+10 344 123 64 77

JAKARTA (voa-islam.com) - Selama ini bisnis media massa menjadi alat bagi sebagian orang yang memiliki modal untuk membangun image dan pencitraan dirinya kepada masyarakat.

Tidak peduli baik atau buruk kinerja dan kualitas kepemimpinan seseorang asal mampu membeli berita yang dijual media maka polesan beritanya akan semakin kinclong.

Bisnis media ini semakin menjamur pesat dikarenakan masyarakat Indonesia masih memiliki persepsi baik terhadap media. Apa yang diberitakan oleh media masih menjadi tolok ukur penilaian masyarakat pada tokoh tertentu.

Beredarnya surat pemerintah tentang penunjukan Tempo sebagai media mitra promosi dan pengumuman iklan tender seluruh Kementrian dan Lembaga non Kementerian, pemerintah pusat sampai daerah agar menggunakan media Koran Tempo menghebohkan jagad dunia maya.

Jadi pembelaan Tempo terhadap rezim Jokowi itu, dapat diduga ikut menikmati rente dari walikota 'ajaib' yang sekarang menjadi penghuni Istana. Benar-benar sangat aneh, media yang dielu-elukan kalangan liberal, ternyata hanyalah 'kacungnya' Jokowi.

Berikut adalah surat edaran yang dimaksud:

Kader Ali Moertopo

Menjelang tahun 1959, dan di tahun 1960, IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jogjakarta merekrut tenaga pengajar lulusan Pakistan bernama Moekti Ali. Cara pandang Moekti Ali terhadap Islam sangat berbau Ahmadiyah.

Kemudian hari bergabung pula sebagai tenaga pengajar, seorang yang berpikiran sekuler tamatan Universitas di Canada bernama Harun Nasution.

Di tahu-tahun sekitar itu sejumlah mahasiswa yang kelak menjadi kader Ali Moertopo, Kepala Opsus Operasi Khusus Bakin) menjadi mahasiswa IAIN yaitu Kafrawai (Ridwan) dan Zarqowi Suyuthi. Kedua nama ini kemudian menduduki jabatan teras Departemen Agama dan ‘berjasa’ besar untuk merontokkan Ruh IAIN yang asli dan berganti dengan Ruh ‘bohong-bohongan’.

Seluruh nama-nama tersebut di atas bekerja keras menyimpangkan IAIN dari cita-cita semula.

Yang dijadikan jargon untuk memperoleh dukungan atas tujuan mereka itu adalah “De-NU-nisasi”.

Seperti diketahui, partai Masyumi bubar tahun 1960, dan sejak itu pengendalian IAIN di bawah Departemen Agama yang menterinya selama beberapa periode dijabat tokoh dari partai NU (Nahdlatul Ulama).

Sampai dengan munculnya Moekti Ai sebagai menteri agama pada tahun 1972, khittah IAIN tidak berubah. Hanya saja condong ke NU. Tapi sejak Moekti Ali duduk bersila di departemen agama, wajah IAIN dirubah bertahap bahkan pada akhirnya ‘Ruhnya’ “diketok-magic”sehingga sosok dan jiwa IAIN tidak menjadi jelas bagi khalayak ramai. Mau dikata sebagai kawah chandradimuka penggembleng Gatutkaca-Gatutkaca bernafas Islam, tahunya yang muncul “Durna-Durna” alias Kombayana dan Sengkuni yang kerjanya merongrong Islam seperti Harun Nasution, Djohan Effendi, dan Nurcholish Madjid yang kemudian hari disusul dengan kader-kadernya yang “otak-otakan” seperti Azyumardi Azra dan Lutfie Assyaukani.

Sempurnalah padamnya ‘Ruh’ Islam dari IAIN ketika seorang “mudzabdzab” bernama Munawir Sjadzali menjabat menteri agama (selama dua periode, sepuluh tahun, 1983-1993, Red NM). Hukum Faraid (waris Islam, red) mau dirubahnya padahal nyata-nyata ketentuan Faraid diatur Quran.

Munawir pengasas perubahan IAIN menjadi UIN (Universitas Islam Negeri).

Di zaman Munawir inilah terjadi pengiriman besar-besaran sarjana IAIN bersekolah ke Australia, Canada, dan Amerika Serikat. Expatriat ini kemudian menjadi dosen IAIN, dan sebagian dari mereka jadi “tukang kepruk” yang bengis terhadap Islam.

(Catatan HAJ- wartawan Harian Pelita: dr Tarmizi Taher Menteri Agama pelanjut Munawir ketika berkunjung ke Jogjakarta untuk menjenguk Dr Kunto Wijoyo ilmuwan budayawan yang sedang sakit, tidak lupa beliau mengunjungi mantan Menteri Agama Moekti Ali. Begitu beliau sampai dan bersalaman dengan Moekti Ali lalu duduk, langsung Moekti Ali menekankan agar pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat dilanjutkan. Dan saat kunjuang mau berakhir, begitu dr Tarmizi Taher pamit dan bersalaman untuk pulang, ditegaskan lagi oleh Moekti Ali ke wajah dr Tarmizi Taher, agar pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat dilanjutkan).

IAIN berubah jadi UIN dan ini bukan perubahan nama saja, tapi juga substansi. UIN meliputi fakultas-fakultas: 1. Science Teknologi, 2. Sosial Humaniora, 3. Tarbiyah, 4. Syariah, 5. Ushuluddin, 6. Dakwah, 7. Adab. (catatan: selanjutnya kabarnya ada Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, ada Ekonomi Islam, Red).

Tendensi akhir-akhir ini fakultas nomor 1 dan 2 mendapat minat yang sangat tinggi, fakultas nomor 3 dan 4 masih diminati. Fakultas nomor 5, 6, dan 7, makin merosot peminatnya.

Jika peminatnya makin merosot maka besar kemungkinan pada suatu hari fakultas nomor 5, 6, dan 7 akan ditutup. Hal ini sesuai dengan prinsip kemandirian, keuangan universitas-universitas negeri.

Perubahan IAIN menjadi UIN merupakan bahagian dari suatu skenario besar menghancurkan Islam.

Tampaknya melihat sukses besar yang dicapai dalam menghancurkan IAIN maka sasaran sekarang mulai dialihkan ke pesantren-pesantren.

