+10 344 123 64 77

Dia adalah Prof. Dr. Muhammad Dhiya'urrahman Al A'dzamy. Berikut biografi singkat beliau yang berhasil kami himpun dari berbagai sumber dan berdasarkan wawancara kami dengan beliau setahun yang lalu.

Beliau dilahirkan di India pada tahun 1362 H/1943 M dari sebuah keluarga Hindu yang taat. Beliau tidak ingat pasti kapan tanggal lahirnya. Semua data tentangnya hilang saat melarikan diri dari India.

Terlahir dari keluarga yg berkecukupan membuatnya mampu melanjutkan pendidikan hingga tingkat tsanawy (SMP). Sejak usia dini minat bacanya cukup tinggi. Banyaknya agama dan kepercayaan di India mendorong rasa ingin tahunya untuk mempelajari berbagai agama, mulai dari Yahudi, Kristen ,Budha dan agama-agama lainnya. Hingga kemudian Allah membukakan hatinya untuk memeluk Islam.

Interaksinya dengan berbagai macam literatur keagamaan mendorongnya menulis berbagai makalah ilmiah di bidang perbandingan agama. Diantara karya beliau dibidang perbandingan agama adalah "Dirasat fi Al-Yahudiyah wa An-Nashraniyah wa Adyaan Al-Hindi. Buku ini dicetak dalam jilid besar oleh "Maktabah Ar-Rusyd"

Perjalanan spiritualnya hingga memeluk islam sangat panjang. Semuanya beliau tuangkan dalam sebuah risalah yang berjudul "Min Dzulumaat Al Watsaniyyah Ila Dhiyaa' Al-Islam"

Saat menyatakan masuk islam, keluarga menolak keras perpindahan yang dilakukannya. Berbagai cara ditempuh agar menyurutkan iman keislamannya. Puncaknya mereka berencana untuk membunuhnya. Karena tekanan dan penindasan yang dialaminya demi mempertahankan keyakinan barunya, beliau melarikan diri ke negara tetangga Pakistan. Di Pakistan beliau ikut sebuah lembaga pendidikan asuhan Jamaah Islamiah (JI) yang diketuai oleh Abul A'la Al Maududy. Disanalah beliau mempelajari dan mendalami Madzhab Hanafy. Hingga akhirnya Allah membimbing beliau untuk sepenuhnya mengikuti dalil dan meninggalkan fanatik madzhab serta Jama'ah Islamiyah. Kisahnya bersama Jamaah Islamiyah bisa dibaca pada bagian terakhir dari buku beliau "Marwiyaat Abu Hurairah" cet. Maktabah Al ghuraba' madinah.

Agar keilmuannya semakin mantap, beliau memutuskan untuk pindah ke negeri Haramain. Di tempat barunya, beliau melanjutkan pendidikan strata satu di Universitas Islam Madinah (UIM). Setelah menyelesaikan pendidikan strata satu, beliau melanjutkan pendidikan pada program pasca sarjana Universitas Al Azhar Kairo di bidang hadits. Setelah meraih predikat Doktor dengan nilai terbaik beliau kembali dan diberi tugas sebagai dosen di Universitas Islam Madinah.

Beberapa tahun kemudian beliau dipercaya untuk menjalankan amanah sebagai Dekan Fakultas Hadits Universitas Islm Madinah. Selain pakar di bidang Hadits, Beliau juga sangat mumpuni di bidang perbandingan agama dan theologi, beliu sering diminta untuk menjadi pembimbing terhadap sejumlah desertasi di didang ini. Sebagai penghormatan atas kerja keras dan pengabdiannya terhadap Islam Kerajaan Saudi Arabia memberinya kewarganegaraan.

Kini beliau -hafidzahullah- tinggal menetap di Madinah Al Munawwarah. Diusianya yang tak lagi muda beliau menghabiskan waktunya untuk menulis pada berbagai disiplin ilmu. Tiga hari dalam sepekan (Senin, Selasa, Rabu ba'da Isya) beliau rutin menyampaikan ta'lim di Masjid Nabawi As-Syarief dengan materi Ilmu Hadits(*).

Saya pernah bertanya, "Mengapa anda lebih banyak waktu menulis ketimbang memberi pelajaran..?" Beliau menjawab "Bila aku mati, karyaku adalah kehidupan yang kedua bagiku"

Diantara Karya beliau:

1. Al jaami" al kamil (insyaallah akan dicetak dalam 20 jilid(**)
2. Mu'jam Mustholsh Al-Hadits
3. Dirasaat fil jarh watta'dil
4. Dirasat fi Al Yahudiyah wa An Nashraniyah wa Adyaan Al-Hindi
5. Minnatul Kubro Syarh & Takhrij Sunan As-Shughro (9 jilid)
6. Aqdhiah Rasulillah sallallahu alaihi wasallam karya Ibn al-Thalla' al-Qurtubi (wafat 497 h) (dirosah & tahqiq)

Dan Masih banyak lagi

Catatan:
* Saat ini beliau fokus pada qiroah & ta'liq terhadap Shohih Bukhory
** Kabar itu kami terima dari beliau beberapa pekan sebelum kami meninggalkan Madinah, wallahu a'lam apakah ada perubahan atau tidak.

_______________
Madinah, Ahad 23-04-1435 H
ACT El-Gharantaly

Oleh: Dr. Adin Husaini

Pada 1 Juli 2009, Dr. Marwa El-Sherbini, seorang Muslimah yang sedang hamil tiga bulan dibunuh oleh seorang non-Muslim di Pengadilan Dresden Jerman. Dr. Marwa dibunuh dengan sangat biadab. Ia dihujani tusukan pisau sebanyak 18 kali, dan meninggal di ruang sidang.

Dr. Marwa hadir di sing pengadilan, mengadukan seorang pemuda Jerman bernama Alex W yang menjulukinya sebagai “teroris” karena ia mengenakan jilbab. Pada suatu kesempatan, Alex juga pernah berusaha melepas jilbab Marwa, Muslimah asal Mesir. Di persidangan itulah, Alex justru membunuh Dr. Marwa dengan biadab. Suami Marwa yang berusaha membela istrinya justru terkena tembakan petugas.

Mungkin karena korbannya Muslim, dan pelakunya warga asli non-Muslim, peristiwa besar itu tidak menjadi isu nasional, apalagi internasional. Tampaknya, kasus itu bukan komoditas berita yang menarik dan laku dijual!

Bandingkan dengan kasus terlukanya seorang pendeta Kristen HKBP di Ciketing Bekasi, akibat bentrokan dengan massa Muslim. Meskipun terjadi di pelosok kampung, dunia ribut luar biasa. Menlu AS Hilary Clinton sampai ikut berkomentar. Situs berita Kristen www.reformata.com, pada 20 September 2010, menurunkan berita: “Menlu AS Prihatin soal HKBP Ciketing”.

Menyusul kasus Ciketing tersebut, International Crisis Group (ICG), dalam situsnya, (www.crisisgroup.org) juga membuat gambaran buruk terhadap kondisi toleransi beragama di Indonesia: “Religious tolerance in Indonesia has come under increasing strain in recent years, particularly where hardline Islamists and Christian evangelicals compete for the same ground.”

Banyak orang Muslim terbengong-bengong dengan fenomena ketidakdilan informasi yang menimpa mereka. Saat menemani Presiden Barack Obama melihat-lihat Masjid Istiqlal, Prof. KH Ali Musthafa Ya’qub menyampaikan titipan kaum Muslim Washington yang sudah tujuh tahun menunggu izin pendirian Masjid. Padahal, tanah sudah tersedia. Izin sudah diajukan dan belum kunjung keluar.

Masalahnya, yang jadi korban Muslim! Mungkin, oleh berbagai pihak, kasus yang menimpa kaum Muslim dianggap bukan komoditas berita yang menarik dan layak jual.

Kasus-kasus penyerangan tempat ibadah dan orang-orang Muslim di dunia Barat sangat melimpah datanya. Kebencian terhadap Muslim meningkat setelah peristiwa 11 September 2001. Berbagai laporan menunjukkan terjadinya vandalisme di banyak masjid dan kuburan Muslim hampir di seluruh Eropa. Pelecehan terhadap Islam seperti dilakukan oleh politisi Belanda Geert Wilders, juga tidak menjadi isu internasional tentang pelecehan Islam.

Pada 12 Februari 2010, Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) menyebarluaskan data perusakan gereja di Indonesia. Kata mereka, hingga awal tahun 2010 telah ada hampir sekitar 1200 buah gereja yang dirusak dan ditutup. Berita ini tersebar ke seluruh dunia.

Fantastis! Ada 1200 gereja dirusak di Indonesia, sebuah negeri Muslim terbesar di dunia! Wajar jika dari ekspose angka itu akan muncul persepsi negatif terhadap Indonesia dan kaum Muslim. Setidaknya, bisa muncul opini, betapa biadab dan tidak tolerannya orang Muslim di Indonesia! Jika kasus satu gereja di Ciketing Bekasi saja sampai ke telinga Hillary Clinton, bagaimana dengan kasus 1.200 perusakan gereja!

