+10 344 123 64 77
Showing posts with label Membongkar kebusukan tokoh tokoh liberal. Show all posts
Showing posts with label Membongkar kebusukan tokoh tokoh liberal. Show all posts

Belajar dari pengalaman, jika memilih pilihlah yang muslim dibandingkan non-muslim, jika anda memegang pendapat ulama yang boleh ikut memilih pada keadaan tertentu
_______________________________
Buramnya Mata Najwa… [Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok]
Oleh: Firdaus Cahyadi
Blogger, Pemerhati Media

Islamedia – Saya termasuk penggemar acara Mata Najwa di Metro TV. Acara Mata Najwa adalah sebuah talk show yang kritis. Apalagi pemandunya adalah Najwa Shihab, perempuan yang cerdas dan seringkali membuat narasumbernya kehabisan jawaban saat dikejar pertanyaan olehnya.

Namun, kemarin malam (7/10), saya agak kaget melihat Mata Najwa dengan tema, “Para Penantang Ahok”. Semula saya memperkirakan di acara talkshow itu akan terjadi perbincangan yang lebih substantif terkait kebijakan-kebijakan Ahok sehingga beberapa orang memilih menjadi penantangnya.

Semula saya juga menduga bahwa persoalan-persoalan yang selama ini mendapat perlawanan dari publik, seperti; pembangunan 6 jalan tol dalam kota, reklamasi pantai utara Jakarta, Proyek Giant Sea Wall, penggusuran warga miskin kota, penanganan banjir, sampah akan menjadi perbincangan seru di talkshow itu. Karena dugaan itulah, saya sengaja menunda makan malam hanya untuk menunggu acara ini.

Namun, dugaan saya salah. Kali ini Mata Najwa justru seperti menghindar dari diskusi-diskusi yang bisa mencerdaskan khalayak. Mata Najwa seperti menggiring talkshow kali ini hanya membahas figur Ahok dari sisi kesantunan dalam bicara dan isu etnis serta agama. Najwa Sihab tidak mengarahkan diskusi mengenai kebijakan Ahok yang kontroversial. Seakan selama ini pihak-pihak yang menantang Ahok tidak ada yang mempermasalahkan kebijakannya. Mereka menantang Ahok karena persoalan kesantunan dalam bicara dan perbedaan etnis serta agama.

Marco Kusumawijaya, salah satu pihak yang diposisikan sebagai penantang Ahok, sempat mengangkat persoalan-persoalan yang substansial dari kota Jakarta, seperti lingkungan hidup, budaya dan keterlibatan warga dalam pengambilan kebijakan. Namun, sayang Najwa Shihab tidak begitu tertarik menggali lebih dalam persoalan-persoalan substantif pengelolaan kota Jakarta itu.

Frame (Bingkai) yang dipakai dalam talkshow Mata Najwa kali ini adalah “Tidak Ada yang Salah dalam Kebijakan Ahok di Jakarta”.

Mata Najwa kali ini gagal menggali lebih dalam, tentang kebijakan Ahok yang mendorong pembangunan 6 tol dalam kota, padahal pembangunan tol baru justru akan merangsang penggunaan kendaraan bermotor pribadi, dan akhirnya akan menambah kemacetan serta polusi udara di Ibukota.

Mata Najwa kali ini gagal menggali lebih dalam, tentang kebijakan reklamasi dan proyek Giant Sea Wall dari sisi keberlanjutan lingkungan hidup dan sosial.

Mata Najwa kali ini juga gagal menggali lebih dalam ritual penggusuran warga miskin kota yang justru dilestarikan oleh Ahok.

Dalam hati saya bertanya, kenapa Mata Najwa kali ini tidak kritis? Apakah buramnya Mata Najwa dalam episode, “Para Penantang Ahok”, terkait dengan santernya kabar bahwa Partai Nasdem siap dukung Ahok dalam Pilkada Jakarta? Entahlah.

Yang jelas pada episode ini Mata Najwa nampak buram dan tidak memberikan pencerahan ke khalayak. Mata Najwa kali ini lebih mirip acara kampanye Ahok untuk mempertahankan kekuasaannya daripada sebuah diskusi yang mencerdaskan. Sayang sekali…

(Bukti² penyimpangan dan kesesatan-bisa dikatakan kekufuran tingkat tinggi- ketua NU yang sekarang, yang terindikasi syi'ah nhc)

Said Aqil Siradj Bilang Malaikat Munkar Nakir Sampai Sekarang Belum Bisa Menanyai Gus Dur

