+10 344 123 64 77

Atas nama paham kebebasan (liberalisme), engkau boleh-boleh saja menyatakan pendapat. Dan atas nama kebebasan pula kami juga boleh-boleh saja menyanggahnya.

Atas nama kebebasan, engkau bisa saja melakukan ajaran agama dan berpemahaman sekehendakmu. Dan atas nama kebebasan, kami juga boleh mengingatkanmu pada pemahaman yg benar.

Atas nama kebebasan, engkau boleh saja berkiblat ke Barat, Timur, Selatan bahkan Utara. Dan atas nama kebebasan, kami juga boleh hanya berkiblat kepada syari'at-Nya dan mengajak kalian turut serta.

Atas nama kebebasan, engkau boleh saja bermaksiat. Dan atas nama kebebasan, kami juga boleh memperingatkanmu, mendakwahimu, dan jika engkau tetap melanggar, kami boleh saja menghukummu.

Jika kalian keberatan, artinya kalian tidak sepenuhnya berpaham kebebasan (liberalisme).

Syeikh Ali Jaber meluruskan beberapa pemahaman yang keliru tentang tata cara pelaksanaan ibadah Qurban. Dalam sebuah kesempatan beliau berceramah di mesjid Ar-Rahim, Menara 165 ESQ, Jakarta, tepatnya pada 03 Oktober 2014 yang lalu.

Ada tiga hal yang beliau sorot yaitu tentang jumlah qurban per-orang, memakan daging qurban dan pembayaran ongkos penyembelihan dengan kulit hewan qurban.

1. Jumlah Qurban

Persoalan pertama yang beliau luruskan adalah tentang jumlah qurban. Ada pemahaman yang berkembang di masyarakat, satu orang wajib berkurban dengan satu ekor kambing. Apabila dalam sebuah keluarga ada lima orang anak, maka menjadi genap tujuh orang sehingga wajib berkurban dengan 1 ekor sapi (konversi dari 7 ekor kambing). Jika tidak mampu, maka bisa berqurban dengan kambing dahulu, misal tahun ini mampu 1 ekor kambing atas nama istri, tahun depan atas nama anak, demikian seterusnya hingga seluruh anggota keluarga sudah dijatah per 1 ekor kambing.

"Ini hal keliru! Qurban berbeda dengan Aqiqah dan Zakat Fitrah yang dihitung perorang. Qurban hitungannya perkeluarga bukan perorang. Ketika nabi Ibrahim AS hendak sembelih Ismail, diganti dengan 1 ekor kambing oleh Allah SWT, padahal Ibrahim beserta 2 istri dan 2 anak harusnya lima ekor. Demikian juga Nabi Muhammad SAW, berkurban dengan 2 kambing. Pada kambing pertama beliau berkata 'Bismillah atas nama Muhammad dan keluarga Muhammad'. Lalu pada kambing kedua beliau berkata 'Atas namaku dan ummatku'. Padahal berapa jumlah istri dan anak serta umat beliau?" kata Syeikh Ali menjelaskan.

"Kewajiban itu tidak lebih dari 1 ekor kambing. Jika mampu 1 sapi atau 1000 sapi silahkan, karena tidak ada larangan atas kemampuan. Misalnya seorang bapak dengan seorang anak berqurban dengan 1 kambing, sah. Dengan 1 sapi silahkan. Seorang bapak dengan 4 orang istri dan masing-masing 10 orang anak hendak berqurban, wajib dengan 1 kambing saja untuk 45 orang sekeluarga. Jika mampu 1000 kambing atau 1000 sapi, boleh, silahkan," lanjut Syeikh menambahkan penjelasannya.

Tentang nama-nama yang disebut saat penyembelihan, Syeikh Ali mengatakan tidak ada kewajiban atas hal tersebut. Karena hakikatnya menyebut atas nama keluarga sudah mencakup seluruh anggota keluarga termasuk orang tua yang sudah meninggal dunia.

"Bismillah atas namaku dan keluarga. Tidak perlu membawa nama-nama. Atas namaku dan keluarga sudah termasuk orang tua yang meninggal. Ada sebagian ulama membolehkan, kalau kita mampu dan mau khusus, kambing atas nama orang tua, tidak masalah. Kalau tidak mampu, maka 1 ekor sudah termasuk keluarga dan orang tua kita. Ini adalah salah satu sedekah yang berguna bagi orang tua yang meninggal di keluarga kita," katanya.

2. Makan Daging Qurban

Persoalan kedua yang beliau sorot adalah sunnah yang mulai hilang yaitu banyak yang tidak mau makan dari hasil qurban. Sebagian besar masyakarat tidak mau memakan daging qurban dengan alasan ingin disedekahkan semua untuk fakir miskin.

"Padahal ini adalah sunnah Rasul seperti dalam aqiqah. Rasululullah membagi qurban menjadi tiga, pertama dihadiahkan kepada orang kaya untuk silaturrahim, kedua disedekahkan untuk orang miskin, dan yang ketiga untuk diri sendiri. Bahkan Rasulullah SAW sebelum shalat 'Ied berpuasa, lalu membatalkannya sesudah shalat dari hasil sembelihan hewan qurban," kata Syeikh Ali.

Beliau menekankan bahwa daging qurban yang ingin disedekahkan semua tidak masalah, namun mengajak jamaah agar sesekali menghidupkan sunnah Rasul dengan memakan daging qurban.

3. Pembayaran Dengan Kulit dan Kepala

Persoalan ketiga yang beliau sorot adalah maraknya pembayaran ongkos penyembelihan hewan qurban dengan kulit dan kepala, padahal tidak dibenarkan.

"Tidak boleh pembayaran hasil sembelihan dari kulitnya. Banyak tukang sembelih datang, ketika kita tawarkan untuk sembelih dan tanya berapa, 'ndak papa kasi aja kulitnya sama kepalanya'. Jangan anda setuju dan terima," kata beliau menegaskan.

"Qurban itu lillahi ta'ala bukan jual beli. Kalau sudah dijual berarti bukan qurban karena tidak lillahi ta'ala," tambahnya.

Beliau memberikan jalan keluar dengan terlebih dahulu menjelaskan akad awal dengan tukang sembelih terutama berapa ongkos atau biaya yang diminta. Sedangkan kulit dan kepala bisa diberikan sebagai hadiah.

"Ijab kabul. Tentukan, misal ongkos sembelihan 50 ribu. Jika setuju, selesai! Jika sesudah penyembelihan kita berikan ongkosnya dan tambahkan kulit dan kepala sebagai hadiah, tidak masalah. Tetapi bukan untuk bayar sembelihan. Jadi harus dibedakan," kata beliau.

Beliau juga menegaskan bahwa amalan ibadah qurban bisa tidak diterima Allah, jika sebagian dari hasil sembelihan dijadikan pembayaran atau ongkos.

Syeikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber, adalah salah seorang Imam di Mesjid Madinah. Beliau menyelesaikan 30 juz hafalan Al-Qur'an pada usia 11 tahun di Madinah. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan dengan mengaji kepada para Syeikh di Mesjid Nabawi.

Wallahu a'lam bish showab. 