Sayang, tidak ada analisis komprehensif dan jujur mengapa dan jenis kerusakan apa yang dialami gereja-gereja itu. Data Badan Litbang Kementerian Agama menunjukkan, pertumbuhan gereja Protestan di Indonesia pada periode 1977-2004, menunjukkkan angka yang fantastis, yakni 131,38 persen. Gereja Katolik lebih fantastis, 152 persen. Sedangkan pertumbuhan rumah ibadah umat Islam meningkat 64,22 persen pada periode yang sama.

Angka pertumbuhan gereja di Indonesia yang fantastis itu mestinya juga diekspose oleh lembaga-lembaga Kristen ke dunia internasional, agar laporan mereka lebih berimbang dan fair terhadap kondisi keberagamaan di Indonesia! Itu jika ada keinginan untuk membangun Indonesia sebagai rumah bersama, agar lebih adil, makmur, dan sejahtera.
Dalam soal toleransi beragama, antara opini dan fakta memang bisa jauh berbeda. Umat Islam sudah kenyang dengan rekayasa semacam itu. Dunia Barat bepuluh tahun tertipu oleh opini yang diciptakan kaum Zionis, bahwa negeri Palestina adalah tanah kosong, tanpa penduduk. Bertahun-tahun banyak orang Barat percaya, bahwa Israel adalah “David” sedangkan negara-negara Arab adalah “Goliath”. Kini, banyak yang sudah terbuka matanya, apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam beberapa kali mengikuti perjalanan jurnalistik ke luar negeri, antara tahun 1996-1997, saya melihat bagaimana masalah Islamisasi di Timtim itu kadangkala diangkat oleh wartawan Barat dalam acara jumpa pers dengan pejabat-pejabat pemerintah RI. Mereka termakan oleh kampanye Uskup Belo selama bertahun-tahun bahwa telah terjadi Islamisasi di Timtim yang antara lain difasilitasi oleh ABRI.

Padahal, fakta bicara lain. Yang terjadi di masa integrasi Timtim dengan Indonesia adalah Katolikisasi! Bukan Islamisasi! Hasil penelitian Prof. Bilver Singh dari Singapore National University, menunjukkan, pada 1972, orang Katolik Timtim hanya berjumlah 187.540 dari jumlah penduduk 674.550 jiwa (27,8 persen). Tahun 1994, jumlah orang Katolik menjadi 722.789 dari 783.086 jumlah penduduk (92,3 persen). Tahun 1994, umat Islam di Timtim hanya 3,1 persen. Jadi dalam tempo 22 tahun di bawah Indonesia, jumlah orang Katolik Timtim meningkat 356,3%. Padahal, Portugis saja, selama 450 tahun menjajah Timtim hanya mampu mengkatolikkan 27,8% orang Timtim.

Melihat pertambahan penduduk Katolik yang sangat fantastis itu, Thomas Michel, Sekretaris Eksekutif Federasi Konferensi para Uskup Asia yang berpusat di Bangkok, menyatakan, “Gereja Katolik di Timtim berkembang lebih cepat dibanding wilayah lain mana pun di dunia.” (Lihat, Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan (Jakarta: IPS, 1998).

Itu fakta. Tapi, opini di dunia internasional berbeda. Sejumlah kasus Islamisasi di Timtim diangkat dan dibesar-besarkan sehingga menenggelamkan gambar besar kondisi keagamaan di Timtim saat itu.

Ini kepiawaian mencipta opini! Perlu diacungijempol. Tokoh agama menjalankan fungsinya sebagai juru kampanye, bahwa umatnya tertindas, terancam, dan perlu pertolongan dunia internasional. Dan, kampanye itu menuai hasil yang mengagumkan! Dunia diminta percaya bahwa kaum Kristen terancam dan tertindas di Indonesia; bahwa tidak ada toleransi, tidak ada kebebasan beragama di negeri Muslim ini. Berbagai LSM di Indonesia sibuk mengumumkan hasil penelitian bahwa kondisi kebebasan beragama di Indonesia sangat buruk.
Cara eksploitasi kasus di luar batas proporsinya ini sangat merugikan citra bangsa. Padahal, lihatlah fakta besarnya! Muslim Indonesia sudah terbiasa dengan keberagaman dalam kehidupan beragama. Umat Muslim terbiasa menerima pejabat-pejebat non-Muslim duduk di posisi-posisi penting kenegaraan. Umat Muslim sangat biasa melihat tayangan-tayangan acara agama lain di stasiun televisi nasional. Hari libur keagamaan pun dibagi secara proporsional.

Tengoklah, berapa gelintir orang Muslim yang diberi kesempatan untuk menjadi pejabat tinggi di negara-negara Barat, sampai saat ini. Tengoklah, apakah kaum Muslim di sana bebas mengumandangkan azan, sebagaimana kaum Kristen di Indonesia bebas membunyikan lonceng gereja. Apa ada hari libur untuk kaum Muslim saat berhari raya, sebagaimana kaum Kristen menikmati libur Natal dan Paskah?

Tengoklah pusat-pusat pembelanjaan dan televisi-televisi Indonesia saat perayaan Natal! Apakah kaum Kristen dihalang-halangi untuk merayakan Natal dan hari besar lainnya? Justru yang terjadi sebaliknya. Di Indonesia, sebuah negeri Muslim, suasana Natal begitu bebas merambah seluruh aspek media massa.

Dalam kondisi maraknya ritual Kristen dan Kristenisasi di Indonesia, sungguh suatu “kecerdikan yang luar biasa” dalam bidang teknik pencitraan, bahwa Indonesia dicitrakan sebagai sebuah negeri yang tidak memberikan toleransi beragama kepada minoritas Kristen. Seolah-olah mereka adalahn umat yang tertindas dan teraniaya. Adanya kasus-kasus tertentu diangkat dan dieksploitasi begitu dahsyat sehingga Indonesia dicitrakan sebagai negeri yang tidak ada kebebasan beragama.

Tentu, adilnya, jika ingin menikmati kecantikan wajah seorang gadis, lihatlah seluruh wajahnya! Jika hanya satu dua jerawat yang diteropong dan dipelototi habis-habisan, maka wajah cantik itu akan hilang dari pandangan mata!

Kaum Muslim pasti sangat mencintai negeri ini. Muslim pasti mencintai toleransi, kerukunan, dan perdamaian. Hanya saja, tokoh Islam Indonesia M. Natsir, pernah memohon: “…kalaulah ada suatu harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula memotong tali warisan ini!”

Kaum Muslim perlu terus mengambil hikmah dan pelajaran dari berbagai kasus yang menimpa mereka. Juga, kaum Muslim, terutama para aktivis dakwah, perlu terus meningkatkan kualitas dan kemampuan dakwahnya, agar mereka tidak mudah dikelabui dan diperdayakan. Toleransi umat Islam dinegeri ini tidak dihargai, justru umat Islam dicitrakan sebagai umat yang tidak toleran, padahal secara umum, mereka sudah berbuat begitu baik kepada kalangan non-Muslim dalam berbagai bidang kehidupan. (17 Desember 2010).

Alur diubahnya Rupiah kita menjadi peluru tentara Zionis-Isael sebenarnya sangat sederhana. Ini adalah ilustrasi yang mudah. Misal, di dekat rumah kita berdiri salah satu gerai makanan cepat saji yang berasal dari Amerika, sebut saja namanya “McDul”. 

Walau karyawannya orang Indonesia, juga para pemasok bahan-bahan mentahnya juga orang Indonesia, dan empunya gerai tersebut juga pengusaha Indonesia, namun karena gerai makanan cepat saji “McDul” itu berasal dari AS, hak patennya milik pengusaha AS, dan ada biaya waralaba yang harus disetor secara rutin dari gerai makan dekat rumah kita itu kepada markas besarnya di AS, maka sebenarnya gerai McDul di dekat rumah kita itu merupakan satu tentakel atau salah satu cabang dari ratusan ribu gerai makanan cepat saji McDul yang markas besarnya ada di Amerika. 

Sebagian keuntungan dari gerai McDul di dekat rumah kita itu akan mengalir ke pusat McDul di Amerika Serikat. Padahal, menurut sejumlah bukti yang ada, perusahaan McDul di AS itu diketahui telah menyumbangkan sebagian labanya ke Israel.

Apakah mereka ingin mengubah keyakinan umat Islam? Bukan. Sepanjang yg saya tahu mereka 'tidak tertarik' dengan itu. Menjadikan umat Islam berubah keyakinan dan kemudian memeluk agama mereka, bagi mereka bukanlah prestasi yg luar biasa.

Lagian pula, mereka tahu bahwa tidak mudah untuk berpindah agama.

Lalu untuk apa?

Pertama, adalah masalah eksistensi. Apa yg (oknum) mereka lakukan adalah masalah eksistensi. Sebagai warga minoritas yg hidup di negara yg berpenduduk muslim terbanyak di dunia, mereka butuh perhatian publik bahkan dunia bahwa mereka itu ada dan tidak diam saja.