Wapres Yusuf Kalla (Desember 2005, Red SI), hari-hari terakhir ini tidak bosannya mengkaitkan fenomena terorisme dengan keberadaan pesantren. Pesantren terus menerus dibidik dalam retorika Wapres. Pesantren yang bermasalah dan kini sudah ditutup, di Malaysia, tetapi (kenapa) pesantren Indonesia yang mau diobrak abrik. (Itu ibrat) Orang Betawi bilang: “Nenggak arak di mane mabok di mane?”

Hidup adalah perjuangan. Ini tantangan mutakhir yang harus dihadapi umat Islam dengan sabar dan pikiran yang jernih. (Tulisan ini adalah bagian penutup dari makalah “Kau Apakan Lagi IAIN-Ku Ini?”, oleh Ridwan Saidi, Reprint Media Dakwah edisi 361Desember 2005, dimuat Tabloid Suara Islam, Edisi 197 Tanggal 22 Jumadil Awal -6 Jumadil Akhir 1436H/ 13-27 Maret 2015, halaman 13).

***

Kamis, 21 Jumadil Ula 1436H / March 12, 2015

(Untuk menakut-nakuti rakyat..?)
SBY menjabat presiden dari tahun 2004, tapi kopassus baru menganugerahinya sebagai warga kehormatan pada 20 agustus 2009.

Menunggu lima tahun bekerja keras dan membuktikan kesetiaannya kepada bangsa dan negaranya dulu barulah dia mendapat pengakuan sebagai orang yang layak disebut patriot dan layak disematkan baret merah dikepalanya..

Begitu juga dengan kopaskhas dan kormarinir, mereka tidak mau menganugerahkan symbol kehormatan itu secara murahan kepada siapapun, termasuk kepada panglima tertingginya sekalipun. Berturut-turut mereka akhirnya mengakui kehandalan dan kelayakan sby untuk mengemban baret-baret kebanggan dan kehormatan mereka untuk dikenakan oleh sby, setelah sby terbukti membanggakan dan layak dihormati..

Dibawah muldoko, jokowi baru beberapa hari (6 bulan) dan belum menunjukkan prestasi apa-apa tiba-tiba sudah memborong 4 baret sekaligus dihari yang sama.. Baret kopassus, baret kopaskhas dan baret marinir plus baret hitam mabesad.
Begitu murahnya baret-baret itu diserahkan kepada orang yang belum punya kredibilitas kelayakan untuk memperoleh kehormatan dari symbol penghormatan itu..

Pak Moeldoko, sudah lupakah anda bahwa setiap baret itu diperoleh dengan harga yang tidak kecil oleh prajuritmu.. Pertaruhan nyawa, darah, rasa sakit, perjuangan yang pantang menyerah, hingga pembaretan yang penuh ceritaduka lara...
Tapi begitu mudahnya kau persembahkan untuk orang yang tidak punya kelas, bahkan dalam hal paling sederhana semisal menandatangani secarik dokumen sekalipun...

Jangan salahkan dia kalau besok dia tanpa membaca, teah menandatangani pemecatan anda jendral.

Penasaran, apa betul kutipan harian JP ini, General Moeldoko : loyalitas TNI pada Jokowi sampai jabatan berakhir pic.twitter.com/Mbl1EKhlOe

Bukannya loyalitas TNI itu pada bangsa, negara dan rakyat Indonesia ya berdasar UU? Bukan pada personal, walau presiden? Karena kalau loyalitasnya pada personal presiden, saya khawatir, kalau nanti ada kesimpulan, TNI pernah tidak loyal pada presiden RI?

Mungkin @GeneralMoeldoko bisa jelaskan maksud statemen yang dikutip media tsb. Saya koq yakin bukan signal politik, karena TNI tidak boleh berpolitik!

Kalau masih jabat prajurit Saptamarga, TNI harus dalam posisi siap bela negara, bangsa dan rakyat Indonesia, @GeneralMoeldoko , No politk2an..!!

Seperti @SBYudhoyono setelah selesai pengabdian di TNI, meneruskan pengabdian jalur Politik. @GeneralMoeldoko mungkin bisa ikut jejak senior! Nanti setelah masuk Politik baru @GeneralMoeldoko akan lebih paham kenapa TNI tidak boleh berpolitik? Karena didunia politik tiap hari "perang"!

Oleh: Ferry Koto: chirpstory.com/li/262103

Jika engkau menyaksikan film FOCUS, film yg dibintangi oleh Will Smith yg berperan sebagai Nicky, seorang pencuri dan penipu profesional, engkau akan menyaksikan salah satu scene dimana Nicky bertaruh dengan Liyuan senilai 2 juta USD. Jenis taruhannya menarik, yakni Liyuan memilih salah satu nomor punggung pemain American Football. Dan Jess, rekan sejawat Nicky yg akan menebaknya.

Sebuah taruhan yg sulit tentunya. Karena setidaknya pemain football yg berada di lapangan dari kedua kubu berjumlah total 100 orang sudah termasuk pemain cadangan. Artinya, peluang Jess menebak angka yg dipilih Liyuan adalah 1:100. Namun, tak dinyana, ternyata Jess berhasil menebak nomor punggug pemain yg dipilih oleh Liyuan. Nomornya adalah 55. Nicky pun berhasil memenangkan taruhan senilai 2 juta USD tersebut.

Ketika ditanya oleh Jess, apakah ini sebuah kebetulan? Nicky pun menjawab ini bukan kebetulan. Namun, ternyata Nicky telah melakukan REKAYASA PIKIRAN, agar Liyuan selalu mengingat angka 55 dalam pikiran bawah sadarnya.

Semenjak Liyuan tiba dari Hongkong di Amerika, Liyuan secara tidak sadar dibuat selalu mengingat angka 55 secara tidak sadar. Mulai dari taksi yg ada angka 55-nya. Kamar hotel, ornamen pada lampu hias, pin yg digunakan oleh consierge saat membukakan pintu, sampai pada banner iklan yg menempel di taksi dan bus, semuanya ada angka 55. Dan memang demikian, secara bawah sadar (unconscious) pikiran kita akan mengingat sesuatu yg diulang-ulang. Dan saat diminta oleh Nicky memilih saah satu nomor untuk jadi bahan taruhannya, maka pikiran bawah sadar (uconscious mind) Liyuan akan tertarik kepada pemain yg menggunakan nomor punggung 55 di kaosnya.

Nah, kenapa saya menulis tentang fenomena pikiran bawah sadar dalam film Focus ini? Beberapa saat yg lalu di Metro TV (televisi milik SP, petinggi Partai Nasional Demokrat) menayangkan tayangan ulang Mata Najwa edisi "Pencuri Perhatian". Dimana tamu di Mata Najwa tersebut adalah Syahrini, Raditya Dika dan Basuki Tjahya Purnama (Ahok). Ya, Ahok.