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Bertahun-tahun silam pernah diadakan diskusi antara seorang Ustadz dari PP Persis Bandung dengan Jalaluddin Rahmat (tokoh Syiah asal Bandung). Dalam makalahnya, Ustadz Persis itu tanpa tedeng aling-aling membuat kajian berjudul, “Syiah Bukan Bagian dari Islam”.

Ketika sessi dialog berlangsung, Ustadz Persis itu -dengan pertolongan Allah- mampu mematahkan argumen-argumen Jalaluddin Rahmat. Kejadiannya mirip, ketika dilakukan diskusi di Malang antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz-ustadz Persis Bangil; ketika merespon lahirnya buku Islam Aktual, karya Jalaluddin Rahmat.

Ada satu momen penting menjelang akhir diskusi di Bandung itu. Saat itu Jalaluddin mengatakan, “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?” Nah, atas pernyataan ini, tidak ada tanggapan serius dari para Ustadz di atas.
Ternyata, Mereka Masih Butuh Tanah Suci (Makkah & Madinah).
Dan ternyata, kata-kata serupa itu dipakai oleh Prof. Dr. Umar Shibah, tokoh Syiah yang menyusup ke lembaga MUI Pusat. Ketika kaum Syiah terdesak, dia mengemukakan kalimat pembelaan yang sama. “Kalau Syiah dianggap sesat, mengapa mereka masih boleh berhaji ke Tanah Suci?”
Lalu, bagaimana kalau pertanyaan di atas disampaikan kepada Anda-Anda semua wahai, kaum Muslimin? Apa jawaban Anda? Apakah Anda akan memberikan jawaban yang tepat, atau memilih menghindar?
Sekedar catatan, konon dalam sebuah diskusi antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz M. Thalib (sekarang Amir MMI). Saat disana ada kebuntuan argumentasi, katanya Ustadz M. Thalib menantang Jalaluddin melakukan “diskusi secara fisik” di luar. Ya, ini sekedar catatan, agar kita selalu mempersiapkan diri dengan argumen-argumen yang handal sebelum “bersilat” pemahaman dengan orang beda akidah.
Mengapa kaum Syiah masih boleh masuk ke Tanah Suci, baik Makkah Al Mukarramah maupun Madinah Al Munawwarah?
Mari kita jawab pertanyaan ini:

PERTAMA, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.

KEDUA, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.

KETIGA, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.

KEEMPAT, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.

KELIMA, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.

KEENAM, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.

KETUJUH, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.

KEDELAPAN, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.

KESEMBILAN, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”

Demikian sebagian jawaban yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat. Pesan spesial dari saya, kalau nanti Prof. Dr. Umar Shihab, atau Prof. Dr. Quraish Shihab (dua tokoh ini saudara kandung, kakak-beradik; bersaudara juga dengan Alwi Shihab, Mantan Menlu di era Abdurrahman Wahid), beralasan dengan alasan tersebut di atas; mohon ada yang meluruskannya. Supaya beliau tidak banyak membuang-buang kalam, tanpa guna.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Abahnya Syakir].
Pemeluk Syiah memiliki rekam jejak buruk dalam sejarah pelaksanaan Ibadah Haji, mereka kerap kali melakukan kekacauan yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa dari umat Islam yang sedang menunaikan Ibadah Haji.
Berikut ini 6 Peristiwa kekacauan yang dilakukan Syiah dalam sepanjang sejarah:
1. Tahun 293 H,  Syi’ah Qaramithah menyerang Kufah, membakar seluruh kabilah Arab Bani Abd al-Qais, dan melakukan aksi pembantaian yang cukup mengerikan.
2. Tahun 312 H, di bawah pimpinan Abu Thahir al-Qarmathi pemeluk Syiah menyerang kafilah yang baru menunaikan Ibadah haji dari Makkah. Mereka membunuhi kaum lelaki dan menawan kaum wanita. Meramapas harta mereka yang lebih dari 1 juta dinar. (Ibn Katsir al-Syafi’i, AL-Bidayah wa al-Nihayah, juz XI, h. 149).
3. Tahun 317 H, Abu Thahir al-Qarmathi sampai ke Makkah pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Dia dan tentaranya membantai para jamaah haji dan mu’tamirin di sekitar Ka’bah, baik mereka yang sedang thawaf, maupun mereka yang bergelantungan di kelambu Ka’bah.
Merampas harta mereka. Dan bukan cuma itu, mereka juga mencabut Hajar al-Aswad dari Ka’bah, dan membawanya ke Kerajaan mereka, dan tetap berada di sana sampai 335 H ( selama + 18 tahun).
(Ibn Katsir al-Syafi’i, AL-Bidayah wa al-Nihayah, juz XI, h. 160).
4. Tahun 1406 H: Jama’ah haji Iran turun di Jeddah. Setelah melalui pemeriksaan, ternyata kebanyakan jama’ah yang berjumlah 500 orang, menyembunyikan bahan peledak C4 di bagian bawah tas. Kemudian bahan peledak tersebut dikumpulkan dan mencapai berat 150 Kg.
5.Tahun 1407 H.Hizbullah bekerja sama dengan Garda Revolusi Iran, dan didukung oleh Jama’ah haji Syiah dari Saudi, mengadakan demonstrasi besar-besaran di Makkah al-Mukarramah, pada musim haji 1407 H. Hasilnya, 402 orang wafat, 85 di antaranya adalah petugas keamanan.
Akibat dari kerusukan ini menyebabkan puluhan bangunan hancur, ratusan wanita, anak-anak, dan orang tua terinjak-injak , dan ratusan ribu jama’ah haji terhambat melaksanakan manasik.
6.Tahun 1409 H. Anggota Hizbullah-Saudi bekerjasama dengan Syi’ah Kuwait melakukan aksi peledakan bom di Kota Makkah.Bahan peledak mereka peroleh dari pejabat (Syi’ah) Kedubes Kuwait di Saudi. Para pelaku diangkat sebagai pahlawan oleh kaum Syi’ah.

Rahmatan lil alamin
Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Tidak lama setelah Nabi wafat umat Islam “mengusir” tentara Romawi dan “menduduki” Syria. Di zaman Umar Ibn Khatab kekaisaran Persia “ditaklukkan” dan Palestina “dikuasai”. Pada awal abad ke delapan Spanyol dibawah kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth “ditundukkan” oleh Tariq bin Ziad. Di Mesir Muslim dibawah komando Amr bin al-As “memukul mundur” pasukan Byzantium dan “mengusai” orang-orang Kristen Coptic. Pada abad ke 15 Konstantinople, salah satu bagian dari kekaisaran Romawi “ditaklukkan” panglima muda al-Fatih. Di dunia Melayu umat Islam “mengusir” kepercayaan animism, dinamisme dan agama-agama kultural lainnya.

Istilah-istilah mengusir, menduduki, menaklukkan, menguasai, mendesak dan sebagainya adalah bahasa politik dan bersifat negatif. Tapi apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kesan itu. Sebab ketika Islam masuk Syria orang-orang Kristen yang merasa selamat dari Romawi dan Yunani. Michael the Elder, Patriach dari Jacobus mengakui “Tuhan telah membangkitkan putera-putera Ismail dari Selatan (maksudnya Muslim) untuk menyelamatkan kita dari Romawi”.