Crusade war tetap berlanjut. Walau dengan cara yg berbeda.

Kedua, dan ini INTI-nya, adalah menguji (test case) seberapa besar efek dari 'perang pemikiran' yg telah gencar mereka lakukan pasca kekalahan mereka di Crusade War 'terakhir' pada tahun 1254.

Seperti yg kita ketahui bahwa, pasca kekalahan mereka pada Crusade War 'terakhir' yg dipimpin oleh Louis IX, mereka sadar bahwa memerangi umat Islam dengan cara peperangan langsung adalah sebuah hal yg mustahil. Melakukannya sama saja dengan bunuh diri.

Maka Louis IX saat itu mencanangkan strategi perang baru yg dinamai 'Perang Pemikiran'.

"Misi utama kita bukan menghancurkan kaum muslimin lalu mengeluarkan mereka dari agama Islam dan berpindah ke agama kita. Misi utama kita adalah melahirlan generasi baru yg jauh dari nilai-nilai Islam (Al Quran dan Sunnah). Generasi yg tidak mempunyai keterikatan dengan Allah. Generasi yg tidak mempunyai keterikatan moral. Generasi yg tunduk kepada kita. Generasi yg malas dan hanya mengejar hawa nafsunya" (Semuel Zweimer, 1936).

"Percuma kita memerangi umat Islam. Kita selamanya tidak akan pernah mampu menguasai mereka sepanjang di dada pemuda dan pemudi masih ada Al Quran. Tugas utama kita adalah mencabut Al Quran dari hati mereka. Baru kita akan menang dan menguasai mereka.

Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu, tanamkan kepada hati mereka rasa cinta terhadap materi dan ketakutan atas mati..." (Gleed Stones, Mantan PM Inggris)

Nah, setelah era 'menuai' infiltrasi pemikiran yg mulai dilakukan ratusan tahun lalu, menumbuh kembangkan 'kepercayaan' baru (liberalisme, sekularisme, sll). Saat ini adalah saat 'memanen'.

Dulu mereka tiarap. Menjalankan misinya secara sembunyi-sembunyi. Sekarang mereka sudah berani menampakkan diri.

Ya. Saat puncak-puncaknya umat Islam mengalami kelemahan di sana sini, dan terlena dengan bergelimangnya materi duniawi.

Maka, jangan kaget dengan penguasaan media, informasi, teknologi, hingga bidang politik dan ekonomi dijalankan secara masif.

Citra Islam dikerdilkan dengan teroris, tukang kawin, anti HAM, dll. Sementara mereka berlindung di balik topeng pahlawan HAM, emansipasi, toleransi, dll.

Satu-satunya cara adalah kita bangun dari tidur pulas kita. Kita sadar dari keterlenaan dunia. Kita kembali mulai berbenah. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan penyadaran-penyadaran kepada masyarakat akan begitu besarnya potensi umat Islam.

Waktu yg lalu di Papua, gereja-gereja satu suara. Para pendeta, pastor dan tokoh agama mereka tidak henti-hentinya berkhotbah untuk 'mensukseskan' Pemilu untuk memuluskan kemenangan para tokoh daerah dan tokoh nasional yg sejalan dengan misi mereka. Sahabat sudah tahu sendiri siapanya. Dan kini, mari perhatikan 'balasan' dari sang tokoh yg dimenangkan:

1. Pembebasan tahanan politik Papua yg berupaya menjadikan Papua terlepas dari Indonesia.
2. Memperpanjang kontrak PT. Freeport Indonesia.
3. Dalam tragedi Tolikara, Prseiden malah mengundang 'provokator'-nya ke Istana Negara. Hal yg kontra jika pelaku tragedi intoleran adalah Muslim.
4. Berdiam diri atas tanpa klarifikasi atas isu pernyataannya mendukung Referendum Papua.
5. Dan lain-lain hal sebagainya.

Sementara umat Islam dibuat berpecah.

-AMI'

Sedang asyik beribadah digereja tiba-tiba sekelompok orang berjanggut dan bercelana cingkrang serta berjidat hitam membakar GEREJA Katredral di Jakarta, sontak para jema’at gereja lari ketakutan. Tak kalah METROTV-pun menyiarkannya hampir FULL 24 JAM nonstop dg HeadLine “Teroris membakar Gereja Katredral Jakarta”. Berita inipun meluas hingga mancanegara, lalu diwawancarailah para korban disana dan pendeta utk menceritakan kekejaman para teroris, diundang pula narasumber pengamat teroris dan JIL/Islam Toleran. Pengamat teroris mengatakan, para pelaku ada hubungannya dg ajaran radikal ustadz Abu Bakar Baasyir dan terindikasi dg jaringan teroris internasional/JI dan lulusan pesantren Ngruki, Solo dan perlu diadakan DERADIKALISASI diseluruh pesantren yang ada di Indonesia (sampai sekolahnyapun kena getahnya, beda dg koruptor yg tdk dikaitkan dg sekolahnya dulu).

Sedang JIL (Jaringan Islam Liberal)/Islam Toleran berpendapat, Islam itu agama indah dan damai, kalau kita berpuasa maka wajib bagi kita menghormati yang tidak puasa, kalau ada PSK/miras wajib bagi kita menghormati PSK, karena apa? Karena bisa jadi PSK lebih mulia dari ibumu, bisa jadi ibumu nanti masuk neraka sedang PSK itu masuk surga, kalau ada masjid dibakar ya wajib bagi kita menghormati yang membakar, itulah yang namanya TOLERAN karena Islam adalah agama damai, stop kekerasan atas nama Agama. Kalau mau berjihad…berjihadlah melawan hawa nafsu diri sendiri. Lawanlah rasa marah ketika masjid dibakar atau Muslim Palestina dibom dan tersenyumlah. Sudah bisa membangun 10 masjid belum? Sudah bisa menghajikan orang sekampung belum? Sedekah saja gak mampu malah mau berjihad ngebela Palestina segala. Kalau ada orang menampar pipi kiri maka berilah pipi kanan untuk ditampar lg. Lagian ngapain berjihad jauh-jauh padahal tetanggamu sendiri kelaparan. Sepulangnya wawancara distasiun TV itu, kedua narasumber itu makan bersama di KFC sambil terkekeh-kekeh menghitung uang diamplop hasil komisi wawancara.
Tak berapa lama DENSUS 88 berhasil membunuh para TERDUGA TERORIS, ada yg sedang sholat langsung ditembak, ada juga yg ditembak didepan isteri dan anak-anaknya padahal tak melawan dan tak bawa senjata apa-apa. Setelahnya KAPOLRI mengadakan konperensi pers mengumumkan daftar nama-nama teroris beserta foto-fotonya yang berhasil ditembak mati dan disiarkan keseluruh nusantara.
Bang JIL&JIN-pun tak mau kalah ikut berkomentar…inilah kelompok KHAWARIJ alias anjing-anjing neraka yang tidak taat dg ULIL AMRIK yang mengkafirkan para pemimpin yg bersekutu dg Amerika/Rusia! Mereka wajib hukumnya dibunuh, BRAVO DENSUS 88! Maka wajib bagi kita berjihad menjaga gereja-gereja diseluruh Indonesia dari serangan teroris! Kalau tidak suka Indonesia, silakan pindah ke Arab….stop Arabisasi! Usir orang Arab dari Indonesia mari kita kembali ke Islam Nusantara/JIN.*Acara ini ditayangkan berhari-hari siang dan malam tanpa henti. Sayangnya cerita diatas hanya fiktif karangan ane belaka….Baca Juga: Terungkap SURAT LARANGAN IDUL FITRI Dari Gereja, Yang Berakhir Pembakaran Saat Sholat ‘Ied Di Tolikara Papua
==================================================

ALHAMDULILLAH…beruntung ternyata pelakunya BUKAN ORANG ISLAM ketika terjadi TRAGEDI di Papua, DENSUS 88-pun bisa tidur dg nyenyak, MetroTV-pun pura-pura tidak tahu dan penggiat HAM diam membisu, maka tragedi pembakaran Masjid itu seperti tidak terjadi apa-apa alias HANYA dianggap perbuatan oknum biasa yang terganggu suara speaker akibat kumandang TAKBIR yg dialunkan dihari raya IDUL FITRI. Para pejabat mungkin sedang memikirkan perlu adanya PERDA pelarangan pengeras suara di masjid-masjid karena dianggap sebagai provokasi+polusi suara dan pelarangan JILBAB karena bentuk Arabisasi serta perbanyak lokalisasi PSK diapartemen2 sebagaimana saran Ahok dan tempat maksiat sebagai bentuk pro Westernisasi atau pro Komunis dg menghilangkan kolom agama di KTP.

=================================================

Semoga Papua dan daerah-daerah di Indonesia tetap aman dan damai, banyak yang ingin Indonesia hancur seperti keinginan skenario separatis teroris OPM dukungan Australia yg banyak membunuh TNI dan RMS dukungan Belanda.