Dalam video berikut ini pada menit ke 4.25 dan seterusnya Said Aqil Siradj bicara soal Gus Dur sebagai berikut:

https://youtu.be/lLwY4Eeeynw

Wahid Hasyim wafat punya putera di atas cerdas. Wahid Hasyim cerdas, puetranya sak nduwure ( di atas) cerdas, Kyai Haji Abdurrahman Wahid, Gus Dur, yang sampai sekarang (Malaikat) Munkar Nakir belum bisa nanyain Gus Dur. Karena di dalam hadits shahih, orang mati dimasukkan ke liang kubur pengiringnya pulang, sunyi sepi, Munkar Nakir datang, tanya man rabbuka (siapa Tuhanmu) waman nabiyyuka (siapa nabimu) dan seterusnya. Gus Dur ga’ pernah sepi kuburannya, sampai sekarang Munkar Nakir masih ngantri nunggu kapan sepine aku tak (kapan sepinya aku akan ...) sampai sekarang belum bisa.itu.

Perkataan Said Aqil Siradj ketua Umum NU itu mari kita bandingkan dengan hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits Imam Abu Daud:

حديث عثمان بن عفان رضي الله عنه قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ : ( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) رواه أبو داود (3221) ، وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص198 .

Hadits (dari) Utsman bin Affan Radhiallahu anhu, dia berkata,
“Biasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika selesai menguburkan mayat, beliau berdiri dan mengatakan,

( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) (رواه أبو داود (3221) , وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص 19)

“Mohonkan ampunan untuk saudara kalian. Dan mintakan baginya keteguhan, karena dia sekarang ditanya.” (HR. Abu Daud, 3221 dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Ahkamu Al-janaiz, hal. 198)/ http://islamqa.info/id/174715
Selain masalah berkata mengenai hal ghaib (yaitu malaikat) dengan akal-akalan yang menyelisihi hadits shahih, Said Aqil Siradj bicara pula tentang Iblis, dalam shalat.

Inilah beritanya.

***

Tidak Mau Merapatkan Shalat Seperti "Wahabi", Said Aqil Lebih Memilih Shalat Bersama Iblis (Video)

By: Syiah Indonesia on 10:05 AM

Syiahindonesia.com - Setelah menjabat menjadi Ketum PBNU, Said Aqil kembali menuai kontrovesi melalui ceramahnya yang menyatakan bahwa ia lebih senang apabila Syaitan atau Iblis ikut berjama'ah ketimbang mau merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah.

Diantara alasan sikapnya itu adalah karena merapatkan shaf dalam shalat adalah ajaran "wahabi". Padahal, kalau kita tengok beberapa hadits Rasulullah saw, ada nash yang menyebutkan bahwa diantara kesempurnaan shalat adalah rapat dan lurusnya shaf dalam berjama'ah.

Berikut beberapa hadits tentang anjuran merapikan shaf dalam shalat berjama'ah:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

”Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan sholat.”

Semakna dengannya, hadits Abu Hurairah -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- dalam riwayat Al-Bukhary (722) dan Muslim (435),

Juga sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:

وَأَقِيْمُوْا الصَّفِّ فِي الصَّلاَةِ, فَإِنَّ إِقَامَةِ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلاَةِ

“Dan tegakkanlah shaf di dalam shalat, karena sesungguhnya menegakkan shaf termasuk diantara baiknya sholat”.

Ulama Islam seperti Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dua hadits diatas sebagai berikut:

Kosa Kata Hadits:

1. Sabda beliau [luruskanlah shaf-shaf kalian] yakni, lurus dan seimbanglah dalam bershaf sehingga kalian seakan-akan merupakan garis yang lurus, jangan salah seorang di antara kalian agak ke depan atau agak ke belakang dari yang lainnya, serta merapat dan tutuplah celah-celah kosong yang berada di tengah shaf.

2. Sabda beliau [termasuk kesempurnaan sholat], yakni penyempurna sholat. Sesuatu dikatakan sempurna jika telah sempurna seluruh bagian-bagiannya, sehingga satu bulan dikatakan sempurna jika harinya sudah genap 30.

3. Sabda beliau [sesungguhnya menegakkan shaf], yakni meluruskan dan menyeimbangkannya ketika hendak mendirikan shalat berjama’ah.

4. Sabda beliau [termasuk diantara baiknya sholat]. Ibnu Baththol menjelaskan bahwa “baiknya sesuatu” adalah kadar tambahan setelah sempurnanya sesuatu tersebut.