Tayangan tersebut saya yakin BUKAN TIDAK SENGAJA ditayangkan. Melainkan ada tujuan untuk MEREKAYASA PIKIRAN. Kita tahu, bahwa saat ini Ahok sedang dalam posisi yg genting. Hak Interpelasi yg digulirkan oleh anggota DPRD terkait dengan APBD PALSU yg diserahkan ke Kementerian Dalam Negeri menjadi pasalnya. Belum lagi, sikap kalap Ahok yg kemudian mematikan nalarnya, malah membuka borok dirinya dan jajaran pemerintahannya (juga Gubernur sebelum dia yakni Joko Widodo) dengan adanya dana siluman dalam APBD tersebut. Padahal dana siluman tersebut sudah ada sejak 2013 dan 2014, saat Joko Widodo menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Tentunya, cara yg praktis dan efektif digunakan adalah merekayasa pikiran kebanyakan rakyat Indonesia agar citra dirinya tetap baik. Caranya adalah menayangkan hal-hal yg dikesankan baik mengenai Ahok. Mari kita lihat media-media pembelanya, tak henti-hentinya mencitrakan dan memanipulasi berita sehingga Ahok dikesankan orang yg baik dan terzhalimi. Berita, tayangan, testimoni (buatan), dan lain sebagainya ditayangkan berulang-ulang. Targetnya adalah berita dan tayangan tersebut terprogram pada pikiran bawah sadar (unconscious mind) sebagian rakyat Indonesia.

Sehinga, walau terbukti bersalah, dapat dipastikan ada banyak orang yg terhipnosis sehingga membela membabi buta.

Lalu pertanyaannya, apa yg harus kita lakukan agar tidak terhipnosis oleh pemrograman pikiran bawah sadar yg dilakukan oleh media-media pelindung para pencuri dan penipu? Seperti halnya judul film yg saya ceritakan di atas, FOKUS. Jangan mudah percaya. Jangan terlena. Perhatikan dengan seksama dan lakukan analisa. Curigalah dengan segala sesuatu yg tiba-tiba, tanpa cela, diberitakan/ditayangkan berulang-ulang dan terus menerus. Curigalah bahwa jika demikian, pasti ada yg tidak beres di sebaliknya.

Namun, yakinilah bahwa secanggih apapun REKAYASA PIKIRAN yg dilakukan dengan hal-hal yg 'baik', tidak akan pernah mengalahkan kebenaran yg sifatnya mutlak. Kebenaran akan tetap menjadi kebenaran. Ia tidak akan pudar walau diselubungi oleh ratusan kebaikan yg hanya rekaan.

PANJIMAS.COM – Jauh sebelum orang-orang ramai meributkan ketidakberesan pemikiran ulama Metro TV Prof. Dr. Quraish Shihab di kalangan liberal di Indonesia, Sudah jamak diketahui beliau sebagai seorang yang bermasalah.

Jilbab tidak wajib danTak ada jaminan Rasulullah SAW masuk surga Hanyalah dua hal kontroversi beliau yang mengemuka ke publik. Dan terakhir adalah kajian tafsir di Metro TV membolehkan “ucapan selamat natal”.

Beliau pernah menulis buku, “Sunnah -Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati pada Maret 2007.Di antara yang ditegaskan QS di buku ini bahwa perbedaan sunni dan syi’ah bukan pada ushul. QS juga menyanggah keberadaan Abdullah bin Saba’. Beliau menyebut Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh fiktif. Dalam buku ini QS juga ingin mendegradasi posisi Abu Hurairah RA sebagai sahabat Rasulullah SAW yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Menanggapi buku tersebut, teman-teman santri Pondok Pesantren Sidogiri menulis buku bantahan, “Mungkinkah Sunnah Syiah Bersatu Dalam Ukhuwah?” Semua pembelaan Quraish Shihab terhadap Syiah telah dimentahkan santri-santri Sidogiri di buku ini.

Sidogiri ttg syihab syiahDari Jakarta, QS mengirim pesan ketidaksukaannya terhadap buku yang telah membantah bukunya. Santri (pelajar) gitu loh, membantah bukunya profesor. Dari pelosok Pasuruan, teman-teman Sidogiri pun merespon, “Kalau memang sanggahan kami ada yang perlu disanggah balik, silakan saja. Atau mari kita ketemu, kita duduk dalam satu majelis, kita bedah bareng buku kita masing-masing!”

Namun ajakan para santri ini sampai sekarang belum dipenuhi oleh Sang Profesor. Pada Haul Habib Muhanmas bin Salim al Aththas di Masjid Baalawi, Singapura, Quraish Shihab pernah berceramah. Dalam ceramahnya, beliau mengkritisi kitab maulid, Diba’. Tepatnya pada bait: “Mauliduhu bi Makkah, wa hijratuhu bil Madinah wa shulthonuhu bis-Syam.”

Salah seorang yang hadir ketika itu adalah Habib Umar bin Muhsin Al Aththas, Lawang. Habib Umar sebenarnya bermaksud mendebat QS. Namun Habib Hasan Al Aththas sebagai tuan rumah mencegah beliau.

Berikut Pengakuan Dr Adian Husaini Terhadap Buku Pesantren Sidogiri

Di tengah malasnya tradisi ilmiah, buku terbitan Pesantren Sidogiri tentang “ukhuwah” Sunni-Syiah patut diacungi jempol.Belum lama ini saya menerima kiriman berupa sebuah buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Judulnya cukup panjang: “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)” Penulisnya adalah Tim Penulis Buku Pustaka Sidogiri, Pondok Pesantren Sidogiri, yang dipimpin seorang anak muda bernama Ahmad Qusyairi Ismail.

Membaca buku ini halaman demi halaman, muncul rasa syukur yang sangat mendalam. Bahwa, dari sebuah pesantren yang berlokasi di pelosok Jawa Timur, terlahir sebuah buku ilmiah yang bermutu tinggi, yang kualitas ilmiahnya mampu menandingi buku karya Prof. Dr. Quraish Shihab yang dikritik oleh buku ini. Buku dari Pesantren Sidogiri ini terbilang cukup cepat terbitnya. Cetakan pertamanya keluar pada September 2007. Padahal, cetakan pertama buku Quraish Shihab terbit pada Maret 2007. Mengingat banyaknya rujukan primer yang dikutip dalam buku ini, kita patut mengacungi jempol untuk para penulis dari Pesantren tersebut.

Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab yang berbeda. “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab – dimana pun ditemukan – adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).

Berbeda dengan Quraish Shihab, pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri, dikutip sambutan KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri yang menegaskan: “Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah.”

Berikut ini kita kutip sebagian kritik dari Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab (selanjutnya Quraish Shihab disingkat “QS” dan Pondok Pesantren Sidogiri disingkat “PPS”). Kutipan dan pendapat QS dan PPS diambil dari buku mereka masing-masing.

1. Tentang Abdullah bin Saba‘.

QS: “Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).

PPS: Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syiah yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syiah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sa’ad al-Qummi, pakar fiqih Syiah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyah. Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq, (hal. 20), al-Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syiah, An-Nukhbati dan al-Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang kemudian masuk Islam. Atas dasar keyahudiannya, ia menggambarkan Ali r.a. setelah wafatnya Rasulullah saw sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa a.s. Kisah Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).

2. Tentang hadits Nabi saw dan Abu Hurairah r.a.:

QS: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).

QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).

PPS: “Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu Hurairah r.a. dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah. Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu Hurairah r.a. sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi saw tersebut, diantaranya adalah al-Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min al-Buhtan yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al-A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih, Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi al-Mizan, Muhammad ?Ajjaj al-Khatib dengan bukunya Abu Hurairah Riwayat al-Islam dan lain-lain.”

Dalam Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir mengatakan, bahwa Abu Hurairah r.a. merupakan sahabat yang paling kuat hafalannya, kendati beliau bukan yang paling utama. Imam Syafii juga menyatakan, “Abu Hurairah r.a. adalah orang yang memiliki hafalan paling cemarlang dalam meriwayatkan hadits pada masanya.” (hal. 320-322).

Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka PPS menegaskan: “Dengan demikian, maka keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru kesangsian terhadap Abu Hurairah r.a. seperti ditulis Dr. Quraish Shihab: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.” (hal. 322).

“Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi saw, data-data sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah). Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ?ala Sunnah Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).

Tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Dr. al-A’zhami melakukan penelitian, bahwa jumlah 5.000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadits yang substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadits-hadits yang diulang-ulang substansinya, maka hadits dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah tinggal 1336 saja. “Nah, kadar ini, kata Ali as-Salus, bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari mu’jizat kenabian?” (hal. 324).

Memang dalam pandangan Syiah, seperti dijelaskan oleh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha’ (tokoh Syiah kontemporer yang menjadi salah satu rujukan kaum Syiah masa kini), yang juga dikutip oleh QS: “Syiah tidak menerima hadits-hadits Nabi saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul bait. Sementara hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan sesamanya, maka dalam pandangan Syiah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai nyamuk sekalipun.” (hal. 313).

PPS juga menjawab tuduhan bahwa Ahlusunnah diskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits dari Imam-imam Syiah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah. Imam Bukhari memang tidak meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq, dengan berbagai alasan, terutama karena banyaknya hadits palsu yang disandarkan kaum Syiah kepada Ja’far ash-Shadiq. Bukan karena Imam Bukhari membencinya. Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits dari Imam Syafii dan Ahmad bin Hanbal, bukan karena beliau membenci mereka. (hal. 324-330).

3. Tentang pengkafiran Ahlusunnah:

QS: “Apa yang dikemukakan di atas sejalan dengan kenyataan yang terlihat, antara lain di Makkah dan Madinah, di mana sekian banyak penganut aliran Syiah Imamiyah yang shalat mengikuti shalat wajib yang dipimpin oleh Imam yang menganut mazhab Sunni yang tentunya tidak mempercayai imamah versi Syiah itu. Seandainya mereka menilai orang-orang yang memimpin shalat itu kafir, maka tentu saja shalat mereka tidak sah dan tidak juga wajar imam itu mereka ikuti.” (hal. 120).

PPS: “Memperhatikan tulisan Dr. Quraish Shihab di atas, seakan-akan Syiah yang sesungguhnya memang seperti apa yang digambarkannya (tidak menganggap Ahlusunnah kafir dan najis). Akan tetapi siapa mengira bahwa faktanya tidak seperti penggambaran Dr. Quraish Shihab? Jika kita merujuk langsung pada fatwa-fatwa ulama Syiah, maka akan tampak bahwa sebetulnya Dr. Quraish Shihab hendak mengelabui pemahaman umat Islam akan hakikat Syiah. Bahwa sejatinya, Syiah tetap Syiah. Apa yang mereka yakini hari ini tidak berbeda dengan keyakinan para pendahulu mereka. Dalam banyak literatur Syiah dikemukakan, bahwa orang-orang Syiah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep taqiyyah… “Suatu ketika, tokoh Syiah terkemuka, Muhammad al-Uzhma Husain Fadhlullah, dalam al-Masa’il Fiqhiyyah, ditanya: “Bolehkah kami (Syiah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan memperhatikan perbedaa-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?” Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan taqiyyah.” (348-349).

Seorang dai Syiah, Muhammad Tijani, mengungkapkan, bahwa “Mereka (orang-orang Syiah) seringkali shalat bersama Ahlusunnah wal Jama’ah dengan menggunakan taqiyyah dan bergegas menyelesaikan shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.” (hal. 350-351).

Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan PPS ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. PPS juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana “Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim, sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.

Buku terbitan PPS ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syiah, baik klasik maupun kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu ?ala as-Syiah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hokum-hukum agama mereka dari para penyeleweng, seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).

Terlepas dari fakta tentang Syiah dan kritik terhadap Quraish Shihab, terbitnya buku ini telah menjadi momen penting bagi PPS untuk turut berkiprah dalam peningkatan khazanah keilmuan Islam di Indonesia. PPS memang telah didirikan pada tahun 1745. Jadi, usianya kini telah mencapai lebih dari 260 tahun. Jumlah muridnya kini lebih dari 5000 orang. Sejumlah prestasi ilmiah tingkat nasional juga pernah diraihnya. Diantaranya, pada Ramadhan 1425 H, PPS berhasil meraih juara I dan III lomba karya ilmiah berbahasa Arab yang diselenggarakan oleh Depdiknas RI.

Dalam Jurnal Laporan Tahunan 1425/1426 H, disebutkan bahwa PPS juga cukup sering mendapat kunjungan tamu-tamu dari luar negeri. Termasuk dari kedutaan Australia dan Amerika Serikat. Mereka selalu menerima tamunya dengan baik. Tetapi, dengan sangat berhati-hati, selama ini, PPS senantiasa menolak dana bantuan dan hibah dari Australia dan Amerika.