Ketika pasukan Muslim dibawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, pendukuk Kristen setempat menulis surat kepadanya. Isinya “kami lebih bersimpati kepada suadara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami… Pemerintah Islam lebih adil daripada pemerintah Byzantium”.

Pada waktu Umar memasuki Yerussalem ia menandatangai perjanjian. Diantara isinya:”…gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, ….salib-salib atau harta mereka tidak akan diganggu…dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya”. Orang tidak pernah konflik dengan umat Kristen. Justru konflik antar sekte di di Gereja Holy Sepulchre, atau the Church of the Resurrection didamaikan orang Islam.

Abdul Aziz Marwan Gubernur Mesir memberi izin orang-orang Kristen pegawai istana untuk mendirikan gereja di Halwan. Di Andalus Islam, Kristen dan Yahudi hidup damai bertahun-tahun. Seorang specialist sastra Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa Mencoal dalam karyanya berjudul The Ornament of the World (2003) berterus terang. Ia menulis "Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non-Muslim lebih baik daripada dibawah Kristen Eropah”. Tapi berakhirnya kekuasaan Islam, berakhir pula toleransi itu.

Jika fakta-fakta ini dicermati, istilah menguasai, menaklukkan, mengusir dan bahkan menjajah tidak layak untuk dipakai. Yang lebih cocok, sesuai dengan namanya, Islam ‘menyelamatkan’ atau ‘membebaskan’ bangsa-bangsa tertindas. Maka tidak heran jika Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menyatakan:” Kemenangan kaum Muslimin berarti kebebasan beragama (bagi non-Muslim), sesuatu yang telah berabad-abad mereka dambakan”. Anehnya Bernard Lewis menganggap toleransi dalam Islam tidak ada asal usulnya.

Rahmat Islam yang lain ada dalam keseluruhan ajarannya. Syariatnya menjaga jiwa, keturuan, agama, harta dan akal manusia dari kehancuran. Ritual peribadatannya menyentuh aspek jiwa dan raga, aspek sosial dan individual, aspek spiritual dan material. Prinsip hidupnya seimbang tidak materialistis dan tidak spiritualistis, tidak melulu dunia atau melulu kherat. Sayyid Qutb mensifatinya dengan istilah tawazun. Penghargaannya pada orang kaya dan orang miskin, wanita dan laki-laki sama meski tidak harus memakai teori gender dan diklaim sosialistis atau feministis.

Konsep tuhannya “transenden” artinya jauh dan tak terjangkau. Tidak serupa apapun, karena itu tidak bisa diberhalakan. Tapi juga “immanen”, lebih dekat dari urat nadi kita. Dan yang terpenting Allah dalam Islam bersifat Alim (Maha Tahu). Karena itu wahyu yang diturunkanNya sarat dengan perintah berfikir dan mencari ilmu. Dari kitab suci itu pula lahir berbagai disiplin ilmu. Ulum al-Qur’an, Tafsir, Hadith, Fiqih, Kalam, tasawwuf, mawarith, Nahwu dan Sarf lahir dari sebab memahami al-Qur’an.

Inilah rahasianya mengapa umat Islam menjadi rahmat dunia dengan ilmu. Dengan ilmu dan iman khazanah ilmu pengetahuan Yunani, Persia, India, Mesir dan sebagainya dihidupkan. Dari India Muslim menemukan angka nol. Asas bagi matematik dan ilmu computer masa kini. Di Persia Ibn Syatir mengembangkan astronomi yang buku-bukunya menginspirasi Copernicus menemukan teori heliosentrisme. Di Baghdad Ibn Haitham menemukan teori optic, tanpa teori ini camera tidak akan pernah wujud.

Di zaman Umayyah di Spanyol dan Abbasiyah di Baghdad budaya ilmunya sangat tinggi. Di Cordoba saja terdapat 75 perspustakaan. Lebih ramai dari mall di zaman postmodern. Di Baghdad koleksi seorang ulama mencapai 400.000 judul buku. Menjadi ulama lebih bergengsi daripada menjadi pengusaha. Inilah peradaban ilmu.

Tapi ilmu bukan sekedar ilmu, tapi juga menjadi amal alias teknologi. Di Spanyol irigasinya waktu itu tercanggih di dunia. Hasil panennya memberi makanan orang Spanyol yang kelaparan dan tertindas. Tata kotanya tidak ada duanya di Eropah. Menurut Tertius Chandler dalam, Four Thousand Years of Urban Growth: An Historical Census populasi Cordoba waktu itu sekitar 500.000, mengalahkan Konstantinopel. Kemakmurannya mengalahkan penduduk Eropah. Sain dan teknologi yang lahir karena inspirasi al-Qur’an dan kecerdasan jiwa-jiwa yang beriman dan bertawhid. Itulah “misykat” kehidupan.

Tauhid inilah yang digambarkan dalam surah Ibrahim (24-25) sebagai “kalimat tayyibah” (kalimat yang baik), dan peradaban ilmunya sebagai “syajarah tayyibah” (pohon yang baik). Pohon itu memberi makan atau menghidupi orang pada setiap musimnya, dengan izin Tuhannya. Tujuannya satu “agar mereka ingat” nikmat Tuhannya. Tapi begitulah manusia, banyak yang telah memakan buah (baca rahmat) peradaban Islam dan banyak yang tidak ingat. Allah Maha Benar.

Ternyata banyak mitos menyesatkan seputar daging kambing. Padahal menurut para ahli, daging kambing adalah alternatif sehat selain daging sapi dan ayam, karena memiliki total kalori, lemak, dan kolesterol yang lebih rendah.

Jadi dalam rangka Idul Adha, di mana banyak daging kambing di sekitar kita, namun justru banyak orang yang tak berani makan, semoga artikel berikut ini cukup mencerahkan.

* * *

Fakta Nutrisi dalam Daging Kambing

DAGING kambing, yang mengandung 63 persen daging merah, dikonsumsi oleh banyak masyarakat di seluruh dunia. Tidak hanya dijadikan bahan makanan alternatif, di banyak negara di dunia, kambing sering menjadi menu masakan utama .

Menurut para ahli, daging kambing adalah alternatif sehat selain daging sapi dan ayam, karena memiliki total kalori, lemak, dan kolesterol yang lebih rendah. Berikut ini fakta yang diteliti oleh Alabama Cooperative Extension Service (ACES), seperti dikutip dari Aces.edu, Minggu (5/10/2014).

Kalori dan Lemak
Setiap tiga ons porsi daging kambing mengandung 122 kalori, dibandingkan daging sapi yang memiliki 179 kalori dan ayam dengan 162 kalori. Daging kambing memiliki 2,6 gram lemak per tiga ons, atau sepertiga dari lemak sapi yang memiliki 7,9 gram lemak dan kira-kira setengah 6,3 gram lemak ayam. Dengan demikian, satu porsi daging kambing hanya 4 persen dari total lemak harian berdasarkan diet 2.000 kalori.