Ada permaiInan intelijen di Tolikara, Papua. Ada pihak ketiga sebagai "penumpang gelap" yang bermain di Tolikara. Tujuan skenario adalah konflik komunal antar-umat beragama di Papua.

Agenda lanjutannya adalah konflik horizontal antara penganut Kristen versus Muslim yang bersifat meluas. Ketika telah muncul kerusuhan sosial bermotif SARA, maka akan dimunculkan stigma bahwa telah terjadi intoleransi.

Agenda selanjutnya adalah kehadiran pasukan asing (baret biru / pasukan PBB) di Bumi Cendrawasih --- ini sering terjadi di berbagai negara.

Ujung-ujungnya adalah Referendum. Apakah kita siap melepas Papua dari Bumi Pertiwi, jika umat Muslim terbawa larut oleh hidden agenda ini? Agenda tersembunyi sering lolos dari pantauan. Pemilik agenda ingin menguasai sumberdaya alam secara total, jika Papua bisa lepas dari NKRI.

Pola semacam ini sukses di Timor Timur, yang akhirnya Timor Timur berhasil dipisahkan dari bingkai NKRI.

Pertanyaan sederhana, seandainya Papua cuma menghasilkan koteka dan akik paparaja, mungkinkah meletus "insiden Tolikara" ?

Insiden Tolikara adalah bahan permainan cantik intelijen. Konflik di Tolikara tidak berdiri secara tunggal sebagai fenomena sosial.

Anak-anak bangsa justru gaduh pada permainan-permainan di hilir persoalan bangsa yang besar ini.

Semoga kita semua tidak terprovokasi permainan kotor yang akan merusak kehidupan beragama di Indonesia, kita tetap Bhinneka Tunggal Ika.

Oleh: Yani Bertiana: chirpstory.com/li/276979

Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal).

Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.

Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa?

Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.

Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.

Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?

Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.

Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).
Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika dengan cara ini kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?

Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.

Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini?

Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?

Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan hegemoni di tingkat dunia.

Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).

Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.

Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.

Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.

Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.

Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.

Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?

Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.

Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya. Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.

Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.

Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?

Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.

Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?

Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?

Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan cara berikutnya.

Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.

Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.

Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini.

Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?

Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.

Bagaimana hasil akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia. [Dwi Condro Triyono, Ph.D] —