PPS juga termasuk salah satu pesantren di Jawa Timur yang sangat gigih dalam melawan penyebaran paham Liberal. Ditulis dalam Laporan Tahunan tersebut: “Tahun ini, PPS menggerakkan piranti dunia maya untuk melestarikan dan menyelamatkan ajaran Ahlusunnah dari serbuan berbagai aliran sesat. Di website www.sidogiri.com secara khusus disediakan rubrik “Islam Kontra Liberal”. Rubrik ini digunakan oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk meng-counter wacana-wacana pendangkalan akidah yang ramai berkembang saat ini. Liberalisme, humanisme, rasionalisme, pluralisme, feminisme, sekularisme, dekonstruksi syariah dan paham-paham destruktif modern lainnya, menjadi bidikan yang terus ditangkal dengan wacana-wacana salaf yang dipegang Pondok Pesantren Sidogiri.”

Kita berdoa, mudah-mudahan akan terus lahir karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi dari PPS. Begitu juga dari berbagai pesantren lainnya.

JUDUL BUKU: MUNGKINKAH SUNAH SYIAH DALAM UKHUWAH?

Tak ada maksud lain dari kehadiran buku ini, selain sebagai upaya mendudukkan dua faham yang memang berbeda ini (Sunni-Syiah) secara proporsional. Menegaskan perbedaan, tidak berarti menutup ruang untuk saling menghormati dan bertoleransi. Justru adalah absurd, jika mimpi persatuan itu diharapkan muncul dari ranah yang memang berhadap-hadapan secara diametral.
Ajakan untuk menjalin ukhuwah adalah baik, namun jika harus mengorbankan akidah, maka itu akan menjadi musibah. Mari kita bangun ukhuwah, dengan tanpa mengormankan akidah. [AW/NU Garis Lurus]

Sumber artikel: http://panjimas.com/citizens/2015/04/19/pesantren-sidogiri-membongkar-pemikiran-menyimpang-ulama-metro-tv-quraish-shihab/

Dia yg berkata bahwa tidak ada gunanya menggunakan media sosial sebagai salah satu alat untuk 'berteriak', ada dua kemungkinan, yaitu:

Pertama, dia benar-benar tidak tahu mengenai kekuatan media sosial saat ini.

Kedua, dia benar-benar tahu betapa dahsyatnya kekuatan sosial media saat ini.

For your concern, dari pembentukan opini hingga ke penggalangan massa bisa dilakukan di media sosial dengan efek yg jauh mengalahkan media konvensional. Bahkan, para penipu ulung berkemeja putih berani menggelontorkan biaya yg tidak sedikit untuk melakukan segalanya di media sosial.

Mulai dari membangun citra hingga menjadi spion yg memata-matai pergerakan massa. Bahkan hingga sampai pengalihan isu dan lain sebagainya.

China, negara dengan penduduk terbesar di dunia bahkan harus memblokir media sosial internasional dan menggantinya dengan media sosial lokal yg sudah dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan agar bisa dikontrol dan diawasi.

Thailand, pemerintahannya di kudeta. Darimana penggalangan massanya? Ya, media sosial. Demonstrasi di Hongkong, Mesir, Prancis dan lainnya, diawali dengan pergerakan di media sosial.

Maka sekali lagi, dia yg mencoba 'membungkam'-mu agar 'diam' di media sosial hanya ada dua kemungkinan. Dia yg tidak tahu, atau dia yg justru tahu. Dia kawanmu, atau justru adalah lawanmu.

Masuknya budaya asing ke Indonesia memunculkan banyak istilah asing yang belum diketahui. Ketidaktahuan ini bisa menyebabkan konsumsi makanan haram oleh muslim seperti di foto tersebut, meski mungkin tak disengaja.

Karena itu, kenali istilah-istilah yang berkaitan dengan babi dalam Bahasa Inggris berikut:

- Pig: hewan babi, khususnya babi muda dengan berat kurang dari 50 kg

- Pork: daging babi

- Swine: istilah untuk seluruh spesies babi

- Hog: babi dewasa dengan berat melebihi 50 kg

- Boar: babi liar, babi hutan, atau celeng

- Lard: lemak babi, biasa digunakan sebagai minyak untuk masakan atau kue serta bahan sabun

- Bacon: daging hewan yang diasapi, terutama babi

- Ham: daging paha babi

- Sow: babi betina dewasa (jarang digunakan)

- Sow milk: susu babi

- Porcine: sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi.

Jika menemukan istilah-istilah tadi, tak perlu ragu meninggalkan produknya. Gantilah dengan produk sejenis yang sudah bersertifikat halal, misalnya beef bacon (daging sapi) atau turkey ham (daging kalkun).

Anda juga perlu mewaspadai istilah yang biasa terdapat di restoran Asia berikut:

- Bak: Daging babi dalam Bahasa Tiongkok. Misalnya bak kut teh dan bakkwa. Hati-hati, bakso dan bakpaopun bisa menggunakan daging babi.

- Char siu, chashu, cha siu, char siew: Hidangan Kanton berupa daging babi barbecue.

- Cu nyuk: Daging babi dalam Bahasa Khek/Hakka. Istilah ini digunakan dalam siomay dan bubur.

- Zhu rou: Daging babi dalam Bahasa Mandarin. Sedangkan rou sendiri artinya 'daging'. Misalnya hongshao rou, rou jia mo, tuotuorou, yuxiangrousi.

- Dwaeji: Daging babi dalam Bahasa Korea. Biasanya istilah ini digunakan sebagai varian bulgogi dan galbi.

-​ Butaniku: Sebutan untuk daging babi dalam bahasa Jepang​.

- Yakibuta: Hidangan Jepang mirip char siu, biasanya untuk topping ramen.

- Nibuta: Hidangan babi berupa pundak babi yang dimasak perlahan dengan sedikit kuah.

- Tonkatsu: Hidangan Jepang berupa ​irisan ​daging babi ​yang di​goreng ​dengan lapisan tepung panir.

- Tonkotsu: Hidangan Jepang berupa ramen berkuah putih keruh, terbuat dari tulang, lemak, dan kolagen babi yang direbus berjam-jam.

- B2: Sebutan untuk makanan berbahan daging babi di daerah Batak dan Yogyakarta.

- Khinzir: Babi dalam Bahasa Arab dan Melayu.

Sebaiknya ​konsumen bertanya terlebih dulu sebelum membeli sesuatu yang kandungannya belum diketahui.

