Berasal dari kesadaran diri, Bukan tanpa paksaan apalagi kekerasan

Tentu mereka ga sebodoh kita di Indonesia yang menulis bahaya rokok di bungkus rokok, Tapi membiarkan pabrik rokok bebas beroperasi. Disini rutin diadakan razia rokok terutama di checkpoint-checkpoint. Kemarin ikut nongkrong di beberapa checkpoint mujahidin, Ngobrol dan nyari bahan cerita, Saya lihat sendiri puluhan slop rokok hasil sitaan didalam drum besar siap dibakar. Rokok-rokok itu didapat dari penggeledahan mobil-mobil angkutan umum atau mobil-mobil pribadi yang lalu lalang melintasi checkpoint. Pemiliknya disuruh push-up, Lalu dinasihati panjang lebar. Nasihat-nasihat itu saya dengar sendiri memang sungguh menyentuh hati, Bikin nangis dan menambah keimanan. Saya sendiri mau nangis rasanya disinggung tentang keutamaan tanah jihad, Dan bagaimana darah para mujahid tumpah untuk menegakkan syariat, Terus masa iya kita cuma berhenti ngerokok aja ga mau ?

Hasilnya memang masyaAllah efektif. Agak jarang disini saya lihat orang ngudud apalagi terang-terangan. Biasanya ngumpet atau paling tidak di daerah yang pemberlakuan hukum syariatnya kurang ketat, Atau dakwah kurang menyentuh masyarakat. Mereka yang berhenti ngudud kebanyakan karena keimanan dan ketaatan, Bukan karena paksaan

Walhasil, Bahkan di daerah perang sekalipun, Sikap bijak dan cara-cara yang baik dalam berdakwah tetap diutamakan. Masyarakat tidak akan berubah dengan todongan senjata. Berhenti mungkin iya, Tapi selama pemahaman serta keyakinan dan keinginan kuat belum tertanam, Berbagai kemaksiatan akan terus terjadi, Bahkan mungkin menjadi seperti bara dalam sekam, Siap meledak menghancurkan jerih payah jihad yang selama ini diperjuangkan

Nah, Disini aja para mujahid bijaksana serta berlemah lembut dalam menasihati, Masa antum disana main gebuk main cap aja ?

Kisah diatas ditulis untuk menggerakkan kita, Barangkali ada hikmah yang bisa kita ambil, Dan memang sebagai bagian dari usaha untuk mencari dana bagi membantu muslim Suriah

Mari bergerak, Jangan berhenti pada like, Share dan comment. Berikut ini ada sarana yang bisa kita gunakan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan di Suriah, Dan berbuat lebih baik lagi

Rek Donasi Suriah dan Rohingya

Suriah (Umum)
- MANDIRI 900 0019 330 720 (Kcp. Katamso, Yogyakarta)
- BCA 1691 967 749 (Kcu. Ahmad Dahlan, Yogyakarta)
- BRI 0029 0110 999 7500 (Kcu. Cik Ditiro, Yogyakarta)
- BNI 0317 563 523 (Kcp. Parang Tritis, Yogyakarta)
Semua atas nama IKRIMAH
- Konfirmasi : Ikrimah 081809406405

Suriah (Khusus kurban)
Perekor domba gemuk besar 250 USD, Sapi 2.000 USD
- BCA 0201251621 (KCP Teluk Betung Lampung)
- MANDIRI 114 000 511 3413 (KC Bandar Lampung)
- BRI 5590-01-010972-53-8 (unit Bandar Agung Lampung)
Semua atas nama DIMAS ADITYO
- Konfirmasi : Dimas Adityo 085758894656

Rohingya
BRI : 0178 0100 6069 504 a.n Said Anshar

JazakumUllah khairal jaza
Allah Yubaarik fiikum wa fii maalikum