MENJELANG AKHIR TAHUN 1984, masyarakat Indonesia sempat dikejutkan oleh kasus peledakan yang terjadi di gereja Katholik Sasana Budaya di jalan MGR Sugiyopranoto, Malang; serta peledakan di gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di jalan Arief Margono, Malang, Jawa Timur. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 24 Desember 1984 malam.
Belum sempat terungkap pelaku dan motif yang melatari peledakan di gereja Katholik Sasana Budaya dan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) itu, kurang dari sebulan kemudian, persisnya pada tanggal 21 Januari 1985 dini hari terjadi lagi ledakan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Kasus peledakan itu nyaris tak terungkap bahkan belum diketahui saling berkaitan. Masih misteri. Namun misteri itu tak berapa lama berlangsung. Ketika pada tanggal 16 Maret 1985 terjadi ledakan di Bus Pemudi Expres jurusan Denpasar. Tepatnya ketika posisi bus berada di desa Sumber Kencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Maka, kasus peledakan di Malang dan Candi Borobudur pun terkuak. Bahkan, rencana peledakan selanjutnya di Bali, juga terungkap.
Pada kasus peledakan (tanpa sengaja) di Bus Pemudi Expres, tiga dari empat pelakunya tewas menjadi korban bahan peledak yang mereka bawa sendiri, yang rencananya akan digunakan untuk melakukan peledakan di Bali. Ketiganya adalah Abdul Hakim, Hamzah alias Supriono (warga jalan Juanda Gang VIII Malang), dan Imam Al Ghazali Hasan. Satu orang yang selamat namun luka-luka cukup parah adalah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Dari sosok kelahiran Ambon tanggal 21 November 1959 ini, pelaku peledakan di Malang dan Candi Borobudur terungkap.
Tokoh utamanya, Ibrahim alias Jawad dan Husin Ali Al-Habsyi (kelahiran Ambon, 28 Januari 1953) yang merupakan kakak sulung Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Ibrahim alias Jawad merupakan kawan baik Husin Ali Al-Habsyi yang tunanetra sejak lahir. Husin Ali Al-Habsyi selain tercatat sebagai warga jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang, juga beralamat di jalan Cimanuk 203, Garut, Jawa Barat.
Siapa Ibrahim alias Jawad?
Menurut penuturan ibu kandungnya yang bernama Ratiah atau biasa juga dipangggil dengan sebutan Ny. Abdul Latief Rachim, nama asli Ibrahim alias Jawad adalah Krisno Triwibowo (warga jalan Ketindan no. 62, Lawang, Malang, Jawa Timur). Nama itu kemudian diganti oleh sang nenek menjadi Ibrahim. Namun demikian, sang nenek biasa memanggil sang cucunya ini dengan nama Jawad.
Ibrahim alias Jawad alias Krisno Triwibowo merupakan anak ketiga Ratiah, yang pernah kuliah di Fakultas Sastra Inggris Universitas Jember. Belum rampung studi di Fakultas Sastra, Ibrahim mengutarakan maksudnya untuk menempuh pendidikan di Arab. Maksud itu disampaikan Ibrahim kepada Ratiah sang ibu pada tahun 1982.
Sekitar tiga bulan setelah Ibrahim alias Jawad mengaku berangkat studi ke Arab, Ratiah mendapat sepucuk surat dari sang anak. Ternyata, surat dari Ibrahim alias Jawad itu berasal dari sebuah alamat di Iran. Melalui sepucuk surat itulah Ratiah akhirnya menyadari bahwa sang anak belajar agama di Iran. Yang jelas, Ratiah sama sekali tidak membiayai anaknya sekolah agama ke Iran, tapi ada pihak lain yang membiayai Ibrahim.
Tahun 1984, Ibrahim alias Jawad pulang kampung ke Lawang, Malang, Jawa Timur. Sejak pulang studi di Iran itu, rumah Ratiah banyak kedatangan tamu yang ingin bertemu dengan anaknya, Ibrahim alias Jawad alias Krisno Triwibowo, seperti Husin Ali Al-Habsyi yang tunanetra, Achmad Muladawilah, Hamzah alias Supriono dan sebagainya.
Husin Ali Al-Habsyi dan Ibrahim alias Jawad selain berkawan baik juga mempunyai pandangan yang sama. Bila Ibrahim alias Jawad sepulang dari Iran ingin mengembangkan paham syi’ah ke Indonesia, maka Husin Ali Al-Habsyi ingin menjadi imam di Indonesia seperti Khomeini di Iran. Menurut M. Achwan, Husin Ali Al-Habsyi saat ceramah sering mengucapkan slogan atau semboyan yang sering diucapkan Khomeini: “… tidak Timur dan tidak Barat, tidak Sunni dan tidak Syi’ah, tetapi pemerintahan Islam…”
Pernyataan Ibrahim alias Jawad yang ingin mengembangkan paham syi’ah laknatullah di Indonesia ini, antara lain bisa didengar melalui kesaksian Abdul Kadir Ali Al-Habsyi yang sempat menghadiri pengajian di rumah M. Achwan di jalan Ir. H. Juanda VIII No. 17, Malang (atau jalan Ir. H. Juanda VIII No.10 RT 002 RW 011 Kecamatan Jodipan, Malang Kota). Pengajian yang berlangsung pada bulan November 1984 itu, narasumbernya adalah Ibrahim alias Jawad yang belum lama kembali dari Iran. Saat itulah Ibrahim menyatakan tekadnya memasukkan faham syi’ah ke Indonesia.
Hal yang sama juga pernah diakui oleh Achmad Muladawilah yang pernah mengikuti pengajian di rumah M. Achwan dengan narasumber Ibrahim alias Jawad. Saat itu Ibrahim alias Jawad selain menyampaikan perbedaan antara syi’ah dan Sunni (Ahlis Sunnah), ia juga mengutarakan harapannya agar syi’ah bisa berkembang di Indonesia.
Untuk mencapai tujunnya memasukkan paham sesat syiah laknatullah ke Indonesia, Ibrahim alias Jawad antara lain menempuh cara berupa peledakan di gereja Katholik Sasana Budaya dan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang, Jawa Timur; juga Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah; dan satu rencana gagal di Kuta, Bali; dengan maksud agar pemerintah Indonesia memperhatikan dan mau menerima kehendaknya.
Selain Abdul Kadir Ali Al-Habsyi dan Ahmad Muladawilah, ke-SYI’AH-an Ibrahim alias Jawad juga bisa diperoleh melalui pengakuan Sugeng Budiono, yang pernah mengikuti dialog antara Ibrahim alias Jawad dengan anak-anak remaja dari Mesjid Mujahidin. Dialog tersebut berlangsung di kediaman M. Achwan. Saat itu Ibrahim alias Jawad menjelaskan perbedaan antara hadits Sunni (Ahlis Sunnah) dan hadits syi’ah, juga perbedaan antara shalat orang Sunni (Ahlis Sunnah) dengan syi’ah.
Sosok M. Achwan (kelahiran Tulung Agung, 04 Mei 1948), saat ini dikenal sebagai salah satu deklarator JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Bahkan sejak Abu Bakar Ba’asyir mendekam di tahanan Bareskrim Mabes Polri, sosok M. Achwan dipercaya menjadi Amir Biniyabah (amir pengganti). Sebelumnya, sosok M. Achwan dikenal sebagai Ketua Wilayah Jawa Timur Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) saat Abu Bakar Ba’asyir masih menjabat sebagai Ketua AHWA (ahlul halli wal aqdi).
Selama ini sosok M. Achwan memang mempunyai kedekatan dengan Abu Bakar Ba’asyir. Terbukti, M. Achwan diberi mandat oleh Abu Bakar Ba’asyir untuk membesuk Munfiatun alias Fitri di LP Wanita Sukun Malang. Munfiatun merupakan istri Noordin M. Top yang saat itu dalam pencarian pihak berwenang. Noordin M. Top akhirnya tewas tertembak pada hari Kamis tanggal 17 September 2009, di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah.
Menurut keterangan Ratiah, pada tanggal 7 April 1985 Ibrahim alias Jawad bersama istrinya berangkat ke Iran. Kepada Ratiah, Ibrahim alias Jawad berpesan bahwa ia akan kembali ke tanah air sekitar lima atau enam tahun lagi. Ibrahim alias Jawad juga sempat berpesan, bila ada tamu bernama Basirun Sinene mencari dirinya (Ibrahim alias Jawad) dan membawa (menitipkan) sesuatu agar diterima. Akhirnya, masih di bulan Maret 1985, sosok bernama Basirun datang juga, menitipkan sebuah bungkusan yang diakuinya berisi kaos oblong.
Sosok Ibrahim alias Jawad bisa eksis di komunitas tertentu tak lain karena kedekatannya dengan Husin Ali Al-Habsyi. Apalagi Ibrahim alias Jawad ini kemudian menjadi salah satu narasumber pada forum pengajian yang diselenggarakan di kediaman M. Achwan. Dalam tempo singkat Ibrahim alias Jawad selain sudah bisa menunjukkan eksistensinya juga dengan mudah melakukan perekrutan, untuk mendukung pelaksanaan misinya. Salah satunya Abdul Kadir Ali Al-Habsyi (adik kandung Husin Ali Al-Habsyi) yang berhasil direkrutnya.
Dalam tempo singkat, tak sampai dua tahun belajar agama di Iran, sosok Ibrahim alias Jawad ketika kembali ke tanah air sudah sedemikian radikal. Hal ini dapat dibuktikan melalui serangkaian peledakan yang terjadi di Malang (24 Desember 1984), dan di Candi Borobudur (21 Januari 1985), serta rencana peledakan Pantai Kuta Bali pada Maret 1985 yang gagal. Tidak sekedar radikal, Ibahim sudah menjelma menjadi sosok yang bisa merakit bahan peledak dan mengajarkan kepada orang-orang yang direkrutnya, seperti Achmad Muladawilah. Bahkan ia terlihat begitu tajir, karena terbukti mampu membiaya semuanya.
Lebih jauh lagi, selain radikal, piawai merakit bahan peledak dan tajir, Ibrahim alias Jawad ternyata juga licin. Sebelum semuanya terungkap, ia sudah lebih dulu hengkang ke Iran bersama istrinya. Hingga kini, keberadaannya tidak terdeteksi.
Pasca tertangkapnya Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, tokoh penting di belakang itu semua mulai terungkap jelas, termasuk Husin Ali Al-Habsyi. Kakak sulung Abdul Kadir Al-Habsyi ini, tak mau kalah dari sobat karibnya Ibrahim Alias Jawad yang hengkang ke Iran, ia pun hengkang ke Balikpapan dengan menumpang pesawat Garuda (GIA) pada tanggal 17 April 1985.
Husin Ali Al-Habsyi hengkang ke Balikpapan melalui Bandara Juanda Surabaya, diantar oleh Hasan Ali Basyaeb, salah satu sobatnya yang berdomisili di Bangil, Jawa Timur. Bahkan, tiket ke Balikpapan untuk Husin Ali Al-Habsyi itu dibeli oleh Hasan Ali Basyaeb.
Menurut kesimpulan aparat keamanan saat itu, peledakan di Malang (24 Desember 1984) dan Candi Borobudur (21 Januari 1985), tidak ada kaitannya dengan kasus peledakan BCA di Jakarta yang terjadi sebelumnya (04 Oktober 1984), serta tidak ada kaitannya dengan Abdul Kadir Jaelani dan kawan-kawan. Namun, justru berkaitan dengan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir.
Kesimpulan itu memang belum tentu benar. Namun ada fakta yang menarik, bahwa Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir saat ‘hijrah’ ke Malaysia terjadi pada bulan April 1985. Pada bulan yang sama, Husin Ali Al-Habsyi hengkang ke Balikpapan. Fakta menarik lainnya adalah, kasus peledakan di tanah air yang disangkakan ada keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir di dalamnya adalah kasus yang hampir mirip dengan tahun 1984-1985.
Pada 24 Desember 1984, sasaran peledakan adalah gereja, begitu juga peledakan tanggal 24 Desember 2000 yang menjadikan gereja sebagai sasaran, konon dilakukan oleh oknum JI (Jama’ah Islamiyah) yang pimpinannya konon Abu Bakar Ba’asyir. Begitu juga dengan kasus rencana peledakan pantai Kuta Bali (pertengahan Maret 1985) yang gagal, mempunyai kesamaan objek dengan kasus peledakan Bali pertama (12 Oktober 2002, jalan Legian-Kuta) dan peledakan Bali kedua (01 Oktober 2005 Kuta, Jimbaran).
Beberapa kesamaan itu memang belum tentu menunjukkan bahwa keduanya ada keterkaitan. Wallahu a’lam.
Hasan Ali Basyaeb yang membelikan tiket Surabaya-Balikpapan untuk Husin Ali Al-Habsyi, dan mengantarkan penceramah tuna netra itu ke Bandara Juanda Surabaya, ternyata juga pernah mengantarkan Husin Ali Al-Habsyi ceramah di Lekok dan Pasuruan, Jawa Timur. Artinya, mereka punya kedekatan.
Terbukti, sebelum hengkang ke Balikpapan, Husin Ali Al-Habsyi bersama Achmad Muladawilah pernah mengunjungi toko Hasan Ali Basyaeb di Bangil, menitipkan sesuatu di dalam bungkusan kertas semen yang diakuinya berisi telur asin. Bungkusan kertas semen itu berada dalam sebuah tas plastik. Ketika itu Husin Ali Al-Habsyi berpesan, bahwa telur asin itu dititipkan selama satu bulan, dan jangan dibuka.
