+10 344 123 64 77

MMS dalam operasional medisnya di Suriah mengangkat dr. Abu Mush'ab penanggung jawab lapangan. Pemuda jenius 28 tahun spesialis anastesi tersebut datang dari Aljazair ke Suriah 4 tahun lalu bersama istri yang baru 2 tahun dinikahi dan seorang bayi belum 1 tahun di pelukannya

Sebagai paramedis lapangan, Tak ada pertempuran yang tak diterjuni Abu Mush'ab. Sebagai dokter muda shalih, Cekatan, Berani, Periang dan gagah tinggi besar, Abu Mush'ab sering ditawari gabung oleh grup-grup mujahidin, Hampir semua faksi pernah merayunya melengkapi barisan mereka. Tapi Abu Mush'ab selalu menolak. Ia ingin metodenya berjuang tidak diatur orang lain sehingga dapat membatasi aktifitas hanya seputar kelompoknya saja. Terlebih ia merupakan muhajirin, Pendatang, Yang harus bisa merangkul seluruh warga asli Suriah

Keputusannya masyaAllah terbukti bijaksana. Sejak mula tumbuh bibit fitnah perselisihan antar faksi hingga puncaknya pembelotan ISIS dari barisan pejuang revolusi dan pembantaian muhajirin oleh kelompok FSA Jamal Ma'rouf, Abu Mush'ab sama sekali tidak terpengaruh. Santai saja ia melenggang kesana kemari, Membantu siapapun yang harus dibantu, Melintasi semua checkpoint tanpa kuatir sama sekali. Namanya bersih dan harum, Seluruh faksi seolah sepakat menjaga beliau dari segala konflik antar mereka yang berdarah-darah

4 tahun berjuang di garis depan sebagai paramedis, Mengevakuasi korban baku tembak atau pemboman di tengah hujan peluru dan bom, Ratusan kawannya telah gugur, Baik sesama paramedis maupun mujahidin. Sedangkan Abu Mush'ab sendiri sehat wal afiat, AlhamdulIllah belum pernah satu kalipun peluru mampir di tubuhnya

Sampai suatu ketika...

Di wilayah Sahil, Pesisir Latakia, Ribuan mujahidin melancarkan pertempuran besar bersandi Al-Anfal (Ma'rakah Al-Anfal). Tujuannya membebaskan Babul Kasab, Salah satu dari 2 gerbang internasional yang menjadi pintu masuk internasional dari Turki ke Suriah. Satu pintu di Idlib sana, Babul Hawa, Telah terbuka sejak mula revolusi. Tinggal Babul Kasab yang masih dikuasai rezim. Menduduki gerbang tersebut artinya menjebol barikade bantuan internasional ke Latakia. Menjepit rezim dari 2 arah sekaligus !

Majulah dr. Abu Mush'ab ke medan laga. Dibawanya 1 kontainer obat-obatan untuk dibagi ke beberapa titik evakuasi dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) (MMS melakukan pula taktik ini, Menyebar obat dan tim evakuasi ke beberapa posko). Bersama beliau turut pula dua sahabatnya yang asli Suriah dan telah lama menyertai sebagai perawat dan tim evakuasi

Pertempuran menyalak panjang berminggu-minggu, Seizin Allah mujahidin berhasil menyapu 19 titik strategis rezim dalam semalam. Tugas selanjutnya adalah yang paling berat : Mempertahankan lokasi yang telah direbut !

Menjelang sore, Dr. Abu Mush'ab mendapat panggilan evakuasi dari satu titik yang baru dibebaskan. Kabar radio dua mujahid terluka parah, Salah satunya sekarat. Kawan-kawannya tak bisa mengevakuasi karena sedang face to face meladeni pertempuran jarak dekat dan jumlah mereka sedikit

15 menit kemudian Abu Mush'ab dan anggota timnya telah merapat. Merayap mereka dekati korban yang bersebelahan. Posisi korban yang berada di daerah terbuka, Musuh yang hanya beberapa puluh meter saja jauhnya, Juga karena peluru dari baku tembak kedua pasukan bersliweran tanpa henti diatas kepala, Menjadikan tim evakuasi juga sasaran tembak !