Lemak Jenuh
Masih dengan tiga ons daging kambing per porsi, daging kambing hanya mengandung 0.79 gram lemak jenuh, daripada 3,0 gram lemak jenuh dari daging sapi dan 1,7 gram dari ayam. The US Food and Drug Administration merekomendasikan masyarakat untuk mengonsumsi lemak jenuh kurang dari 20 gram setiap hari. Daging kambing adalah alternatif terbaik untuk jantung Anda.

Kolesterol dan Besi
Jika kadar kolesterol menjadi perhatian Anda, daging kambing dapat menjadi alternatif yang bergizi. Tiap tiga ons kambing mengandung 63.8 miligram kolesterol. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dari daging sapi yang memiliki 73.1 miligram dan 76 miligram kolesterol pada ayam. Makan kambing juga dapat menambah zat besi yang bagus untuk darah Anda, sebab daging kambing mengandung 3,2 miligram zat besi per tiga ons. Ini mengalahkan daging sapi yang memiliki 2,9 miligram zat besi dan ayam yang hanya memiliki 1,5 miligram.

Protein
Daging hewan merupakan sumber protein yang lengkap, yang mengandung delapan asam amino yang tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh Anda. Bahkan, 3 ons kambing memenuhi 46 persen dari kebutuhan dasar harian protein manusia. Banyak orang berjuang untuk menyeimbangkan protein dan lemak dalam dalam daging. Daging kambing memiliki 23 gram protein yang sebanding dengan satu porsi daging sapi juga ayam yang memiliki 25 gram protein. (ren)

Sumber tulisan: http://lifestyle.okezone.com/read/2014/10/05/481/1048378/fakta-nutrisi-dalam-daging-kambing

Selasa 15 September kemarin Jawa Pos National Network [ JPPN ] memuat berita yang memuat foto selfie Erdogan dengan background tentara yang sedang mengusung peti jenazah.
Erdogan menyedihkan? Tidak
Yang menyedihkan adalah redaksi Jawa Pos.

Foto ini sejatinya di ambil dari majalah Nokta di Turki. Majalah humor satire yang seringkali menerbitkan foto editan untuk bahan tertawaan tanpa memperhatikan etika. Dan kabar terakhir, editor majalah Nokta sudah ditangkap.

Media sekelas Jawa Pos dengan mudahnya mengunggah berita seperti ini, padahal mereka akan dg mudah menemukan asal muasal foto ini jika mau.

Bisa jadi setelah di kalrifikasi mereka hanya menjawab "maaf, wartawan kami teledor", padahal berita ini di baca ratusan ribu pelanggan setianya. Dan yang pasti, oplah nya meningkat drastis.

Apakah ini ekspresi mereka tentang erdogan?
Atau memang JPPN tak ada beda dengan Nokta?

*foto diambil dari page Sahabat Erdogan*

Sufi mengecam orang yang menyembah Allah karena menginginkan surga dan takut neraka. Menurut mereka hanya boleh menyembah Allah karena cinta kepada Allah. Oleh karena itu seorang sufi, Rabiatul ‘Adawiyah berkata, “Ya Allah jika aku menyembahMu karena ingin surga, maka tutup pintu surga bagiku. Jika aku menyembahMu karena takut neraka, maka buka pintu neraka untukku” Itu adalah sifat sombong dan riya. Dalam Islam kita diajarkan untuk mencintai Allah dan Rasulnya di atas yang lain termasuk diri kita sendiri. Meski demikian kita juga diperintahkan untuk berharap akan surga dan takut api neraka.

Mereka membatasi ibadah hanya pada aspek al-mahabbah (kecintaan) saja dengan mengenyampingkan aspek-aspek lainnya, seperti aspek al-khauf (rasa takut) dan ar-raja` (pengharapan), sebagaimana terlihat dalam ucapan beberapa orang ahli tashawwuf: "Aku beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, bukan karena aku mengharapkan masuk surga, dan juga bukan karena takut masuk neraka". (!?)

Memang benar, aspek al-mahabbah merupakan landasan ibadah. Akan tetapi, ibadah itu tidak hanya terbatas pada aspek al-mahabbah saja, seperti persepsi orang-orang ahli tashawwuf. Karena, ibadah itu memiliki banyak jenis dan aspek yang melandasinya selain aspek al-mahabbah, misalnya aspek al-khauf, ar-raja`, adz-dzull (penghinaan diri), al-khudhû` (ketundukkan), do'a, dan aspek-aspek lainnya.

Salah seorang ulama Salaf berkata: "Barang siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan kecintaan semata, maka dia adalah seorang zindiq (kafir). Barang siapa yang beribadah kepada Allah l dengan pengharapan semata, maka dia adalah seorang Murji'ah. Barang siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan ketakutan semata, maka dia adalah seorang Haruuriyyah (Khawarij). Dan barang siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan, maka dialah seorang mukmin sejati dan muwah-hid (orang yang bertauhid dengan benar)".

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla memuji sifat para nabi dan rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sa;;a, yang mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan perasaan takut dan berharap, dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap siksaan-Nya.

a. Allah berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ () وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” [QS. Al-hijr: 49-50]

Allah juga berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” [QS. Al-A’raaf: 56]

Maka dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya -dan doa itu adalah ibadah- karena takut dari neraka-Nya dan berharap akan surga-Nya dan hendaknyalah seorang muslim itu antara takut dan harap sehingga akan seimbang perikehidupan pelajar dan akan baik keadaannya.

b. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah berdoa:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Ayat-ayat dan hadits ini adalah bantahan terhadap orang-orang sufi yang mengatakan bahwa mereka itu beribadah kepada Allah tidak mengharap surga-Nya dan tidak takut kepada neraka-Nya. Seolah-olah mereka tidak mendengar Al-Qur’an dan hadits yang telah disebutkan di muka.

Oleh: Khairil Miswar

Banda Aceh, 10 September 2015

Idrus Ramli. Foto hidayatullah.com
Idrus Ramli “cintaku”, ... aku berharap agar engkau tidak lagi “mengusik” kebersamaan kaum muslimin di tanah kami (Aceh). Biarkan Aceh kami hidup damai. Kami sudah lelah berperang. Pergilah, pergilah, dan pergilah engkau, pulang ke “negerimu”.
Tulisan ini aku tujukan ke hadapan Yang Mulia Kiyai Haji Muhammad Idrus Ramli Hafizahullah. Anggap saja tulisan ini sebagai “surat cintaku” kepadamu. Bukannya aku tidak mengenal kantor Pos, bukan pula aku tak punya ongkos, tapi sengaja kutulis surat ini di sini, agar saudara-saudaraku dan juga saudara-saudaramu dapat membaca surat ini. Meskipun surat ini kutujukan kepadamu, tapi tidak ada secuil rahasia pun dalam surat ini.

Idrus Ramli yang dirahmati Allah, sebelum berpanjang kalam, izinkan aku untuk memperkenalkan diriku padamu. Bukan berarti aku begitu penting untuk engkau kenal, tapi aku hanya menjalankan firman Tuhanku, bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Sama halnya seperti dikau yang tak mengenal diriku, pada hakikatnya aku pun tidak mengenal dirimu, aku cuma tahu sedikit saja tentang dirimu. Baiklah, perkenalkan, Aku ini orang Aceh yang lahir di Aceh dan bernenek-moyang Aceh.
Idrus Ramli yang berbahagia, kemarin (10 September 2015) orang-orang di “negeriku” telah melaksanakan satu acara yang mereka sebut sebagai “Parade Ahlussunnah Waljama’ah”.