Pada suatu saat, ketika Husin Ali Al-Habsyi sudah hengkang ke Balikpapan, Hasan Ali Basyaeb didatangi Achmad Muladawilah di tokonya di Bangil, dengan tujuan mencari Husin Ali Al-Habsyi. Tentu saja pencarian itu sia-sia. Saat itu Achmad Muladawilah mengatakan kepada Hasan Ali Basyaeb, bahwa Husin Ali Al-Habsyi terlibat kasus peledakan Candi Borobudur dan bangunan Gereja di Malang. Maka, sejak saat itu, titipan telur asin yang selama ini ditaruh di atas lemari langsung dibuang ke toilet oleh Hasan Ali Basyaeb.
Kesaksian Achmad Muladawilah
Salah satu aktivitas Achmad Muladawilah adalah mengikuti pengajian yang digelar di kediaman Husin Ali Al-Habsyi. Di tempat inilah, pada tahun 1984, ia kenal dengan Abdul kadir Ali Al-Habsyi yang merupakan adik kandung Husin Ali Al-Habsyi.
Sebelum kasus peledakan gereja di Malang terjadi, Achmad Muladawilah pernah mengantar Husin Ali Al-Habsyi ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Sebelumnya, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi memang tinggal menumpang di rumah sang kakak (jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang), namun belakangan Abdul Kadir Al-Habsyi mengontrak rumah di jalan Kebalen Wetan no. 502 Malang.
Di tempat itu pulalah Achmad Muladawilah bertemu Ibrahim alias Jawad. Suatu ketika Ibrahim alias Jawad bertanya kepadanya: “Apa yang telah Anda perbuat untuk Islam?” Ketika itu Achmad Muladawilah menjawab: “Belum berbuat apa-apa.” Serta-merta Ibrahim alias Jawad langsung menyanggah: “Itu bukan jawaban.”
Pada tanggal 24 Desember 1984, sekitar jam 11:00 siang, Achmad Muladawilah diminta Ibrahim alias Jawad ke rumah Husin Ali Al-Habsyi karena ada yang akan dibicarakan. Kebetulan saat itu ada orangtua Husin Ali Al-Habsyi. Maka, mereka berdua menuju ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Sebelumnya Achmad Muladawilah diminta membeli tiga buah jam weker oleh Husin Ali Al-Habsyi untuk diantarkan ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Achmad Muladawilah kemudian pulang setelah mengantarkan ketiga jam weker tadi.
Setelah Maghrib, masih tanggal 24 Desember 1984, Achmad Muladawilah bersama Ibrahim alias Jawad kembali ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Di situ, Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi diberi masing-masing satu tas kresek berisi bahan peledak. Sambil menyerahkan tas kresek tersebut, Ibrahim alias Jawad menyatakan: “ini jawaban atas pertanyaannya.” Maksudnya, Achmad Muladawilah diperintahkan oleh Ibrahim untuk meledakkan gereja GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat), sebagai wujud “telah berbuat sesuatu untuk Islam”. Peledakan ini menurut Ibrahim alias Jawad dimaksudkan sebagai kejutan, sehingga diupayakan jangan sampai jatuh korban manusia.
Saat itu, di gereja GPIB sedang ada misa, sehingga rencana peledakan dibatalkannya. Achmad Muladawilah kemudian kembali ke Alun-alun untuk bertemu dengan Ibrahim alias Jawad. Saat itu Ibrahim alias Jawad memerintahkan untuk meledakkan gereja manapun. Kemudian Achmad Muladawilah melemparkan bahan peledak ke bangunan gereja Katholik Sasana Budaya yang terletak di jalan MGR Sugiyopranoto (sebelah utara Sarinah). Setelah itu, ia pulang.
Sekitar tiga pekan setelah melempar peledak di gereja Katholik, yaitu pada tanggal 16 Januari 1985, Achmad Muladawilah diajak oleh Husin Ali Al-Habsyi ke rumah Ibrahim alias Jawad di Lawang, Malang. Saat itu Abdul Kadir Ali Al-Habsyi ikut serta. Di tempat Ibrahim alias Jawad, mereka membicarakan seputar perbedaan antara Syi’ah dan Sunni (Ahlis Sunnah). Menjelang pulang, Ibrahim alias Jawad memanggil Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi untuk diajak bicara. Ketika itu Ibrahim alias Jawad mengajak keduanya berkemah ke Jawa Tengah, namun lokasi persisnya belum disebutkan.
Pada tanggal 17 Januari 1985,  Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi mendatangi rumah Ibrahim alias jawad di Lawang, Malang untuk menanyakan kapan saat berkemah yang dimaksud. Namun saat itu Ibrahim tidak ada. Mereka pun kembali ke Malang.
Pada tanggal 18 Januari 1985 malam, Achmad Muladawilah dan Ibrahim alias Jawad serta Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, mempersiapkan diri menuju Yogyakarta. Sebelum berangkat, Husin Ali Al-Habsyi berpesan kepada ketiganya agar berhati-hati. Setelah sekian jam dalam perjalanan, ketiganya tiba di terminal Yogyakarta sekitar pukul 04:00 pagi. Mereka pun segera menunaikan shalat Subuh di Mushala yang ada di terminal Yogyakarta.
Setelah shalat Subuh, barulah Ibrahim alias Jawad mengatakan bahwa tujuan sebenarnya adalah meledakkan Candi Borobudur. Saat itu, Achmad Muladawilah terkejut, dan mempertanyakan rencana itu. Saat itu Ibrahim menyuruh Achmad Muladawilah diam, seraya menjanjikan akan mengajak Achmad Muladawilah berangkat ke Iran. Saat itu juga Ibrahim alias Jawad memberi uang sebesar Rp 30.000 untuk mengurus paspor. Saat itu US$1 setara dengan Rp 1.000, bandingkan dengan kurs saat ini yang mencapai Rp 9.000 per US$.
Saat itu bukan hanya Achmad Muladawilah yang terkejut, juga Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Bahkan, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi tidak sekedar terkejut tetapi ketakutan setelah mendengar rencana Ibrahim alias Jawad hendak meledakkan Candi Borobudur.
Usai shalat Subuh, 19 Januari 1985, dari terminal Yogya mereka melanjutkan perjalanan dengan bis jurusan Magelang. Tiba di kawasan Candi Borobudur sekitar pukul 11:00 siang. Mereka hendak langsung masuk ke kawasan Candi Borobudur, namun ditolak oleh petugas karena membawa tas. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mencari penginapan (Losmen Borobudur).
Dari losmen, mereka (Achmad Muladawilah, Ibrahim alias Jawad dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi) makan siang. Dilanjutkan dengan melihat-lihat lokasi Candi Borobudur. Sekitar pukul 14:00 ketiganya kembali ke losmen, dan istirahat.
Keesokan paginya, 20 Januari 1985, Achmad Muladawilah, Ibrahim alias Jawad dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi kembali melihat-lihat Candi Borobudur. Rencananya ada 14 buah bom yang akan diledakkan.
Menurut penuturan Achmad Muladawilah, saat itu Abdul Kadir Ali Al-Habsyi terlihat gelisah dan takut, sehingga disuruh pulang oleh Ibrahim alias Jawad pada pukul 15:00 tanggal 20 Januari 1985, dengan membawa tas berisi pakaian Achmad Muladawilah dan satu bahan peledak yang tidak sempurna, sedangkan bahan peledak yang sudah terpasang tetap berada di Losmen bersama Ibrahim alias Jawad dan Achmad Muladawilah.
Masih tanggal 20 Januari 1985, setelah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi pulang, Achmad Muladawilah dan Ibrahim alias Jawad kala senja menjelang menuju ke kawasan Candi Borobudur untuk meletakkan sejumlah bom yang telah dirakit di Losmen Borobudur. Mereka meletakkan empat bom di stupa paling atas, lima bom lainnya di stupa bawahnya, sedangkan stupa terbawah dipasangi empat bom. Total terpasang tiga belas bom. Satu bom yang tidak sempurna sudah dibawa pulang oleh Abdul Kadir Ali Al-Habsyi.
Menurut pengakuan Achmad Muladawilah, Ibrahim yang mengetes dan merakit keseluruhan bom tersebut, sedangkan dirinya hanya meletakkan sejumlah bom di lokasi-lokasi tersebut. Saat dibawa ke lokasi, keseluruhan bom itu (13 buah) sudah siap pakai, tinggal menyambungkan kabel tertentu saja.
Keseluruhan bom tersebut dipasangi timer, dan diatur akan meledak sekitar lima jam setelah dipasang. Setelah meletakkan sejumlah bom, keduanya bergegas meninggalkan lokasi dan menuju Lawang, Malang. Mereka tidak kembali ke Losmen, dan tidak mengetahui saat bom meledak. Achmad Muladawilah mengetahui ledakan tersebut dari pemberitaan TVRI pada tanggal 21 Januari 1985 jam 21:00 waktu setempat.
Pasca peledakan Candi Borobudur, Achmad Muladawilah pernah dipanggil lagi oleh Ibrahim (ke Lawang) untuk diajak melakukan peledakan di Bali, namun ia menolak karena ia merasa takut. Namun saat Ibrahim menyuruh Achmad Muladawilah membawa 12 buah bom ke Malang (ke rumah Husin Ali Al-Habsyi), ia tak kuasa menolaknya.
Pada tanggal 07 Maret 1985, Achmad Muladawilah dipanggil Husin Ali Al-Habsyi, ditugaskan untuk menyiapkan sejumlah  bahan peledak.
Keesokan harinya, 08 Maret 1985, Achmad Muladawilah merakit sejumlah bom di rumah Husin Ali Al-Habsyi. Tiba-tiba ia kedatangan Sodiq Musyawa yang langsung masuk ke kamar tempat Achmad Muladawilah sedang merakit bom. Karena takut ketahuan, bahan peledak yang sedang dirakit dimasukkannya ke kolong tempat tidur, namun meledak dan melukai Achmad Muladawilah dan Sodik Musyawa.
Sepekan kemudian, tanggal 15 Maret 1985, Achmad Muladawilah mendatangi rumah Husin Ali Al-Habsyi. Di situ sudah ada Abdul Hakim, Moch Rifai, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, Ghozali dan Hamzah. Saat itu, Achmad Muladawilah ditugaskan memberi petunjuk kepada Hamzah dan Ghozali bagaimana cara menggunakan bahan peledak tersebut.
Saat itu, Husin Ali Al-Habsyi menunjuk Abdul hakim sebagai pimpinan rombongan, sedangkan anggotanya adalah Ghozali, Hamzah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Mereka membawa dua tas berisi bahan peledak.
Sehari kemudian, tanggal 16 Maret 1985, Achmad Muladawilah yang tidak ikut rombongan, membaca koran yang memberitakan kasus peledakan yang terjadi di dalam Bus Pemudi Expres.
Achmad Muladawilah yang pernah dijanjikan oleh Ibrahim alias Jawad akan diberangkatkan ke Iran ini, juga pernah dititipi sejumlah bahan peledak yang belum dirakit oleh Ibrahim alias Jawad. Saat itu, 16 Maret 1985, bahan peledak tersebut dibawanya pulang. Barulah setelah ada kasus peledakan di Bus Pemudi Expres, Achmad Muladawilah memindahkan bom-bom tersebut ke tokonya. Beberapa hari kemudian, bahan peledak itu diambil oleh seseorang bernama Abdul Kadir (bukan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi).
Achmad Muladawilah selama ini juga sering menemani Husin Ali Al-Habsyi ceramah agama ke luar kota, seperti Pandean dan sebagainya. Artinya, ia mempunyai kedekatan dengan kedua tokoh penting kasus peledakan 24 Desember 1984 dan peledakan Candi Borobudur Januari 1985. Namun, di berbagai kesempatan Husin Ali Al-Habsyi selalu menyangkal keterlibatannya pada kasus tersebut, dengan memanfaatkan status tuna netra yang disandangnya: “… saya ini tuna netra yang tidak bisa membedakan antara jenang (dodol) dengan bom…”
Peradilan manusia dan proses hukum sekuler memang telah menguntungkan sosok seperti Husin Ali Al-Habsyi, sehingga ia kemudian berhasil mendapatkan grasi dari presiden Habibie pada 23 Maret 1999. Permohonan grasi itu sudah diajukan keluarga Husin Ali Al-Habsyi sejak Oktober 1994 lalu, ketika Soeharto yang selama ini selalu dicercanya masih menjabat sebagai presiden RI. Di masa Habibie pula Abdul Kadir Al-Habsyi setelah menjalani masa hukuman selama 10 tahun, mendapat remisi.
Berbeda dengan itu, Ibrahim alias Jawad hingga kini tak ketahuan rimbanya: apakah ia masih tetap berada di Iran, atau sudah kembali ke Indonesia dengan identitas baru? Yang jelas, sejak tahun 2000, terorisme seperti tak habis-habisnya menghantui kita. Bersamaan dengan itu, gerakan syi’ah di Indonesia semakin terbuka dan semakin berani, hingga merembes ke segala penjuru, temasuk media cetak, media elektronik seperti TV dan Radio, dan sebagainya.
Ironisnya, ketika gerakan syi’ah laknatullah semakin eksis di Indonesia, sejumlah tokoh Islam yang selama ini mengaku Sunni (Ahlis Sunnah), kelihatan takut-takut menyatakan syi’ah sebagai paham sesat dan menyesatkan. Begitu juga dengan sejumlah media berbau Islam yang konon menjalankan misi dakwah Islam, kelihatan lebih cenderung cari aman. Barangkali inilah fenomena lemahnya iman di kalangan pegiat dakwah Islam.
(tede/nahimunkar.com)