Begitu korban dalam jangkauan, dr. Abu Mush'ab memeriksa denyut nadi dan kondisi luka, Membuka kotak obat serta melakukan prosedur evakuasi darurat. Selesai, Kedua perawat beliau segera berdiri menggotong seorang korban yang seizin Allah besar kemungkinannya masih bisa diselamatkan. Abu Mush'ab sendiri terus merunduk menjaga korban satunya

Setiap peluru dan bom sudah ditentukan akan jadi milik siapa. Baru beberapa langkah tim evakuasi berjalan, Dentum mortir menggelegar di samping mereka !

Blaaarrr !!!

Disusul takbir serta jerit kesakitan yang singkat dan memilukan !

Begitu asap mereda, Terlihat pemandangan memilukan

Kedua tim evakuasi tergeletak di samping korban

Dr. Abu Mush'ab yang kepalanya masih dihujani batu-batu kecil dan tanah dari ledakan, Loncat menghampiri kedua rekannya yang berdarah-darah

Mereka gugur seketika
Hanya 2 meter dari lokasi Abu Mush'ab

Evakuasi dilanjutkan dengan bantuan pasukan tambahan yang datang beberapa puluh menit kemudian. Dibawah surpresing fire, Keempat korban diangkut mobil double cabin ke pos IGD terdekat

Abu Mush'ab terus berada di medan perang sampai selesai dengan tertahannya gerak laju kedua pasukan. Mujahidin penyerang berhenti karena garis logistik sudah terlalu panjang, Dan rezim sendiri telah berada di garis pertahanan terakhirnya, Sebuah benteng alam pegunungan Latakia yang dipenuhi desa-desa Nushairiah. Penyerang tidak bisa maju lebih jauh, Dan yang diserang kini berada di dalam bentengnya

Sampai beberapa tahun ke depan Ma'rakah Al-Anfal hanya menyisakan perang statis semi gerilya dan operasi-operasi singkat menyerang pos pertahanan lawan

Sore hari setelah perang berakhir, Dr. Abu Mush'ab tiba di rumah, Kehilangan dua sahabat terdekatnya, Tapi sama sekali tidak terluka. Ia sedih alang kepalang meski sangat bersyukur tak kurang suatu apa

Begitu pintu dibuka, Mush'ab, Putra satu-satunya, Cahaya mata Abu Mush'ab, Berlari menyambut sang ayah. Kerinduan sang anak yang berminggu-minggu ditinggal ayahnya pergi berperang ditumpahkan pada sebuah pelukan erat

Sang istri yang masih di kamar mandi belum sempat menyambut. Agak lama Abu Mush'ab dan putranya masih saja berpelukan

Belum puas satu kali, Sang ayah kembali memeluk anaknya

Saat itulah sebuah ledakan memekakkan telinga menggelegar di ruang tamu Abu Mush'ab !

Dharrr !!!

Sejurus kemudian, Darah mengalir dari perut dan pundak Abu Mush'ab. Perlahan dirabanya lubang di perut. Mata beliau berkunang-kunang, Pelukannya terlepas. Anaknya yang masih kecil menatap kebingungan

Sebiji peluru menembus perut Abu Mush'ab, Terus lurus ke pundak dan keluar dari sana, Mengalirkan darah tak henti !

Ummu Mush'ab yang panik langsung keluar rumah memanggil bantuan. Sebentar kemudian Abu Mush'ab berada di kendaraan yang biasa digunakan olehnya mengevakuasi korban perang

Abu Mush'ab tertembak peluru dari AK-47 nya sendiri ! Waktu pertama kali memeluk anaknya, Entah bagaimana rupanya picu safety terbuka, Dan pada pelukan kedua, Pelatuk AK tertarik oleh sang anak !

Saat pertama kali bertemu beliau, Kami ditunjukkan lubang itu di perut dan pundak, Membentuk semacam garis lurus imajiner. Beliau menceritakan kisah diatas sambil tertawa, Tak ada beban sama sekali. Tapi ketika anaknya mendekat, Abu Mush'ab berhenti bicara

Ia tak hendak sang buah hati tumbuh menanggung trauma atau perasaan bersalah. Sampai sekarang pada semua orang ia pesankan amanat ini :

"Jangan biarkan anak kita besar menyimpan trauma. Apapun kejadian buruk yang terjadi pada masa kecilnya harus dihapus segera. Kehancuran dunia dan isinya hari ini jangan sampai mempengaruhi jiwa-jiwa suci anak kita"

Menutup cerita, Beliau bergurau itu insyaAllah peluru pertama dan terakhir yang mampir ke tubuhnya. Ia insyaAllah akan hidup panjang membantu semua orang !