"Ini untuk menghindari kejadian seperti beberapa waktu lalu, yakni (wanita berkerudung) membeli siomay cu nyuk," saran Wakil Direktur Bidang Audit dan Sistem Jaminan Halal LPPOM MUI Ir. Muti Arintawati, seperti dilansir situs Halal MUI (22/01/2015).

Menurut LPPOM MUI, kejadian dalam foto tadi kemungkinan karena si pembeli teledor, tidak bertanya terlebih dulu kepada si penjual. Di sisi lain, si penjual juga tidak jujur dengan tidak memberi informasi jelas tentang makanan yang dijual.

Muti menyarankan muslim lebih kritis sebelum mengonsumsi produk, terutama di tengah ramainya barang impor karena diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN seperti sekarang. (detik.com)

Bagaikan hidup di sebuah negeri dongeng yang penuh khayalan dan keanehan, kurang-lebih seperti itulah gambaran rezim Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sedang berkuasa di Indonesia sekarang.
Target pengeluaran yang dipatok bombastis, target penerimaan pajak yang sangat ambisius, target bagi proyek dengan pengusaha di sekeliling kekuasaan yang ugal-ugalan. Sementara sumber duitnya masih sangat tak jelas bagaikan harapan dalam impian.

Menurut peneliti dari Indonesia For Global Justice (IGJ), Salamuddin Daeng, dalam situasi ekonomi nasional yang sekarat dimana industri nasional lumpuh, menyempitnya lapangan pekerjaan, upah rendah, menyebabkan kemampuan konsusmsi masyarakat melemah. Demikian pula dengan laju konsumsi yang selama ini ditopang oleh kredit konsumsi juga merosot seiring meningkatnya suku bunga.

“Keadaan ekonomi yang sekarat akan berimplikasi langsung terhadap menurunnya penerimaan pajak pemerintah,” ujar Salamuddin Daeng.

Sementara rencana pemerintah mengeruk pendapatan cukai tembakau secara besar besaran sebagai upaya menutupi kebolongan pajak, pasti akan menuai protes dari kalangan industri.
Satu-satunya cara yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah menumpuk utang luar negeri. Sebagaimana dirilis Kementrian Keuangan, Rezim Pemerintahan Joko Widodo pada tahun ini akan berutang sebesar Rp 451,8 triliun, melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Hanya dalam setahun Jokowi akan mengambil utang 4 kali utang selama 30 tahun Presiden RI ke-2 Soeharto berkuasa.

Namun ini lagi-lagi mimpi, di tengah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang US Dollar karena menguatnya perekonomian AS terhadap seluruh mata uang dunia, memburu pendapatan negara dan devisa dari surat utang dalam jumlah sangat besar tersebut adalah ibarat “orang bangun tapi masih mimpi”. Rencana-rencana tersebut pastilah dipandang oleh para analis keuangan sebagai rencana yang tidak masuk akal.

“Tidur lagi saja pak, selamat mimpi indah,” pungkas Salamuddin Daeng peneliti dari Indonesia For Global Justice (IGJ). [KabarNet/ http://kabarnet.in /FastNews/adl]



Coba Tunjukkan Kepada Kita 1 (Satu) Orang Saja Teman Seangkatan Jokowi Saat Diwisuda! Coba Tunjukkan Kepada Kita 10 (Sepuluh) Orang Teman Seangkatan Jokowi? 


Jokowi BUKAN alumnus UGM pic.twitter.com/vT4ULwOgdb

Banyak kejanggalan yang ditemukan, berkaitan dengan status kesarjanaan suami dari Iriana ini. Seperti juga silsilah keluarga yang misterius?

Seorang sarjana akan memiliki kemampuan berpikir dan berbicara secara logis, sistematis. Demikian juga dalam bahasa lisan yang digunakannya. Mutu Jokowi sebagai seorang sarjana tidak terlihat pada kalimat-kalimatnya yang sangat sering tidak lengkap dan tidak utuh.

Seperti silsilah keluarga yang gelap dan misterius, status Jokowi sebagai Sarjana Kehutanan juga dibuat tersamar oleh semacam konspirasi?

Inilah daftar pertanyaan yang meragukan bagi saya tentang Gelar Sarjana Jokowi: 

Mengapa hanya gambar Jokowi yang berada di halaman ini? Mengapa foto-foto teman seangkatan lainnya tidak ada? Mengapa foto itu menggunakan baju kotak-kotak? Kapan foto Jokowi dengan baju kotak-kotak dipasang pada halaman tersebut? Perhatikan pula NIU beliau ada 9 digit. 

Lihat halaman teman seangkatan Jokowi dimana hanya Jokowi satu-satunya yang memiliki gambar sedangkan semua teman seangkatannya tak ada satupun yang memilki gambar (foto). Silahkan dicek:

Lihat profile teman seangkatan, atas nama Didi Prihananto, angkatan 1980, tanpa gambar mahasiswa, NIU (=Nomor Induk Universitas), hanya lima digit sedangkan Jokowi 9 digit, dan lulus tahun 1989. Apakah ada yang kuliah selama 9 tahun di perguruan tinggi negeri? 

Mengapa NIU banyak yang cuma lima digit dan yang lain memiliki 9 digit? http://alumni.ugm.ac.id/simponi/?page=adir_prf&niu=34455

Ini yang saya nilai sangat fatal dalam sistem administrasi. Mari kita buka link ini, dimana NIU atas nama AGATHA SUSILOWATI memilki 9 digit.

Bandingkan dengan link berikut ini, dimana NIU atas nama orang yang sama, yaitu AGATHA SUSILOWATI memiliki NIU dengan 5 digit. Bagaimana mungkin satu mahasiswa memiliki 2 NIU yang berbeda? Apakah ini kesalahan administrasi atau ada hal lain yang disembunyikan? Silahkan cek link ini: http://alumni.ugm.ac.id/simponi/?page=adir_prf&niu=34455

Dimana acara dukungan alumni? Di Jakarta atau Jogya? Lihat petikan kalimat ini.""Saat ini kita haus terhadap pemimpin yang bisa diteladani, Jokowi ini capres yang jatuh dari langit, kami yakin mampu menjalankan amanahnya," katanya. Apa yang bisa diteladani dari Jokowi?

Mengapa tidak ada foto momentum Jokowi dengan teman-temannya kalau mereka mengadakan reuni? Apakah berita ini untuk menutupi sesuatu?