Dalam surat ini, aku tak hendak mengomentari acara tersebut, tersebab aku tahu bahwa itu adalah hak mereka sebagai warga negara. Mereka mau buat parade, karnaval, maraton, jalan santai atau apapun namanya, itu tidaklah menjadi urusanku. Cuma saja, aku “dengar-dengar”, dikau turut hadir dalam acara itu.

“Sayangku” Idrus Ramli, aku menulis surat ini singkat saja, karena aku tahu engkau tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama membaca surat ini. Aku sangat paham akan jadwalmu yang “super sibuk”, hari ini engkau diundang ke Aceh, mungkin besok lusa engkau di undang ke Papua. Kesibukanmu dapat kumaklumi karena engkau adalah “Singa Aswaja” di Asia Tenggara, demikian khabaran yang kudengar dari kawan-kawanmu.
Begini Idrus Ramli, dalam acara “parade” itu, aku melihat beberapa spanduk yang berisikan penolakan terhadap Wahabi, PKI dan Syi’ah. Seperti aku katakan di atas, itu bukan urusanku, karena spanduk itu milik mereka dan yang menulis pun mereka. Cuma saja, aku merasa heran kepada dirimu yang turut memposting foto-foto itu di akunfacebookmu. Engkau nampaknya sangat setuju dengan tulisan-tulisan itu. Secara tidak langsung, engkau telah ridha jika Wahabi disederajatkan dengan PKI dan Syi’ah. Meskipun engkau paham, bahwa Wahabi bukanlah Syi’ah, dan Syi’ah pun bukan Wahabi. Aku yakin seyakin yakinnya bahwa dikau juga paham bahwa Wahabi bukanlah PKI, dan PKI bukanlah Wahabi. Tapi engkau terlihat sangat berbahagia memposting foto-foto itu di facebookmu.
Idrus Ramli yang berbahagia. Soal kedatanganmu ke Aceh, pada prinsipnya tidaklah menjadi urusanku, karena engkau memakai biayamu sendiri. Aku juga paham bahwa kedatanganmu bukanlah “murni” kehendakmu, tapi hanya sekedar memenuhi undangan. Tapi, kemarin engkau pasti telah mendengar dan membaca di spanduk-spanduk bahwa Wahabi tidak layak hidup di Aceh. Dalam hal ini, aku melihat keterlibatanmu sudah terlalu jauh. Engkau telah turut campur dalam urusan rumah tangga kami (Aceh) yang semestinya bisa terselesaikan tanpa kehadiranmu.

Idrus Ramli yang dimuliakan Allah, terkait kebencianmu terhadap Wahabi, itu adalah hakmu, tiada yang mampu melarangmu untuk menebar kebencian terhadap Wahabi. Silahkan dikau membenci Wahabi, tapi lakukan itu di tanahmu sendiri (Jawa), jangan engkau “tebar kebencian” di tanah kami (Aceh). Jika pun Wahabi ingin diusir dari Aceh, maka biarlah itu menjadi urusan masyarakat Aceh, tanpa perlu engkau melibatkan diri.
Idrus Ramli “sayangku”, saat ini kaum muslimin di Papua tengah diuji. Engkau tentu ingat beberapa waktu lalu mesjid mereka dibakar. Datanglah ke sana untuk memberi peringatan kepada pihak-pihak yang telah “mengganggu” saudara-saudara kita. Engkau juga pasti tahu, bahwa kaum muslimin di Suriah juga hidup dalam kesusahan dan terpaksa mengungsi menghidari perang akibat kekejaman si Basyar yang telah melampaui batas. Datangilah mereka, bantu mereka, semangati mereka, karena mereka adalah saudara-saudara kita seiman. Dan yang terpenting, lupakanlah Aceh!
Sebelum aku mengakhiri surat ini, aku pertegas kembali bahwa surat ini aku tujukan kepada engkau seorang wahai Idrus Ramli “tersayang”, bukan untuk yang lain. Idrus Ramli “cintaku”, di akhir surat ini, aku berharap agar engkau tidak lagi “mengusik” kebersamaan kaum muslimin di tanah kami (Aceh). Biarkan Aceh kami hidup damai. Kami sudah lelah berperang. Pergilah, pergilah, dan pergilah engkau, pulang ke “negerimu”.
kompasiana.com/khairilmiswar, 11 September 2015 19:32:00

(nahimunkar.com)

(Bukti² penyimpangan dan kesesatan-bisa dikatakan kekufuran tingkat tinggi- ketua NU yang sekarang, yang terindikasi syi'ah nhc)

Said Aqil Siradj Bilang Malaikat Munkar Nakir Sampai Sekarang Belum Bisa Menanyai Gus Dur

Dalam video berikut ini pada menit ke 4.25 dan seterusnya Said Aqil Siradj bicara soal Gus Dur sebagai berikut:

https://youtu.be/lLwY4Eeeynw

Wahid Hasyim wafat punya putera di atas cerdas. Wahid Hasyim cerdas, puetranya sak nduwure ( di atas) cerdas, Kyai Haji Abdurrahman Wahid, Gus Dur, yang sampai sekarang (Malaikat) Munkar Nakir belum bisa nanyain Gus Dur. Karena di dalam hadits shahih, orang mati dimasukkan ke liang kubur pengiringnya pulang, sunyi sepi, Munkar Nakir datang, tanya man rabbuka (siapa Tuhanmu) waman nabiyyuka (siapa nabimu) dan seterusnya. Gus Dur ga’ pernah sepi kuburannya, sampai sekarang Munkar Nakir masih ngantri nunggu kapan sepine aku tak (kapan sepinya aku akan ...) sampai sekarang belum bisa.itu.

Perkataan Said Aqil Siradj ketua Umum NU itu mari kita bandingkan dengan hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits Imam Abu Daud:

حديث عثمان بن عفان رضي الله عنه قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ : ( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) رواه أبو داود (3221) ، وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص198 .

Hadits (dari) Utsman bin Affan Radhiallahu anhu, dia berkata,
“Biasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika selesai menguburkan mayat, beliau berdiri dan mengatakan,

( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) (رواه أبو داود (3221) , وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص 19)

“Mohonkan ampunan untuk saudara kalian. Dan mintakan baginya keteguhan, karena dia sekarang ditanya.” (HR. Abu Daud, 3221 dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Ahkamu Al-janaiz, hal. 198)/ http://islamqa.info/id/174715
Selain masalah berkata mengenai hal ghaib (yaitu malaikat) dengan akal-akalan yang menyelisihi hadits shahih, Said Aqil Siradj bicara pula tentang Iblis, dalam shalat.

Inilah beritanya.