MMS mendokumentasikan kisah-kisah dan kejadian di Suriah serta negara-negara lain untuk seizin Allah mengetuk hati antum membantu mereka

Kita mungkin tidak bisa dan tidak perlu terjun dalam jihad perang (qital) Suriah. Tapi kita bisa berperan dalam jihad kemanusiaan, Membantu mereka yang kehilangan segalanya

Mari bantu mereka, Jangan berdiam diri dan selesai begitu saja setelah membaca kisah ini. Semoga dengan begitu Allah hindarkan kita dari mushibah yang menimpa mereka

Untuk donasi umum bisa disalurkan melalui rekening berikut :

* Donasi kemanusiaan

# MANDIRI 9000 0193 3072 0
(Kcp. Katamso, Yogyakarta)
# BCA 1691 9677 49
(Kcu. Ahmad Dahlan, Yogyakarta)
# BRI 0029 0110 9997 500
(Kcu. Cik Ditiro, Yogyakarta)
# BNI 0317 5635 23
(Kcp. Parang Tritis, Yogyakarta)
Semua atas nama IKRIMAH
Konfirmasi (opsional) Ikrimah : 081809406405

* Donasi operasional
(Untuk membiayai aktifitas dan kerja tim MMS dalam menjalankan kemanusiaan)

# MANDIRI 1710 0015 0674 3
(Kcp. Kediri Joyoboyo)
# BCA 2980 5299 35
(Kcp. Joyoboyo Kediri)
# BRI 1261 0100 1798 500
(KK. Buli)
Semua atas nama IHSANUL FARUQI
Konfirmasi (opsional) Ikrimah : 081809406405

Jazakumullah khairal jaza
Allah Yubaarik fiikum wa fii maalikum

Sejarah selalu berulang, begitu kata pepatah. Jika hari ini ada seorang Gubernur dinilai menista agama oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), maka hal nista menista bukanlah hal yang pertama.

Bagaimana nasib para penista Islam dari masa ke masa? Sejarah mencatat setiap ada penistaan, umat Islam tak tinggal diam. Semua bereaksi, bahkan jika penegak hukum mengacuhkan, sejarah mengatakan masyarakat akan turun tangan langsung.

Kita lihat bagaimana ketika surat kabar Djawi Hiswara edisi 11 Januari 1918 No.5. Surat kabar yang diterbitkan N.V.Mij. t/v d/z Albert Rusche&Co. dan dipimpin Martodarsono itu, memuat artikel Djojodikoro yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo”. Dalam artikelnya, Djojodikoro menulis“Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. gin, minoem opium, dan kadang soeka mengisep opium.

Kita melihat reaksi keras dari umat yang saat itu dipimpin oleh sang raja tanpa mahkota Tjokroaminoto bersama ormas-ormas Islam melakukan perlawanan. Tjokroaminoto mendirikan Komite Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) di Surabaya, untuk “mempertahankan kehormatan Islam, Nabi, dan kaum muslim.” Diketuai oleh Tjokroaminoto sendiri, Sosrokardono sebagai sekretaris, dan Sech Roebaja bin Ambarak bin Thalib, seorang pemimpin Al Irsyad Surabaya, menjadi bendahara.

Pengaruh seruan TKNM untuk membela Islam tampak sangat memukau.Tjokroaminoto dan kawan-kawan berhasil membangun opini publik dan membuat isu Surakarta itu menasional. Ketika Vergadering(rapat umum) di Surabaya pada 6 Februari, TNKM berhasil mengumpulkan dana lebih dari tiga ribu gulden. Aksi protes yang diadakan serentak pada 24 Februari di  42 tempat  di seluruh Jawa dan sebagian Sumatera dihadiri oleh lebih dari 150.000 orang dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari 10.000 gulden.

Subkomite TKNM didirikan hampir di seluruh Jawa kecuali Semarang dan Yogyakarta. Sejumlah SI lokal yang terbengkalai berhasil  dibangkitkan kembali di bawah pimpinan subkomite-subkomite TKNM.