[Lihat: Fathul Bary (2/209), ‘Aunul Ma’bud (2/259), dan Faidhul Qodir (2/537) dan (4/115-116)]

Selain itu, ada juga hadits penguat yang menjelaskan akan keharusan merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah, diantaranya:

أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (743)

Juga sabda beliau saw:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”. HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Ta’liq Ar-Roghib (1/335) cet. Maktabah Al-Ma’arif , tahun 1421 H.

Dengan demikian, ini menunjukan bahwa merapatkan shaf dalam shalat adalah sebuah anjuran yang patut dilaksanakan oleh kaum muslimin seluruhnya, dan bukan hal yang mengada-ngada. (nisyi/syiahindonesia.com)

Berikut videonya pernyataan Said Aqil yang lebih memilih shalat bersama Iblis ketimbang mengikuti ajaran "wahabi".

https://youtu.be/lLwY4Eeeynw

Sumber: nahimunkar.com

Kami Bukan Pengikut WAHABI. kami mengikuti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam... — 

By: Nandang Burhanudin
****

Di era Jokowi, semua terkuak. Penyanyi yang dahulu "kental" dengan ideologis perlawanan seperti Iwan Fals, kini sangat jelas, ideologi apa yang selama ini diperjuangkan. Sama halnya dengan Ade Armando, sosok yang cukup didengar dalam masalah kebebasan pers dan menghargai perbedaan pandangan. Namun kini menampakkan jati diri sebenarnya, bahwa dahulu ia "menampilkan kesan netral" sebab ketegasan Pak Harto yang "menghadiahi hotel prodio" bagi siapapun yang menodai agama (Islam).

Namun ocehannya di medsos, benar-benar menampilkan kebencian mendalam terhadap Islam dan umatnya. Adapun kebencian di lubuk hatinya, teramat besar. Entahlah, apakah ocehan-ocehan anehnya bagian dari strategi kaum Liberalis-Sekularis-Aliran sesat. Atau hanya "keganjenan intelektual" di tengah pesta pora kaum Islamphobia atas kemenangan Jokowi di panggung kekuasaan.

Bila di negara-negara Arab, kini marak kaum intelektual yang menjadi murtaziqoh (mercenaries/tentara bayaran), maka setali tiga uang di Indonesia pun sama. Prinsip yang dianut sama: Kencingi zamzam, engkau akan terkenal. Benci Islam sebenci-bencinya, dirimu akan kesohor. Lecehkan syariat sehina-hinanya, dirimu akan disebut intelektual handal dan disediakan media yang siap membesarkan.

Mempermasalahkan dana ibadah umroh atau haji, atau mengerdilkan Al-Qur'an, adalah bagian "proyek multinasional" yang teramat gurih. Mereka tahu, umat Islam akan bereaksi keras. Urat saraf akan tegang. Cukup untuk melupakan pelbagai sumber daya alam yang dikeruk Asing dan Aseng. Atau melupakan kebengisan penjajah berwajah pribumi yang berkolaborasi dengan penjajah berwajah China.

Ade Armando, Ulil Abshar Abdalla, Zuhairi memang diarahkan untuk melakonkan peran "bulsit" (penimbul situasi). Menciptakan suasan kebencian yang dikemas dengan jargon-jargon yang susah dimengerti. Apapun sebutannya, meracuni adalah misinya.

Jamaknya seperti di Mesir. Balatentara berbayar ini bahu membahu. Menebar jala-jala jebakan. Kebencian terus ditebar di kalangan umat Islam. Satu persatu dibenturkan. Sebagai misal. Semua elemen dirayu untuk memusuhi dan membenci IM, hingga kudeta terhadap Presiden Mursi dan IM dihabisi. Sebelum itu, mereka memecah dulu kaum Salafy. Kemudian memecah belah kalangan Al-Azhar. Semua sukses dilakukan dan Mesir kini terbelah. Menjadikan HAMAS sebagai musuh dan Israel sebagai kekasih. Ulama-ulama yang telah mengabdi lebih dari 60 tahun dan dikenal penuh dedikasi, kini dipinggirkan.

Praktik di Mesir inipun akan dilakukan di Indonesia. Membenturkan NU-Muhammadiyah, NU vs Wahabi (kelompok Islam antiSyiah). Hingga seorang Ade Armando, membabat habis aib PKS, partai yang dikenal khalayak sebagai partai yang lahir dari rahim gerakan Islam yang masih eksis. Ade Armando menutup mata atas kejahatan-kejahatan BIG, SUPER, dan MAHA yang dilakukan partai berbasis Islam lainnya. Bahkan sama sekali tidak pernah kritis terhadap kejahatan terstruktur, massif, dan terencana dari partai Nasionalis-Kristen seperti PDIP atau parpol lainnya.