***

Tidak Mau Merapatkan Shalat Seperti "Wahabi", Said Aqil Lebih Memilih Shalat Bersama Iblis (Video)

By: Syiah Indonesia on 10:05 AM

Syiahindonesia.com - Setelah menjabat menjadi Ketum PBNU, Said Aqil kembali menuai kontrovesi melalui ceramahnya yang menyatakan bahwa ia lebih senang apabila Syaitan atau Iblis ikut berjama'ah ketimbang mau merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah.

Diantara alasan sikapnya itu adalah karena merapatkan shaf dalam shalat adalah ajaran "wahabi". Padahal, kalau kita tengok beberapa hadits Rasulullah saw, ada nash yang menyebutkan bahwa diantara kesempurnaan shalat adalah rapat dan lurusnya shaf dalam berjama'ah.

Berikut beberapa hadits tentang anjuran merapikan shaf dalam shalat berjama'ah:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

”Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan sholat.”

Semakna dengannya, hadits Abu Hurairah -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- dalam riwayat Al-Bukhary (722) dan Muslim (435),

Juga sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:

وَأَقِيْمُوْا الصَّفِّ فِي الصَّلاَةِ, فَإِنَّ إِقَامَةِ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلاَةِ

“Dan tegakkanlah shaf di dalam shalat, karena sesungguhnya menegakkan shaf termasuk diantara baiknya sholat”.

Ulama Islam seperti Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dua hadits diatas sebagai berikut:

Kosa Kata Hadits:

1. Sabda beliau [luruskanlah shaf-shaf kalian] yakni, lurus dan seimbanglah dalam bershaf sehingga kalian seakan-akan merupakan garis yang lurus, jangan salah seorang di antara kalian agak ke depan atau agak ke belakang dari yang lainnya, serta merapat dan tutuplah celah-celah kosong yang berada di tengah shaf.

2. Sabda beliau [termasuk kesempurnaan sholat], yakni penyempurna sholat. Sesuatu dikatakan sempurna jika telah sempurna seluruh bagian-bagiannya, sehingga satu bulan dikatakan sempurna jika harinya sudah genap 30.

3. Sabda beliau [sesungguhnya menegakkan shaf], yakni meluruskan dan menyeimbangkannya ketika hendak mendirikan shalat berjama’ah.

4. Sabda beliau [termasuk diantara baiknya sholat]. Ibnu Baththol menjelaskan bahwa “baiknya sesuatu” adalah kadar tambahan setelah sempurnanya sesuatu tersebut.

[Lihat: Fathul Bary (2/209), ‘Aunul Ma’bud (2/259), dan Faidhul Qodir (2/537) dan (4/115-116)]

Selain itu, ada juga hadits penguat yang menjelaskan akan keharusan merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah, diantaranya:

أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (743)

Juga sabda beliau saw:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”. HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Ta’liq Ar-Roghib (1/335) cet. Maktabah Al-Ma’arif , tahun 1421 H.

Dengan demikian, ini menunjukan bahwa merapatkan shaf dalam shalat adalah sebuah anjuran yang patut dilaksanakan oleh kaum muslimin seluruhnya, dan bukan hal yang mengada-ngada. (nisyi/syiahindonesia.com)

Berikut videonya pernyataan Said Aqil yang lebih memilih shalat bersama Iblis ketimbang mengikuti ajaran "wahabi".

https://youtu.be/lLwY4Eeeynw

Sumber: nahimunkar.com

Kami Bukan Pengikut WAHABI. kami mengikuti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam... — 

Yang nyunnah - radikal
Yang nyeleneh - toleran

Yang muslim celana cingkrang dan berjenggot - terroris
Yang bule celana cingkrang dan berjenggot - fashion

Yang rajin sholat 5 waktu - sok alim
Yang muda ga sholat - masih muda

Yang jilbab syar'i - ekstrem
Yang ga pake jilbab - cantik

Yang rajin ke mesjid - waspadai
Yang rajin ke club - biarkan

Yang tiap minggi ke majelis ta'lim - kudet
Yang tiap minggu ke bioskop - gaul

Yang hafal al quran 30 juz - militan
Yang hafal cerita novel - hebat

Yang anaknya di jilbabin - pelanggaran ham
Yang anaknya pakai rok mini - imut

Yang pakai baju koko - sok islami
Yang ga pake baju - jantan

Yang tiap hari bicara islam - sok ustad
Yang tiap hari ghibah - ip to date

Yang pingin taubat - dikucilkan
Yang ngajak maksiat - didekati

Yang ngajak hijrah - ga asik
Yang ngajak mabuk - teman sejati

Media islam - radikal
Media porno - kebutuhan

"Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu." (H.R muslim no 208)
.
Sahabat bertanya siapakah orang asing itu, Nabi menjawab :
Mereka ialah orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan di tengah kerusakan. (H.R Ahmad)

(Copas dari FB seorang teman: Sarah Fajriah)

