+10 344 123 64 77

Publik tidak perlu simpati terhadap Najwa Shihab yang mengundurkan diri dari Metro TV setelah tayangan “Mata Najwa” tentang Novel Baswedan. “Kok ribut soal Mata Najwa. Dipujalah Najwa setinggi langit. Mereka lupa, Najwa mingkem ketika kawan-kawan protes diskriminasi elit Metro,” kata wartawan senior Edy A Effendi di akun Twitter-nya @eae18.

Kata mantan wartawan Media Indonesia ini, Najwa Shihab hanya diam di saat teman-teman di Metro TV memperjuangkan haknya. “Kawan-kawan berjuang membela haknya. Melawan sikap otoriter Brewok. Dia mingkem. Cari aman,” ungkap Edy.

Kata Edy, putri dari Prof Quraish Shihab hanya diam saat media grup diskriminatif terhadap berita-berita Islam. “MataNajwa lenyap. Orang ramai puja-puji Najwa. Mereka lupa, Najwa membiarkan sikap diskriminatif Media Grup terkait berita-berita Islam,” jelas Edy.

Selain itu, kata Edy, kebanyakan orang memuji hiruk pikuk. “Mereka bukan pencari keheningan dan kebeningan,” jelas Edy.

Mata Najwa tak akan mengudara lagi. Begitu isi pengumuman mengejutkan dari presenter kondang Metro TV Najwa Shihab.

Pengumuman itu diwartakan Najwa Shibab melalui akun media sosialnya di Instagram @najwashihab. “Menuju Catatan Tanpa Titik” begitu Najwa menulis dalam akun Instagramnya.

Dalam pengumuman tersebut, Najwa mengatakan bahwa ‘Eksklusif Bersama Novel Baswedan yang tayang 26 Juli 2017 dua pekan lalu menjadi episode live terakhir Mata Najwa. “Pekan depan kita hanya akan menampilkan kompilasi episode-episode Mata Najwa yang digelar on stage di berbagai kota,” tulis Najwa dalam akun instagramnya seperti dikutip detikcom, Selasa (8/8/2017). (kl/sn)

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu saya ngutang yang banyak ke luar negeri, sehingga negara lain bebas mendikte Indonesia

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu saya melindungi pemberontak dari Papua

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu saya ngundang girlband korea.

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu saya ngimpor garam. Padahal Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia.

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu saya membiarkan ribuan imigran gelap china menyerbu Indonesia

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu saya membiarkan PKI berkeliaran di mana-mana, padahal PKI jelas-jelas antipancasila dan antiNKRI

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu ketika Indonesia rusuh di tahun 1998, saya lari ke luar negeri

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu ketika ada kerja bakti di lingkungan saya, mending pura-pura sibuk aja di rumah

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu saya sakau kebanyakan ngisep narkoba

Saya Pancasila, NKRI Harga Mati.
Lalu saya ah sudahlah....

Memang sangat mudah meneriakkan "Saya Pancasila, NKRI Harga Mati"
Sama seperti maling yang dengan mudah berteriak, "Awas ada maling!"