Di palestina di isolir dan di bombardir
Di philipina muslim moro di buru dan di bunuh
Di thailand muslim pattani di intimidasi
Di iran muslim di nista dan digantung
Di afghanistan bom mobil jadi keseharian
Di iraq tak beda dengan medan peperangan
Di china muslim uighur dilarang berjenggot dan di paksa menjual miras
Di checnya perjuangan muslim tak kunjung henti
Di syam muslim kecil hingga tua di lempar bom amonia
Di perancis jilbab adalah terlarang
Di denmark Nabi Muhammad jadi olok-olok
Di amerika kartun pelecehan Rasulullah di perlombakan
Di anggola masjid-masjid diratakan dg tanah
Di afrika tengah muslim diburu untuk dicincang
Di burma muslim terusir, dihina dan dibunuh
Di indonesia muslim jadi mayoritas tapi berpecah belah...
Terakhir, Di india rumah-rumah muslim dibakar dan harta di rampas

Tapi tahu kah, islam kini adalah tren yang tak terhentikan.
Jumlah muslim terus meroket mengalahkan agama apapun, dan diprediksi menjadi mayoritas di planet bernama bumi sekian tahun ke depan.
Muslim usia produktif menggejala dengan dakwah kreatif yang merangkul massif.
Manusia-manusia berhati hanif dan berlogika sehat berbondong-bondong hijrah.
Mereka-mereka yang tadi nya menjadi muslim karena sekedar "warisan orang tua" mulai berislam dengan baik.

Kamu muslim? Banggakah kamu dengan agamamu?

Jangan sampai agama mu kini jadi tren dunia, tapi kamu sendiri bahkan minder beridentitas muslim.. Naudzubillah

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ، وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.
3. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat.

[110 : 1-3]

Ketiganya masing-masing Adalah 'orang Ternama' dan seringkali tampil di Media Publik negeri ini.
1. Umar Shihab (Kakak Tertua).
Kakek tua ini adalah seorang 'Antek' Pembela Syi'ah yang bercokol di MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, dan masih tetap Aktif sebagai Anggota di Lembaga tersebut hingga detik ini.
2. Quraish Shihab.
Seorang yang mengklaim dirinya sebagai Ahli Tafsir Al-Qur'an dan seringkali muncul di beberapa Media TV dalam acara Tafsir Al-Misbah.
3. Alwi Shihab.
Orang ini adalah Politisi dan Pejabat yang pernah duduk dalam Kabinet Pemerintahan di Era GusDur. Bahkan saat ini pernah mendapat tugas Khusus dari Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan Surat-surat Kepercayaan kepada Presiden Iran, Hasan Rouhani.
Dari Beberapa Sumber yang kami kutip, telah menyebutkan bahwa Keluarga besar Shihab adalah termasuk Warga Keturunan Arab yang berasal dari Daerah Hadramaut, Yaman. Kemudian Orang Tua mereka hijrah dan bermukim di Sulawesi Selatan, negeri Indonesia.
Pada beberapa Kesempatan, secara terpisah masing-masing dari ketiga Tokoh bersaudara ini seringkali tampil membela Ajaran Sesat Syi'ah di depan Media Publik.
Namun Aneh-nya, di antara mereka ada yang menolak di sebut pengikut Syi'ah , walaupun sangat gigih membela ajaran Syi'ah.
Orang itu adalah : Quraish Shihab.
.
Sama halnya dengan kedua saudaranya, Umar dan Alwi. Quraish Shihab pun menginginkan adanya : TAQRIB (persatuan) antara ajaran Sesat Syi'ah dengan Agama Islam Ahlu Sunnah (Sunni). bahkan Quraish menganggap perbedaan antara Sunni dengan Syi'ah hanya pada masalah Furu'iyyah (Masalah Kecil saja) dan tidak perlu di besar-besarkan.
.
NA'UDZUBILLAHI MIN ZALIK ....!!!
.
Hendaknya Umat Islam Negeri ini berhati-hati dengan ketiga orang bersaudara di atas ...!
.
Jauh-jauh hari Para Ulama Ahlu Sunnah telah mengingatkan hal yang membahayakan seperti ini.
.
" Orang Alim (berilmu) Namun Menyesatkan "
.
Oleh karena itu Janganlah Fanatik Buta dengan Orang Alim yang ternyata Menyesatkan . Sangat Berbahaya !
.
Karena sesungguhnya Ada Tiga hal yang bisa merusak Agama , yaitu :
.
1. Bahaya tergelincirnya orang alim,
2. bantahan orang munafik,
3. dan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.
.
Ulama Besar Ahlu Sunnah, Imam Ibnu Taimiyah mengingatkan bahaya tergelincirnya orang alim, bantahan orang munafik, dan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan, dengan mengemukakan atsar dari Umar dan Abu Darda’.
.
وَقَالَ زِيَادُ بْنُ حُدَيْرٍ : قَالَ عُمَرُ : ثَلَاثٌ يَهْدِمْنَ الدِّينَ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْقُرْآنِ وَأَئِمَّةٌ مُضِلُّونَ
.
Ziyad bin Hudair berkata, Umar telah berkata : Tiga perkara yang merusak agama, adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an, dan pemimpin-pemimpin (imam-imam) yang menyesatkan.
.
وَقَالَ الْحَسَنُ : قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ : إنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ زَلَّةَ الْعَالِمِ وَجِدَالَ الْمُنَافِقِ بِالْقُرْآنِ,...
.
Al-Hasan berkata, telah berkata Abu Darda’: “Sesungguhnya di antara hal yang aku khawatirkan atas kamu sekalian adalam tergelincirnya orang alim (ulama), dan bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an… (Ibnu Taimiyyah, Kitab al-Fatawa Al-Kubro, juz 9 halaman 108).
.
عَنْ زِيَادِ بْنِ حُدَيْرٍ قَالَ قَالَ لِى عُمَرُ : هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ
.
Dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, Umar telah berkata kepadaku: Apakah kamu tahu apa yang menghancurkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: yang menghancurkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan hukum (keputusan) pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. --. (HR. ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya –pertalian riwayatnya—shahih).
.
Dalam hal ini Ibnu Taimiyyah menegaskan :
.
وَلِهَذَا قِيلَ : احْذَرُوا زَلَّةَ الْعَالِمِ فَإِنَّهُ إذَا زَلَّ زَلَّ بِزَلَّتِهِ عَالَمٌ
.
Oleh karena itu dikatakan: Awas hati-hati (hindarilah) tergelincirnya orang alim (ulama), karena sesungguhnya ketika ia tergelincir maka tergelincirlah dunia karena tergelincirnya (ulama itu).
(Ibnu Taimiyah, kitab Majmu’ Fatawa, juz 4 halaman 296).
.
Wallahu A'lam.... Wallahu Al Musta'an.