>> Di antara kaum Muslimin ada yang INGIN I’TIKAF RAMADHAN, tapi terkendala masalah-masalah.
>> Misal karena kesibukan kerja, karena tidak ada kawan, karena tidak ada masjid yang dekat, karena dalam perjalanan, karena dia seorang wanita, karena haidh, dll.
>> SECARA UMUM, namanya I’tikaf PASTI HANYA di masjid. I’tikaf adalah amal saleh yang terikat masjid. Tak ada masjid, ya tak ada I’tikaf.
>> Ulama menjelaskan, lama tidaknya I’tikaf tidak dibatasi. Mau 10 menit saja, boleh. Mau 10 tahun juga boleh, kalau kuat dan diizinkan melakukan itu. Para Ahlus Suffah di zaman Nabi Saw, tinggal lama di masjid.
>> Tapi khusus bulan Ramadhan, ada amal saleh yang namanya: I’TIKAF 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN. Benar-benar 10 hari terakhir, siang malam, sampai saat tiba MALAM Takbiran. Amal ini khusus saat Ramadhan saja. Tidak tergantikan dengan bulan-bulan lain.
>> Seorang Muslim sangat hebat bila setiap Ramadhan bisa beramal I’TIKAF 10 HARI AKHIR RAMADHAN. Hebat itu. Tapi boleh beberapa kali, semampunya. Minimal seumur hidup SATU KALI; demi melaksanakan Sunnah Nabi Saw. Jangan ditinggalkan sama sekali ya. Tak boleh. Nanti Nabi Saw akan menanyakan hal itu.
>> Oh ya, ini penting sekali. Ibadah I’tikaf ini terikat oleh dua hal: NIAT dan SUCI. Niat berarti ada kesengajaan melakukan I’tikaf demi meraih ridha Allah. SUCI berarti dalam keadaan WUDHU dan tidak dalam hadats besar/kecil.
>> I’tikaf tanpa niat adalah tidak mungkin. Meskipun berkemah di masjid 10 tahun, kalau tak ada niat I’tikaf, ya tidak dinilai ibadah I’tikaf.
>> Oh ya, ada aspek lain, yaitu AKHLAQ. I’tikaf harus diisi amal yang baik-baik, minimal diam atau tidur. Jangan diisi fitnah, ghibah, adu domba, hedonisme, apalagi maksiat. Perbuatan tercela tidak pantas di luar, lebih tidak pantas dilakukan di masjid.
>> Kembali ke topik di atas… Bolehkah I’tikaf sendirian di rumah?
>> Di rumah tidak ada I’tikaf. Meskipun itu ada musholla tempat shalat.
>> Sebagian ulama mensyaratkan I’tikaf di masjid yang ada SHALAT JUM’AT-nya. Ada juga masjid yang RUTIN MENGGELAR SHALAT LIMA WAKTU dan KUMANDANG ADZAN. Jadi musholla yang tidak memenuhi syarat itu, bukan tempat I’tikaf.
>> TAPI di rumah kita bisa lakukan AMAL SHALIH apa saja, seperti Shalat, Dzikir, Baca Al Qur’an, Doa, berbakti ke orangtua, shilaturahiim, sedekah, dll. Pokoknya amal shalih. Ini memang bukan I’tikaf, tapi TIDAK AKAN KETINGGALAN PELUANG AMAL.
>> Mengapa? Karena untuk mengejar LAILATUL QADAR tidak dibatasi amal-amalnya. Yang penting masuk cakupan: AMAL SHALIH DI MALAM 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN, SAMPAI SAAT TIBA WAKTU FAJAR. Amal baik apa saja di malam itu, akan ditimbang dengan pahala Lailatul Qadar.
>> Bagi kaum wanita haidh. Cara ibadahnya begini. Anda gelar sajadah atau tikar di rumah. Pakai mukena, lalu duduk berdzikir misalnya baca Istighfar, Tahlil, Tasbih, Tahmid, Takbir, Shalawat. Boleh juga membaca doa: “Allohumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniy” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku ini). Atau baca dzikir: “Subbuhun Quddusun Rabbuna wa Rabbul Malaikati war Ruuh” (Maha Suci Engkau, Maha Qudus, Engkau Tuhan kami, juga Tuhan para Malaikat dan ruh). Atau silakan berdoa apa saja yang bisa dilakukan. Jadi saat malam itu jangan dilewatkan untuk tidur saja. TETAPI tidak boleh melakukan Shalat dan Membaca Al-Qur’an. Selain itu boleh dan dipersilakan beribadah semampunya.
>> Bagi para MUSAFIR (terutama sedang mudik), silakan beramal di malam-malam itu di sepanjang jalan. Tentunya setelah menunaikan amalan SHALAT WAJIB, karena kewajiban tidak boleh diakhirkan dari amalan yang Sunnah. Silakan baca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, sedekah, mudzakarah (nasehat-menasehati), membaca kitab-kitab agama, membuat status medsos yang bermanfaat bagi Ummat, dan sebagainya.
>> Intinya, kita jangan kehilangan KESEMPATAN AMAL SHALIH di malam-malam 10 Hari Terakhir Ramadhan. Kalau tidak bisa beramal di masjid, jangan kehilangan amal shalih di mana saja, apakah di rumah, di perjalanan, di tempat kerja, dan sebagainya.
>> Demikian, semoga manfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
>> Menurut data Bank Indonesia, posisi hutang luar negeri kita pada Juni 2015 adalah: 300 Miliar Dolar atau Rp. 3.988 Triliun (sekitar 4000 Triliun Rupiah; dg kurs Rp. 13.300/dolar).
>> Persentase hutang, 45% hutang pemerintah; 55% hutang swasta.
>> PERBANDINGAN: Saat Menteri Ekuin Hatta Radjasa, pada era kedua SBY, hutang luar negeri kita mencapai sekitar Rp. 2.025 Triliun. Jadi ada kenaikan hutang dalam 2 tahun terakhir sekitar 2000 TRILIUN.
>> SEMUA hutang ini dibebankan kepada RAKYAT INDONESIA untuk menanggungnya; melalui upah rendah, pajak tinggi, harga-harga mahal, BBM naik, dan seterusnya.
>> SEANDAINYA Anda sekarang berjalan 100 m keluar rumah, dengan pakaian biasa, tanpa bawa uang sepeser pun; saat itu pun SEJATINYA Anda sedang ikut memikul beban hutang ini.
>> Ya Allah berikan hidayah dan taufik kepada semua pemimpin bangsa, agar mereka BERHENTI MENZHALIMI bangsa & rakyat negeri ini. Ya Allah perbaiki hati-hati mereka agar melaksanakan amanat, keadilan, dan kebajikan.
>> Amin amin Allahumma amin.

JUJUR LEBIH BAIK

>> Menko Ekuin Sofyan Djalil mengatakan, posisi hutang luar negeri Indonesia masih aman. Masih lebih baik dari Yunani.
>> Hutang Indonesia senilai 26% PDB, sedang Yunani mencapai 200% PDB. PDB = Produk Domestik Bruto. Penghasilan kotor negara.
>> SISI KRITIK: Yunani adalah negara Eropa kecil, miskin. Tidak punya hasil tambang, lautan, hutan luas, tanam-tanaman sekaya Indonesia.
>> SISI LAIN, ini yang paling parah, nilai PDB itu meliputi penghasilan semuanya, termasuk hasil perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Hasil mereka tentu diboyong ke negeri asalnya.
>> ANDAI mau jujur. Harusnya diambil perbandingan antara HUTANG LUAR NEGERI dan rata-rata INCOME PER KAPITA rakyat Indonesia. Dijamin para pemimpin tak akan berani.
>> SEMUDAH manusia bermain angka, untuk menutupi realita yang rata-rata rakyat tidak mengerti.
>> Nas’alullah al ‘afiyah.

AMPUNI KAMI YA ALLAH…

>> MESKIPUN, hutang LN kita sudah menyentuh angka 4000 Triliun.
>> TAPI, kata Menko Ekuin, Indonesia MASIH BISA pinjam sampai 5.500-an Triliun. Astaghfirullah…
>> SPONGEBOB: “Kita ngutang, dan kita bangga.”
>> KATANYA…hutang-hutang itu untuk BELANJA INFRASTRUKTUR.
>> PADAHAL siapa nanti yang akan menikmati infrastruktur itu? Pasti orang-orang asing lagi kan? Kita biasanya hanya sebatas “meramaikan”.
>> “Rabbana laa tusallith ‘alaina man laa yarhamuna.” Ya Allah jangan jadikan pemimpin kami orang yang tidak mengasihi kami. Amin

Segelintir mujahidin Suriah, Dan beberapa warga sipilnya belum bisa melepaskan hobi ngudud yang selama belasan atau puluhan tahun dilakoninya. Datangnya syariat jihad dan maut yang bergentayangan di sekitar mereka masih juga tidak mempan menghentikan kebiasaan kebal-kebul tersebut. Tentu banyak maksiat lebih besar dari itu, Kejahatan yang lain juga kadang terjadi disini, Tapi mari fokus dulu sama kegiatan mubadzir satu ini