Ade Armando lupa, bahwa sebagai muslim, dirinya sepatutnya paham bahwa dalam Islam ada pintu taubat nashuha. Toch pada kenyataannya, sosok seperti LHI, Arifinto, jika pun pernah melakukan kesalahan. Mereka bisa jadi kini tengah menjalani pembersihan diri atas kekhilafan dan salah yang pernah dijalani. Lalu bagaimana dengan koruptor-koruptor MEGAskandal lainnya, yang kini "cuap-cuap" sebagai manusia suci? Apakah yakin mereka tidak menikmati video porno atau terbebas dari perzinahan? (bukan nikah halal seperti yang dilakukan LHI).

Silahkan anda mencibir apapun terhadap tulisan di atas. Namun pada faktanya, kehadiran Islam di panggung kekuasaan memang dihalangi. Levni, mantan menteri Kehakiman Israel dan Moshe Dayan mantan Menhan Israel menegaskan, "Tugas kami adalah menghalangi siapapun dari kalangan Islamis, agar tidak meraih kekuasaan di manapun."

Tokoh JIL;  Zuhairi Misrawi.
JAKARTA– Dalam seminar nasional Ahlul Bait Indonesia (ABI) di Gedung Sucofindo Jakarta (08/11/2013), dengan tema “Kepahlawanan dan Nasionalisme Untuk Manusia Indonesia Seutuhnya; Peringatan Hari Pahlawan Nasional dan Asyuro Imam Husein”, Zuhairi Misrawi sebagai salah satu panelis mengeluarkan pernyataan kontroversial.
“Orang-orang Israel Yahudi mengambil Mekkah boleh-boleh saja, karena dulu di Mekkah dan Madinah ada banyak gereja dan sinagog,” ujarnya yang kerap melontarkan ide-ide liberal itu.
Masih dalam kesempatan yang sama, Zuhairi juga menjelaskan bahwa Husein ra. yang wafat sebagai martir di Karbala adalah wujud amar ma’ruf nahi munkar.
Mengutip statement yang disandarkannya pada nabi Muhammad SAW, bahwa perjuangan tertinggi adalah perjuangan melawan nafsu pribadi. Sebab perjuangan melawan musuh di luar Islam sudah selesai.
Menutup pembicaraannya, Zuhairi mengatakan dengan gamblang bahwa dirinya dengan Syiah adalah bersaudara.
“Saya dengan Syiah ini bersaudara, setiap saya tahlillan saya mendoakan ahlul bait, dan Saya tahlilan ini lima kali sehari,” tutup caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) disambut tepuk tangan hadirin.
(Islampos/arrahmah.comSamir MusaSabtu, 5 Muharram 1435 H / 9 November 2013 07:34
***

Cinta Yahudi dan Syiah?

Zuhairi Misrawi tampaknya berbicara untuk menyenang-nyenangkan Syiah dan Yahudi. Syiah sudah bernafsu unmtuk merebut Makkah sejak beberapa waktu yang lalu.
Inilah beritanya.
(nahimunkar.com)

Kader Ali Moertopo

Menjelang tahun 1959, dan di tahun 1960, IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jogjakarta merekrut tenaga pengajar lulusan Pakistan bernama Moekti Ali. Cara pandang Moekti Ali terhadap Islam sangat berbau Ahmadiyah.

Kemudian hari bergabung pula sebagai tenaga pengajar, seorang yang berpikiran sekuler tamatan Universitas di Canada bernama Harun Nasution.

Di tahu-tahun sekitar itu sejumlah mahasiswa yang kelak menjadi kader Ali Moertopo, Kepala Opsus Operasi Khusus Bakin) menjadi mahasiswa IAIN yaitu Kafrawai (Ridwan) dan Zarqowi Suyuthi. Kedua nama ini kemudian menduduki jabatan teras Departemen Agama dan ‘berjasa’ besar untuk merontokkan Ruh IAIN yang asli dan berganti dengan Ruh ‘bohong-bohongan’.

Seluruh nama-nama tersebut di atas bekerja keras menyimpangkan IAIN dari cita-cita semula.

Yang dijadikan jargon untuk memperoleh dukungan atas tujuan mereka itu adalah “De-NU-nisasi”.

Seperti diketahui, partai Masyumi bubar tahun 1960, dan sejak itu pengendalian IAIN di bawah Departemen Agama yang menterinya selama beberapa periode dijabat tokoh dari partai NU (Nahdlatul Ulama).