Kisah memilukan ini terekam di memori saya. Kabar memilukan dari saudara-saudara seiman kita di bosnia. 8000 ribu orang yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, mengikuti konvoi pengungsi yang disebut sebagai "konvoi bosnia" di bantai secara keji oleh tentara serbia di pinggiran srebrenica. Hingga kini masih ada jenazah-jenazah baru yang ditemukan. Terakhir 2012 lalu ada sekitar 500an jenazah diidentifikasi.

Hari ini 11 juli, di monumen Potocari warga muslim bosnia berbondong2 hadir untuk memperingati tragedi ini. Menyusuri jalan para korban "konvoi bosnia", mereka yang dihabisi tanpa bisa melawan.
Tragedi ini disebut-sebut sebagai genosida warga sipil terburuk di Eropa sejak Holocaust Perang Dunia Kedua. Banyak sumber menyebut korban kekerasan di bosnia ini total mencapai 100rb an orang. Tragedi ini kemudian dikenal sebagai Genosida Srebrenica, dan sejauh ini sekitar 8.373 korban telah diidentifikasi dari ratusan kuburan massal yang telah ditemukan, sesuai
Daftar Awal dari Orang Hilang atau Terbunuh di Srebrenica yang disusun Komisi Federal Bosnia untuk Orang Hilang yang mencatat 8,373 nama.

Maret 2015 7 orang anggota milisi scorpion (milisi yang memimpin langsung pembantaian muslim bosnia di lapangan) di tangkap. Menyusul Ratko Mladic yang lebih dulu ditangkap 2011 lalu dan di adili di pengadilan internasional di Den Haag. Dan pengusutan nama-nama mereka yang bertanggung jawab atas tragedi ini masih berlangsung hingga sekarang.

Ini mungkin sedikit cerita tentang saudara kita yang perlu anda tahu...
Itu juga kalau anda ingin tahu.
Semoga manfaat dan mari doakan mereka serta saudara-saudara muslim yang kini terdzalimi dimanapun mereka berada agar Allah mengaruniakan kesabaran dan kemenangan..

Amin

Agus Abu Bakar Al Habsy, tokoh Syi’ah yang lahir pada 9 Agustus 1960 di kota Makassar ini termasuk diantara tokoh-tokoh Syiah yang terjun ke kancah perpolitikan Indonesia. Saat ini dia menjabat sebagai dewan pembina partai Demokrat dan dikenal dekat dengan presiden SBY.

Alumni UI kelahiran Makassar ini dulu aktif di Masjid Arif Rahman Hakim (ARH). Agus al-Habsyi bahkan menjadi juru bicara Syiah dalam debat dengan kelompok Sunni yang diwakili oleh Prof. Rasjidi, Imam Masjid Arif Rahman Hakim saat itu. Setelah kalah debat, Agus al-Habsyi dilarang melakukan kegiatan di Masjid ARH dan dicopot semua jabatannya di organisasi kemahasiswaan.

Namun Agus al-Habsyi tidak berhenti di situ mendakwahkan ajaran Syiah di kampus UI, sejumlah mahasiswa berhasil dipengaruhi dan direkrut menjadi Syiah. Setelah menamatkan studi di UI, Agus Abubakar al-Habsyi menjadi ketua Yayasan Baitul Hikmah di Depok dan terjun ke dunia politik. Agus al-Habsyi membantu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendirikan Partai Demokrat tahun 2001. Dia kemudian diangkat menjadi Ketua DPP. Saat ini, Agus Abubakar al-Habsyi menjabat sebagai anggota Dewan Pembina Partai Demokrat dan ikut menyeleksi Capres 2014 Demokrat.

Pada tahun 1989, sejumlah mahasiswa Syiah yang kuliah di UI mendirikan kelompok studi Abu Dzar yang dipimpin oleh Haryanto dan Yussa Agustian. Kedua orang ini adalah binaan Agus Abubakar al-Habsyi, yang diperintahkan untuk mendirikan HMI yang berwarna Syiah sebagai tempat menyemai bibit-bibit Syiah. Setelah berhasil merekrut sejumlah pengikut lewat kelompok studi ini, mereka melanjutkan langkahnya dengan mendirikan HMI berhaluan Syiah di UI. Rudy Suharto dan Kukuh Sulastyoko (Fak. Matematika & Sains) bersama Didi Hardian (Fak. Teknik), dibantu Syaiful Bahri dari Guna Dharma dengan dipandu oleh senior mereka; Zulvan Lindan dan Furqon Bukhori, akhirnya berhasil mendirikan HMI cabang UI, Depok, yang menganut pemikiran Syiah.

Ketika konflik Sunni-Syiah meletus di Sampang, Madura dia termasuk yang paling vokal menyuarakan bahwa Syiah "ditindas" oleh orang-orang Islam yang tidak memahami ajaran Islam.

Agus Abu Bakar sendiri baru-baru ini menunjukkan jatidiri sebenarnya di seminar Hari Asyuro Syiah yang digelar oleh Ahlul Bait Indonesia (ABI) dengan tema  “Kepahlawanan dan Nasionalisme Untuk Manusia Indonesia Seutuhnya; Peringatan Hari Pahlawan Nasional dan Asyuro Imam Husein” di Gedung Sucofindo Jakarta (08/11/2013) mendapat protes keras dari karyawan Sucofindo.Dan berakhir dengan pengusirannya olah karyawan Sucofindo karena bersikap arogan. Kejadian pengusiran ini bermula saat  anggota dewan Pembina Partai Demokrat  muncul secara tiba-tiba dari pintu utama Gedung Sucofindo ke arah kumpulan karyawan Sucofindo yang melakukan aksi protes.(dbs)

Kenalkah kita dengan mereka?
Mengapa nama-nama tersebut tidak kita dapati dalam buku-buku pelajaran selama di sekolah?
 Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, dia adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan Referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai "bapak kedokteran modern." George Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu". Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).
 Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi atau Al-Zahrawi (Madinatuz Zahra', 936 - 1013), (Bahasa Arab: أبو القاسم) dikenal di Barat sebagai Abulcasis, adalah salah satu pakar di bidang kedokteran pada masa Islam abad Pertengahan. Karya terkenalnya adalah Al-Tasrif, kumpulan praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jilid.

Abul Qasim lahir di Zahra, yang terletak di sekitar Kordoba, Spanyol. Di kalangan bangsa Moor Andalusia, dia dikenal dengan nama "El Zahrawi". Al-Qasim adalah dokter kerajaan pada masa Khalifah Al-Hakam II dari kekhalifahan Umayyah.
 Abu Musa Jabir bin Hayyan, atau dikenal dengan nama Geber di dunia Barat, diperkirakan lahir di Kuffah, Irak pada tahun 750 dan wafat pada tahun 803. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.

Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.
 Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham (Bahasa Arab:ابو علی، حسن بن حسن بن الهيثم) atau Ibnu Haitham (Basra,965 - Kairo 1039), dibarat lebih dikenal dengan nama Alhazen. Adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penelitian mengenai cahaya, dan telah memberikan banyak inspirasi pada ahli sains barat, seperti Roger Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop..
 Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail Buzjani (Buzhgan, Nishapur, Iran, 940 – 997 / 998) adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan dari Persia. Pada tahun 959, Abul Wafa pindah ke Irak, dan mempelajari matematika khususnya trigonometri di sana. Dia juga mempelajari pergerakan bulan; salah satu kawah di bulan dinamai Abul Wáfa sesuai dengan namanya.

Salah satu kontribusinya dalam trigonometri adalah mengembangkan fungsi tangen dan mengembangkan metode untuk menghitung tabel trigonometri.

Abu Raihan Al-Biruni (juga, Biruni, Al Biruni; lahir 5 September 973 – meninggal 13 Desember 1048 pada umur 75 tahun) (bahasa Persia: ابوریحان بیرونی ; bahasa Arab: أبو الريحان البيروني) merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.

Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan di Khawarazmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur.

Abu Raihan Al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina/Ibnu Sina, sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al Abbas Ma'mun Khawarazmshah. Abu Raihan Al-Biruni juga mengembara ke India dengan Mahmud dari Ghazni dan menemani dia dalam ketenteraannya di sana, mempelajari bahasa, falsafah dan agama mereka dan menulis buku mengenainya. Dia juga menguasai beberapa bahasa diantaranya bahasa Yunani, bahasa Suriah, dan bahasa Berber, bahasa Sanskerta.