Beberapa faksi besar dan fanatik atau disini biasa disebut Islamiyyin, Macam Jabhah An-Nushrah, Ahrarusy Syam, Ansharusy Syam, Jaisyul Islam, Dan beberapa lainnya, Resmi atau tidak, Telah menerapkan larangan merokok bagi anggotanya, Juga bagi warga di daerah kekuasaan mereka. Dan dari semuanya memang JN yang paling keras soal ini. Pada beberapa sub kelompok JN, Larangan itu bahkan disertai sanksi keras dan tegas terutama kepada anggotanya. Sedangkan pada grup lain kadar larangannya bertingkat-tingkat. Misal Jaisyul Islam, Jajaran komandannya dilarang keras. Lalu para syar'i mereka selain dilarang juga akan dipecat bila ngudud. Pasukan elit demikian pula hanya saja sanksinya ga terlalu berat. Tapi untuk serdadu reguler masih sebatas peringatan dan dakwah terus menerus

Terkait hukum rokok dan beberapa perkara lainnya, Menyikapinya terhadap masyarakat awam, Anggota mujahidin, Yang seringnya sehari-hari kalau pas lagi lepas dinas adalah masyarakat sipil dan awam, Serta muhajirin, Semua kelompok sepakat kalau sekarang ini merupakan fase dakwah. Ya, Perkara udud ini rupanya bukan perkara mudah, Ada semacam permakluman mereka bahwa keberhasilan jihad ini ketika seluruh muslim Suriah telah menjalankan dasar-dasar syariat Islam dengan kesadaran sendiri tanpa harus dipaksa. Dan jalan menuju kesana adalah dengan dakwah yang bijaksana (bil hikmah) serta dengan cara-cara yang baik (wal mauidhatil hasanah)

Beberapa aturan syariat telah ditegakkan disini, Kelompok-kelompok Islamiyyin sepakat membentuk mahkamah syariah bersama untuk menjalankannya, Dan para pendakwah, Da'i-da'i mujahid, Telah disebar ke seluruh penjuru. Menyeru orang-orang supaya kembali pada Allah, Menjalankan syariatnya, Serta menerapkan syariat hudud. Tapi dalam bertebaran di muka bumi, Para ketua mahkamah syariah terus mewanti-wanti agar para da'i bersikap hati-hati mendakwahkan syariat mulia ini, Jangan sampai timbul kebencian dan kemarahan masyarakat akibat cara yang salah. Para da'i itu memang bisa saja mengeraskan sikap serta menunaikan tangan besi, Toh apa kata mereka insyaAllah ditaati orang, Apalagi di belakang mereka berdiri kekuatan bersenjata yang tengah bersemangat menyempurnakan syariat. Tapi mereka telah belajar dari sejarah, Baik sejarah jihad sebelum mereka, Sejarah jihad di Suriah sendiri, Dan terutama sejarah jihad dijaman RasulUllah ShallAllahu A'laihi Wasallam. Yang mana beliau tegaskan bahwa kemenangan sejati bukan ketika berhasil menguasai musuh, Tapi ketika berhasil menguasai diri sendiri

Para da'i ga mau masyarakat bermuka dua, Di depan mereka sami'naa wa atha'naa (kami dengar dan kami patuh), Tapi di belakang mereka sami'naa wa ashainaa (kami dengar dan kami selisihi). Mereka ingin perbuatan jahat dan maksiat sebisa mungkin berhenti karena kesadaran masyarakat, Bukan karena todongan senjata. Memang ada hal-hal yang perlu dikerasi macam hobi masyarakat mengucapkan kalimat-kalimat pembatal keIslaman. Tapi untuk hal-hal seperti berhenti merokok, Shalat jama'ah di masjid, Memelihara jenggot, Dan lain sebagainya, Da'i-da'i mujahid tersebut ingin agar fasenya berjalan secara alami, Berasal dari kesadaran diri, Bukan tanpa paksaan apalagi kekerasan

Tentu mereka ga sebodoh kita di Indonesia yang menulis bahaya rokok di bungkus rokok, Tapi membiarkan pabrik rokok bebas beroperasi. Disini rutin diadakan razia rokok terutama di checkpoint-checkpoint. Kemarin ikut nongkrong di beberapa checkpoint mujahidin, Ngobrol dan nyari bahan cerita, Saya lihat sendiri puluhan slop rokok hasil sitaan didalam drum besar siap dibakar. Rokok-rokok itu didapat dari penggeledahan mobil-mobil angkutan umum atau mobil-mobil pribadi yang lalu lalang melintasi checkpoint. Pemiliknya disuruh push-up, Lalu dinasihati panjang lebar. Nasihat-nasihat itu saya dengar sendiri memang sungguh menyentuh hati, Bikin nangis dan menambah keimanan. Saya sendiri mau nangis rasanya disinggung tentang keutamaan tanah jihad, Dan bagaimana darah para mujahid tumpah untuk menegakkan syariat, Terus masa iya kita cuma berhenti ngerokok aja ga mau ?

Hasilnya memang masyaAllah efektif. Agak jarang disini saya lihat orang ngudud apalagi terang-terangan. Biasanya ngumpet atau paling tidak di daerah yang pemberlakuan hukum syariatnya kurang ketat, Atau dakwah kurang menyentuh masyarakat. Mereka yang berhenti ngudud kebanyakan karena keimanan dan ketaatan, Bukan karena paksaan

Walhasil, Bahkan di daerah perang sekalipun, Sikap bijak dan cara-cara yang baik dalam berdakwah tetap diutamakan. Masyarakat tidak akan berubah dengan todongan senjata. Berhenti mungkin iya, Tapi selama pemahaman serta keyakinan dan keinginan kuat belum tertanam, Berbagai kemaksiatan akan terus terjadi, Bahkan mungkin menjadi seperti bara dalam sekam, Siap meledak menghancurkan jerih payah jihad yang selama ini diperjuangkan

Nah, Disini aja para mujahid bijaksana serta berlemah lembut dalam menasihati, Masa antum disana main gebuk main cap aja ?

Kisah diatas ditulis untuk menggerakkan kita, Barangkali ada hikmah yang bisa kita ambil, Dan memang sebagai bagian dari usaha untuk mencari dana bagi membantu muslim Suriah

Mari bergerak, Jangan berhenti pada like, Share dan comment. Berikut ini ada sarana yang bisa kita gunakan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan di Suriah, Dan berbuat lebih baik lagi

Rek Donasi Suriah dan Rohingya

Suriah (Umum)
- MANDIRI 900 0019 330 720 (Kcp. Katamso, Yogyakarta)
- BCA 1691 967 749 (Kcu. Ahmad Dahlan, Yogyakarta)
- BRI 0029 0110 999 7500 (Kcu. Cik Ditiro, Yogyakarta)
- BNI 0317 563 523 (Kcp. Parang Tritis, Yogyakarta)
Semua atas nama IKRIMAH
- Konfirmasi : Ikrimah 081809406405

Suriah (Khusus kurban)
Perekor domba gemuk besar 250 USD, Sapi 2.000 USD
- BCA 0201251621 (KCP Teluk Betung Lampung)
- MANDIRI 114 000 511 3413 (KC Bandar Lampung)
- BRI 5590-01-010972-53-8 (unit Bandar Agung Lampung)
Semua atas nama DIMAS ADITYO
- Konfirmasi : Dimas Adityo 085758894656

Rohingya
BRI : 0178 0100 6069 504 a.n Said Anshar

JazakumUllah khairal jaza
Allah Yubaarik fiikum wa fii maalikum