Benarkah ini video teman seangkatan? Mengapa hanya 11 detik dan sangat singkat padahal ini moment kenangan bagus kalau memang video ini benar adanya. Apakah video ini momen lain dan bukan momen bersama teman seangkatan?

Kami temukan informasi yang sangat aneh di link ini, Di berita ini Hardanto, teman kuliah Jokowi, naik sepeda motor bersama Jokowi dan terjatuh saat menuju Sarangan dari Tawamangu. Mengapa cerita jatuh dari motor ini ada dua versi seperti 2 link berikut ini??

Sedangkan di berita ini, Jokowi jatuh dari sepeda motor dengan Riyo Samekto, teman seangkatan, saat menuju pulang ke Solo. Dua kejadian dengan dua orang berbeda tapi kejadiannya sama, yaitu tergelincir dari motor. 

Masuk akal atau kebetulan atau cerita karangan untuk membentuk bingkai palsu? Mengapa tidak ada satupun gambar sahabatnya saat kuliah? Apakah dua link tersebut dengan dua cerita "TERGELINCIR" tidak membuat anda mengernyitkan dahi? Aneh?

Banyak korelasi dengan pemberitaan lain bahwa beliau tak suka membaca, tidak mengerti administrasi, dst.

Apakah judul skripsi beliau:: "Studi Tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis Pada Penggunaan Akhir di Kodya Surakarta", sudah memenuhi kaedah penulisan judul skripsi dan penulisan ilmiah? Bukankah judul skripsi itu akan mencakup hal yang sangat luas? Seharusnya judul skripsi sangat spesifik dan fokus. Apakah keberadaan skripsi itu benar-benar ada atau cuma karangan? 

Bila diamati dari foto ini dengan kaca mata tebal dan sekarang tidak pakai kacamata lagi padahal masalah mata bersifat degeneratif dan menjadikan pertanyaan besar. Maaf, bentuk bibir bawah pada gambar lama tebal dan jatuh serta kumis yang tebal tidak konsisten dengan penampilan sekarang. Dulu memiliki kumis tebal tapi sekarang tidak berkumis. Walaupun kumis sering dicukur tapi akar kumis yang ada di bawah lapisan kulit epidermis seharusnya tetap akan tampak dengan jelas dengan cara kita memperhatikan warna hitam pada bagian kumis yang telah tercukur.

Bandingkan dua pidato pada link di bawah ini. Link pertama, pidato sebelum Pilpres dan pidato kedua setelah Pilpres. Apakah kualitas seperti ini yang dicita-citakan rakyat Indonesia yang mengatakan bahwa kartu sehat dan kartu pintar adalah kebutuhan dasar rakyat Indonesia? Pilpres 2014 adalah KONPIRASI jahat para penjahat untuk menghancurkan republik ini dan kini kita seluruh rakyat merasakan penderitaan yang amat dalam atas berdirinya rezim konspirasi ini.

Pertama, pidato sebelum Pilpres: https://www.youtube.com/watch?v=ePZ9VfeFbsA

Kedua, pidato setelah Pilpres: https://www.youtube.com/watch?v=MxRzf-MBZ5M

Mengapa aparat hukum "TIDAK MEMILIKI:" niat sedikitpun untuk membongkar banyak kasus yang melilit Jokowi? Ada apa sebenarnya? Apakah Jokowi itu THE UNTOUCHABLE?

Coba tunjukkan kepada kita 1 orang saja teman seangkatan Jokowi saat wisuda. Coba tunjukkan kepada kita 10 orang teman seangkatan Jokowi. Bisa jadi pengamatan saya salah dan untuk itu teman-teman di Jogya dapat menyelidiki secara independen dan mendalam?

Oleh: Yani Bertiana: chirpstory.com/li/258112


Ini pertanda, bisa dijadikan bahan awal untuk proses penyelidikan. Itu pun jika pihak keamanan mau dan berani melakukannya.



Mencari benang merah antara:

1. SMS Akbar Faisal, yang sama-sama sudah kita ketahui isinya dan sedang ramai menjadi pembicaraan di berbagai media dan di tengah-tengah masyarakat, dengan

2. Beredarnya kabar ancaman Komjen Budi Gunawan yang akan membongkar kecurangan Pilpres bila dirinya tidak dilantik sbg Kapolri, dan dengan

3. Ancaman Perdana Menteri Australia, akan membongkar kecurangan pilpres dan menguak identitas Jokowi sebenarnya, bila Jokowi jadi meng-eksekusi 2 orang terpidana mati kasus Narkoba (Bali Nine.), dan dengan

4. Beredar kabar tentang bocornya pembicaraaan telepon Denny JA yang menyatakan bahwa, pasangan Prabowo-Hatta sbg pemenang pilpres, dan dengan

5. Tertangkapnya 34 hacker situs KPU asal Tiongkok di Kecamatan Gajah Mungkur Semarang tgl 19 Juli 2014, dan dengan

6. Kedatangan Bill Clinton dengan dalih membawa misi lingkungan hidup. Di tengah memanasnya konstelasi politik jelang penetapan pemenang pemilihan Presiden menimbulkan sejumlah tafsir dan kecurigaan di masyarakat.

Terlebih, rentang waktu kedatangan Bill Clinton pada 16 Juli - 23 Juli 2014, bertepatan dengan masa krusial terkait jadwal pengumuman pemenang Pemilu oleh KPU.

Seharusnya dan sudah menjadi kewajiban penegak hukum untuk dapat mengusut dan membongkar kasus ini, apabila penegak hukum masih berharap dan menginginkan Bangsa ini berdiri kokoh di atas konstitusi dan agar Negara tidak tersandera dan didera dengan persoalan yang sangat krusial seperti ini.

Media menentukan siapa yg baik dan siapa yg jahat , yg baik bs dihukum jahat oleh media , yg jahat bs dicitrakan baik.

Operasi media membuat sesuatu yg bukan realita dianggap realita.

Media yg menentukan seseorang terbaik atau tidak, bersalah atau tdk, kosong atau isi, tdk peduli apapun realitanya.

Bersalah atau tdk ditentukan di ruang rapat dewan redaksi ... bukan dipengadilan.

Pencitraan koruptor adalah partai Islam pun bagian dr operasi media , padahal kita tau sendiri realitanya , siapa partai terkorup.

Skrg Islam dilabelkan ISIS, zaman SBY dilabelkan teroris , zaman suharto dilabelkan teroris , zaman belanda dilabelkan pemberontak , radikal.