Sejarah juga berkata ketika pendiri Boedi Oetomo, Dr. Soetomo, memuat berbagai tulisan yang menghina ibadah haji. Dalam tulisan-tulisan itu, penulis mempertanyakan manfaat naik haji, menganggap orang-orang yang dibuang ke Digul karena membela bangsa, lebih mulia dari orang-orang yang naik haji karena hanya “menyembah berhala Arab”, serta menganjurkan orang Islam untuk pergi keDemak saja daripada ke Mekah.

Maka gegerlah umat Islam. Tak lama, Soetomo berkilah,  berusaha berdandan dengan mengatakan kepada pers bahwa ia dan ayahnya juga seorang muslim dan sering menyumbang kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama.  Pernyataan itu oleh Tokoh Persis, M.Natsir, dalam Majalah Pembela Islam disebut sebagai ‘sahadat model baru.

Sejarah juga berkata bahwa masyarakat tak bisa ditahan-tahan jika aparat tak segera bertindak. Kita melompat ke Makasar setelah orde lama tumbang. Nabi Muhammad dihina kali ini dihina oleh oknum guru beragama Kristen di Sekolah Tinggi Ekonomi, Makassar, H.K. Mangunbahan. Di hadapan murid-muridnya yang mayoritas muslim itu, ia muntahkan kata-kata penuh kebencian.

“Nabi Muhammad adalah seorang pezina. Nabi Muhammad adalah seorang yang bodoh dan tolol, sebab dia tidak pandai menulis dan membaca.”Mendengar itu, meletuslah perasaan hati dan menaiklah darah murid-murid muslim tadi. Akibatnya, pada malam 1 Oktober 1967, beberapa gereja di Makassar dirusak dan dipecah kaca-kacanya oleh mereka.

Kala itu Pelajar Islam Indonesia (PII) berkumpul di depan Pusat Kesehatan Muhammadiyah Makassar. Di sana, PII membuat deklarasi yang menyatakan bahwa mereka siap mati sebagai syuhada demi membela Islam. Pada saat yang bersamaan, melalui stasiun radio HMI, pemimpin HMI, Jusuf Kalla ( yang sekarang menjadi Wakil Presiden RI), menginstruksikan semua anggota HMI dan organisasi muslim lainnya untuk datang ke daerah dekat masjid pada pukul 8 malam.

Sejarah pun bercerita pada tahun 1968, dunia sastra dihebohkan dengan terbitnya Cerpen berjudul “Langit Makin Mendung” karangan Kipandjikusmin. Cerpen yang dimuat di majalah Sastra edisi Agustus 1968 No. 8 Th. VI itu dinilai telah menodai kesucian agama Islam.

Setelah itu, pemuda dari Ormas Islam mendatangi kantor majalah Sastra dan rumah HB. Jassin. Mereka menuntut Darsjaf Rachman untuk menarik kembali Cerpen Kipandjikusmin “Langit Makin Mendung” dan meminta maaf kepada umat Islam.

Apabila tuntutannya tidak dikabulkan,maka mereka mengultimatum tidak  akan bertanggung jawab manakala terjadi tindakan fisik di kantor majalah Sastra dan kepada pemimpin-pemimpinnya. Tindakan fisik itu, kata mereka, akan datang dari pemuda-pemuda Ansor, Muhammadiyah, PMII, dan HSBI.

Aksi protes juga datang dari Pemuda Mahasiswa dan Peladjar Islam (PMPI). Kamis pagi, Koordinator pusat PMPI, mengadukan Pemimpin Redaksi/Penanggung jawab majalah Sastra kepada Kejaksaan Agung. Menurut pimpinan PMPI, pengaduan itu disertai fakta-fakta tentang bentuk penghinaan terhadap umat Islam, diantaranya tentang penggambaran Tuhan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Para sastrawan pun bereaksi. Situasi makin memanas. Sastrawan-satrawan yang kontra terhadap Cerpen “Langit Makin Mendung” diantaranya: Jusuf Abdullah Puar, Buya Hamka, Wiratmo Soekito, Moh. Zabidin Jacub SH, Ajib Rosidi, dan Abdul Muis, dan Taufiq Ismail. Buya Hamka menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, tidak boleh menggambarkan sosok Tuhan. Hal senada juga ditegaskan oleh Ajib Rosidi dan Taufiq Ismail.

Mengarungi gelombang protes, Darsjaf Rahman selaku Pemimpin Umum majalah Sastra, akhirnya meminta maaf kepada umat Islam.