Sampai dengan munculnya Moekti Ai sebagai menteri agama pada tahun 1972, khittah IAIN tidak berubah. Hanya saja condong ke NU. Tapi sejak Moekti Ali duduk bersila di departemen agama, wajah IAIN dirubah bertahap bahkan pada akhirnya ‘Ruhnya’ “diketok-magic”sehingga sosok dan jiwa IAIN tidak menjadi jelas bagi khalayak ramai. Mau dikata sebagai kawah chandradimuka penggembleng Gatutkaca-Gatutkaca bernafas Islam, tahunya yang muncul “Durna-Durna” alias Kombayana dan Sengkuni yang kerjanya merongrong Islam seperti Harun Nasution, Djohan Effendi, dan Nurcholish Madjid yang kemudian hari disusul dengan kader-kadernya yang “otak-otakan” seperti Azyumardi Azra dan Lutfie Assyaukani.

Sempurnalah padamnya ‘Ruh’ Islam dari IAIN ketika seorang “mudzabdzab” bernama Munawir Sjadzali menjabat menteri agama (selama dua periode, sepuluh tahun, 1983-1993, Red NM). Hukum Faraid (waris Islam, red) mau dirubahnya padahal nyata-nyata ketentuan Faraid diatur Quran.

Munawir pengasas perubahan IAIN menjadi UIN (Universitas Islam Negeri).

Di zaman Munawir inilah terjadi pengiriman besar-besaran sarjana IAIN bersekolah ke Australia, Canada, dan Amerika Serikat. Expatriat ini kemudian menjadi dosen IAIN, dan sebagian dari mereka jadi “tukang kepruk” yang bengis terhadap Islam.

(Catatan HAJ- wartawan Harian Pelita: dr Tarmizi Taher Menteri Agama pelanjut Munawir ketika berkunjung ke Jogjakarta untuk menjenguk Dr Kunto Wijoyo ilmuwan budayawan yang sedang sakit, tidak lupa beliau mengunjungi mantan Menteri Agama Moekti Ali. Begitu beliau sampai dan bersalaman dengan Moekti Ali lalu duduk, langsung Moekti Ali menekankan agar pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat dilanjutkan. Dan saat kunjuang mau berakhir, begitu dr Tarmizi Taher pamit dan bersalaman untuk pulang, ditegaskan lagi oleh Moekti Ali ke wajah dr Tarmizi Taher, agar pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat dilanjutkan).

IAIN berubah jadi UIN dan ini bukan perubahan nama saja, tapi juga substansi. UIN meliputi fakultas-fakultas: 1. Science Teknologi, 2. Sosial Humaniora, 3. Tarbiyah, 4. Syariah, 5. Ushuluddin, 6. Dakwah, 7. Adab. (catatan: selanjutnya kabarnya ada Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, ada Ekonomi Islam, Red).

Tendensi akhir-akhir ini fakultas nomor 1 dan 2 mendapat minat yang sangat tinggi, fakultas nomor 3 dan 4 masih diminati. Fakultas nomor 5, 6, dan 7, makin merosot peminatnya.

Jika peminatnya makin merosot maka besar kemungkinan pada suatu hari fakultas nomor 5, 6, dan 7 akan ditutup. Hal ini sesuai dengan prinsip kemandirian, keuangan universitas-universitas negeri.

Perubahan IAIN menjadi UIN merupakan bahagian dari suatu skenario besar menghancurkan Islam.

Tampaknya melihat sukses besar yang dicapai dalam menghancurkan IAIN maka sasaran sekarang mulai dialihkan ke pesantren-pesantren.

Wapres Yusuf Kalla (Desember 2005, Red SI), hari-hari terakhir ini tidak bosannya mengkaitkan fenomena terorisme dengan keberadaan pesantren. Pesantren terus menerus dibidik dalam retorika Wapres. Pesantren yang bermasalah dan kini sudah ditutup, di Malaysia, tetapi (kenapa) pesantren Indonesia yang mau diobrak abrik. (Itu ibrat) Orang Betawi bilang: “Nenggak arak di mane mabok di mane?”

Hidup adalah perjuangan. Ini tantangan mutakhir yang harus dihadapi umat Islam dengan sabar dan pikiran yang jernih. (Tulisan ini adalah bagian penutup dari makalah “Kau Apakan Lagi IAIN-Ku Ini?”, oleh Ridwan Saidi, Reprint Media Dakwah edisi 361Desember 2005, dimuat Tabloid Suara Islam, Edisi 197 Tanggal 22 Jumadil Awal -6 Jumadil Akhir 1436H/ 13-27 Maret 2015, halaman 13).

***

Kamis, 21 Jumadil Ula 1436H / March 12, 2015