Media menebar persepsi "masyarakat skrg sudah cerdas" , seolah2 mereka sudah mencerdaskan masyarakat. Pdhl yg trjadi sebaliknya.

Kenyataannya sdbaliknya media membuat masyarakat jd memusuhi yg benar dan mendukung yg salah .

Penyesatan opini semacam ini juga sudah terjadi di zaman para nabi .. Shingga nabi dipersepsikan salah.

Para nabi diopinikan sbg org gila, pemecah belah , penebar kebencian, tukang sihir dll.

Hari ini opininya muslim adalah ISIS, zaman SBY, muslim itu  teroris. Zaman suharto , muslim itu subversif.

KPK , densus , BNPT dalam rangkaian demonisasi Islam .. Jk tdk salah, dibuatlah spy seolah2 salah, jk pun salah dibesar2 bhw ini salah Islam.

Penegakan syariah Islam sbg kesepakatan pembentukan konsepsi negara pun dikhianati oleh sukarno.

Di zaman suharto diberlakukanlah asas tunggal , subversif menjadi label yg menjustifikasi pemberangusan Islam dan aktivis Islam.

Zaman suharto , media milik negara , informasi dikuasai oleh negara . Hari ini negara dimiliki penguasa media .

Demonisasi Islam ini terjadi di masyarakat barat juga terjadi di dunia Islam.

Ketidakfahaman dunia akan Islam , krn penyesatan opini, menjadi kerugian sendiri bagi dunia.

Bagian dr strategi demonisasi ini adalah standar ganda . Jk muslim bersalah maka Islam disalahkan, jk non muslim bersalah mk bkn salah agama.

Jk utk kepentingan barat , maka demokrasi didukung , jk mengancam kepentingan barat maka demokrasi dihancurkan. Kasus kudeta mursi mesir.

Dibuatlah daftar teroris , dimana makna teroris adalah semua yg mengancam kepentingan barat, dimana zionis dan salibis di belakangnya.

Sehingga Hamas adalah teroris , IM adalah teroris , sehingga refah turki dan FIS aljazair dihabisi.

Kenapa hamas disebut teroris? Krn lawan Israel. Kenapa IM disebut teroris? Krn langkahnya di mesir mengganggu kepentingan israel.

Taliban juga disebut teroris krn melawan invasi barat ke afganistan, dibesar2kanlah citra bahwa taliban teroris radikal kejam.

Amerika dulu bikin rambo 3 utk opini bahwa mrk pahlawan afghanistan, tp juga bikin "true lies" utk propaganda islam teroris.

Sebagian Umat Islam yg menjadi korban penyesatan opini pun tdk sadar , mrk justru bergabung melawan Islam.

Inilah pentingnya berpikir , tabayyun ... islam memerintahkan ini .

Krn bodoh, sebagian umat Islam berpikir hamas teroris , IM teroris , taliban teroris , dst.

Sebagian umat Islam pun percaya bahwa partai islam korup , menolak fakta sesungguhnya yg disembunyikan media , partai terkorup adalah partai sekuler.

Salah satu alasan Gubernur Ahok untuk melegalisasi miras adalah karena Jakarta adalah kota majemuk. Jakarta bukan hanya milik orang Islam saja. Ada orang Kristen, Hindu, Buddha, Sikh bahkan Yahudi.

Alasan yang mungkin terlalu naif diucapkan seorang Gubernur seolah-olah hanya Islam yang mengharamkan alkohol. Mari kita lihat kenapa alkohol, miras, dan segala yang memabukkan dilarang dalam kitab agama apa pun.

Islam

Dalam Al Quran surah Al Maa’idah 90, “Sesungguhnya khamar berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah najis termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan …”

Kristen dan Yahudi

Dalam kitab Imamat 9:8-9, Tuhan berfirman kepada Harun, “Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, supaya kamu jangan mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun temurun”

Dalam kitab Hakim-hakim 13:4, “Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.”

Larangan minum alkohol atau yang memabukkan juga terdapat dalam Kitab Hakim-hakim 13:14, Yesaya 5:11, Amsal 20:1, Amsal 23:20, Hosea 4:11, Matius 27:34, Exodus 12: 15 (RSV)

Buddha

Aturan Kelima (The Fifth Precept) dalam agama ini menyatakan, “Aku berusaha untuk tidak meminum minuman difermentasi dan disuling yang dapat menyebabkan Ketidaksadaran.”

Kitab Hindu melarang alkohol,
“Untuk minuman keras kotoran yang diekskresikan dari beras, dan kotoran tersebut berasal dari setan; Oleh karena itu seorang imam, penguasa, atau orang biasa tidak boleh minum minuman keras.”

Larangan minum alkohol atau minuman memabukkan juga terdapat dalam kitab Manu Smriti Bab 11 ayat 151, Manu Smriti Bab 7 ayat 47-50, Manu Smriti Bab 9 ayat 225, Rigved Book 8 hymn 2 ayat 12 dan  Rigved Book 8 hymn 21 ayat 14

Bahkan Ajaran Sikh, The Guru Granth Sahib melarang umatnya minum alkohol. Guru mengatakan,
“Minum anggur membuat kecerdasan menurun dan merusak pikiran.” (SGGS p554)

5 Larangan di dalam ajaran Sikh :
1) Tidak boleh potong rambut
2) Tidak boleh berkelakuan buruk
3) Tidak boleh merokok
4) Tidak boleh makan daging yang disembelih
5) Tidak boleh minum minuman beralkohol

Satu-satunya agama yang menghalalkan alkohol dan miras adalah agama uang (The Religion of Money). Bisnis alkohol adalah ladang basah. Di Amerika saja konsumsi bir tahun 2013 mencapai lebih dari 230 juta barrel dengan pendapatan tahunan 300 hingga 400 triliun rupiah.

Indonesia adalah salah satu pasar besar untuk penyebaran alkohol. Tidak perlu retorika dan debat kusir untuk membuktikan bahwa alkohol merusak dan mengorbankan banyak orang. Ribuan yayasan sosial dan kelompok-kelompok anti alkohol di negara-negara barat bahkan berjuang untuk menentang legalisasi miras. Mereka menyadari kecanduan alkohol merusak kehidupan mereka dan menceraiberaikan keluarga. Di saat orang-orang barat yang menjadi korban kecanduan alkohol melawan produk-produk bir, anggur dan yang lainnya, pemerintah kita justru berusaha melegalisasi…

Jakarta adalah Ibukota umat Islam terbesar di dunia. Haramkan alkohol dan kawal setiap kebijakan Sang Gubernur.

Fimadanicom