“Sebagai suatu imaginasi dalampengungkapan jang bersifat fiktif dalam sedjarah kesusastraan Islam, terutama dalam dialog antara machluk dgn chalikNja bukan suatu hal jang baru.

Tetapi djika ada persoalan2 di dalam pengungkapan mengenai Tuhan dan RasulNja jang menurut tanggapan seseorang atau golongan berdasarkan DZOUQ masing2 tidak dapat diterima jang berhubungan dengan soal2 jang bersifat Agung, dlm hal inidjika madjalah Sastra terlalai dan tersalahkan, maka madjalah Sastra mohon maaf sebesar2nja.

Kepada Allah Azza wa Djalla kiranja berkenan memberikan maghfiroh-Nja

Sejarah berkata, walau sudah meminta maaf, pelaku penista pun tetap ditindak secara hukum agar warga tidak main hakim sendiri. Rupanya gelombang protes belum benar-benar reda. Meski kelihatannya telat, Menteri Agama, K.H. Mohd Dachlan, di HARIAN KAMI  29 Oktober 1968, menganggap Cerpen “Langit Makin Mendung” merupakan penghinaan terhadap Tuhan, agama, para Nabi, malaikat, para kiai/ulama, pancasila dan UUD 1945.

Polemik Cerpen “Langit Makin Mendung”akhirnya dibawa ke pengadilan. Meskipun pengarang pada tanggal 25 Oktober 1968, meminta maaf atas Cerpennya, namun sebagai pemimpin redaksi Majalah Sastra, HB. Jassin, tetap harus bertanggung jawab.

Akhrinya, HB. Jassin dijebloskan ke penjara setelah keputusan dibacakan oleh Hakim Ketua Anton Abdulrachman SH pada sidang hari Rabu, 28 Oktober 1970. Menariknya, prahara sastra inimembuat HB. Jassin semakin mendalami ilmu agama. Setelah menyelesaikan perkara, ia semakin giat belajar bahasa Arab, Al-Qur’an, dan kesusastraan. Bahkan ia sampai membuat buku terjemahan Al-Qur’an

Nasib para penista Islam terselamatkan karena diamankan oleh para penegak hukum dijebloskan ke penjara, hal ini pun nampak pada kasus Arswendo yang menempatkan Nabi Muhammad dibawah urutan dirinya sebagai orang terpopuler.

Sama, ia meminta maat tapi proses hukum terus berjalan. Pada 22 Oktober 1990, Tabloid Monitor mengakui kesalahan dan menyampaikan permohonan maaf atas program Kagum 5 Juta, serta mencabut tulisan tersebut.

“Kami, seluruh karyawan Monitor, memohon maaf yang sebesar-besarnya karena berbuat khilaf memuat Ini Dia:50 TokohYang Dikagumi Pembaca Kita dalam terbitan no.225/IV 15 Oktober 1990. Pemuatan tersebut dapat menimbulkan penafsiran yang keliru dan dapat menyinggung perasaan, khususnya umat Islam. Dengan ini, kami mencabut tulisan terebut dan menganggap tidak pernah ada.

Namun demikian, karena  semakin gencarnya protes yang dilayangkan kepada Monitor, pemerintah melalui Menteri Penerangan Harmoko, pada Selasa 23 Oktober 1990, mencabut surat izin penerbitan Monitor. Kemudian, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Jakarta, mengeluarkan surat yang isinya memberhentikan Arswendo Atmowiloto dari keanggotaan PWI dan mencabut rekomendasinya untuk Arswendo sebagai pemimpin redaksi. Puncaknya, Arswendo diadili dan dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun.

Itulah sebagian aksi nista dari masa ke masa. Aksi nista yang selalu berbalas reaksi bela agama hingga berujung nestapa. Sejarah kini berulang, akankah massa akan bergerak atau pihak penegak hukum mengambil pelajaran dari sejarah?

Ada baiknya sejarah menjadi pelajaran, sebab kata filsuf dari Spanyol, George Santayana bilang  "Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya." Dan sejarah sejatinya pelajaran bagi para penista Islam bahwa umat Islam tidak akan tinggal diam jika dinistakan. Selengkapnya silakan buka http://jejakislam.net/menista-islam-dari-masa-ke-masa/

Oleh: Jejak Islam Bangsa