+10 344 123 64 77
Siapa yang membaca sejarah masuknya Islam, akan faham bagaimana Islam pertama dibawa ke Indonesia, dan berpindahnya penduduk pribumi dari agama Hindu dan Animisme menjadi pemeluk Islam.
Islam menurut beberapa teori dibawa oleh pedagang-pedagang atau saudagar-saudagar dari Yaman. Tujuan awal mereka datang adalah murni untuk berniaga.
Pengaruh yang dibawa oleh para saudagar itu selain dari sisi ekonomi, juga dari sisi adat istiadat, agama dan bahasa.
Pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia -bersamaan dengan masuknya para saudagar tersebut- sangat jelas. Menurut penelitian kosakata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab sangat banyak. Jumlahnya diperkirakan mencapai 2000 - 3000 kata. Segaian kata-kata Arab ini masih utuh, dalam artian sama antara pengucapan lafal dan maknanya, dan ada sebagian lagi yang berubah.
Dan jika ingin diklasifikasikan dari segi perubahannya, maka bisa kita bagi menjagi 4 :
Lafal dan arti masih sesuai dengan aslinya.
Lafalnya berubah, artinya tetap.
Lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula.
Lafalnya benar, artinya berubah.
Dan berikut ini contoh-contoh dari sebagian kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Arab :
A
Abadi ( أبدي )
Adat ( عادة )
Adil ( عادل )
Ahad ( أحد )
Ahli ( أهل )
Aib ( عيب )
Ajal ( أجل )
Akal ( عقل )
Akhir ( أخير )
Akhlak ( أخلاق )
Akrab ( أقرب )
Alamat ( علامة )
Amanah ( أمانة )
Alam ( عالم )
Alat ( آلة )
Asal ( أصل )
Asli ( أصلي )
Awal ( أول )
B
Bab ( باب )
Badan ( بدن )
Bahas ( بحث )
Batin ( باطن )
Batal ( بطل )
Bait ( بيت )
Bakhil ( بخيل )
Bala ( بلاء )
C
D
Dahsyat ( دهشة )
Dakwah ( دعوة )
Dai ( داعي )
Doa ( دعاء )
Daerah ( دائرة )
Dewan ( ديوان )
Daftar ( دفتر )
Dalil ( دليل )
Daur ( دور )
Derajat ( درجة )
Dunia ( دنيا )
Dzikir ( ذكر )
E
F
Faidah ( فائدة )
Fakir ( فقير )
Fana ( فناء )
Fikir ( فكر )
Fitnah ( فتننة )
Fithrah ( فطرة )
G
Ghaib ( غائب )
Gamis ( قميص )
H
Hadiah ( هدية )
Hal ( حال )
Hadir ( حاضر )
Hasad ( حسد )
Haid ( حيض )
Hajat ( حاجة )
Hamil ( حامل )
Haram ( حرام )
Hasil ( حاصل )
Hewan ( حيوان )
Hidayah ( هداية )
Hijrah ( هجرة )
Hukum ( حكم )
Hakim ( حاكم )
Hak ( حق )
Hakikat ( حقيقة )
Hayat ( حياة )
Hibah ( هبة )
Hikayat ( حكاية )
Hikmah ( حكمة )
Hormat ( حرمة )
Hina ( هين )
Huruf ( حروف )
I
Ilmu ( علم )
Ilmiah ( علمية )
Iman ( إيمان )
Insan ( إنسان )
Istilah ( اصطلاح )
Istirahat ( استراحة )
Isyarat ( إشارة )
J
Jadwal ( جدول )
Jamaah ( جماعة )
Jasad ( جسد )
Jawab ( جواب )
Jenis ( جنس )
Jilid ( جلد )
Jumat ( جمعة )
K
Kabar ( خبر )
Kalam ( كلام )
Kalimat ( كلمة )
Kalbu ( قلب )
Kamis ( خميس )
Kamus ( قاموس )
Karib ( قريب )
Kertas ( قرطاس )
Kias ( قياس )
Kisah ( قصة )
Kitab ( كتاب )
Kuliah ( كلية )
Kuburan ( قبر )
Kursi ( كرسي )
L
Lisan ( لسان )
M
Madrasah ( مدرسة )
Majalah ( مجلة )
Majlis ( مجلس )
Makalah ( مقالة )
Makhluk ( مخلوق )
Maklum ( معلوم )
Makna ( معنى )
Makruf ( معروف )
Maksud ( مقصود )
Malaikat ( ملائكة )
Markaz ( مركز )
Masalah ( مسألة )
Masjid ( مسجد )
Mati ( ميت )
Misal ( مثال )
Miskin ( مسكين )
Mungkin ( ممكن )
Munkar ( منكر )
Mustahil ( مستحيل )
Musibah ( مصيبة )
Mushalla ( مصلى )
Musyawarah ( مشاورة )
N
Nabi ( نبي )
Nasib ( نصيب )
Najis ( نجس )
Nikmat ( نعمة )
Nafas ( نفس )
Nasab ( نسب )
Nafkah ( نفقة )
Nikah ( نكاح )
Noktah ( نقطة )
O
P
Paham ( فهم )
Pasal ( فصل )
Pikir ( فكر )
Q
R
Rahmat ( رحمة )
Rahim ( رحم )
Rasul ( رسول )
Rejeki ( رزق )
Riwayat ( رواية )
Rabu ( أربعاء )
Rakyat ( رعية )
Risalah ( رسالة )
Ruh ( روح )
Rujuk ( رجوع )
S
Saat ( ساعة )
Sabar ( صبر  )
Sabtu ( سبت )
Sabun ( صابون )
Sah ( صح )
Safar ( سفر )
Sahabat ( صحابة )
Salam ( سلام )
Salju ( ثلج )
Sehat ( صحة )
Sajak ( سجع )
Sedekah ( صدقة )
Sekarat ( سكرات )
Serikat ( شراكة )
Sebab ( سبب )
Silaturrahmi ( صلة الرحم )
Sihir ( سحر )
Sujud ( سجود )
Surat ( سورة )
Syirik ( شرك )
Syukur ( شكر )
Selamat ( سلامة )
Senin ( اثنين )
Selasa ( ثلاثاء )
Setan ( شيطلن )
Siasat ( سياسة )
Sifat ( صفة )
Silsilah ( سلسلة )
Shalat ( صلاة )
Soal ( سؤال )
Sohib ( صاحب )
Sulthan ( سلطان )
Sunnah ( سنة )
Syarat ( شرط )
Syair ( شاعر )
T
Taat ( طاعة )
Tabiat ( طبيعة )
Tauhid ( توحيد )
Tabib ( طبيب )
Takhayul ( تخيل )
Takabbur ( تكبر )
Takdir ( تقدير )
Tawakkal ( توكل )
Tawadhu ( تواضع )
Tamak ( طمع )
Tamat ( تمت )
Taubat ( توبة )
Telaah ( مطالعة )
Tertib ( ترتيب )
Tafsir ( تفسير )
U
Umat ( أمة )
Umum ( عموم )
Umur ( عمر )
Unsur ( عنصر )
Ustadz ( أستاذ )
V
W
Wasit ( واسط )
Was-was ( وسواس )
Wajah ( وجه )
Wajib ( واجب )
Wakil ( وكيل )
Waktu ( وقت )
Wali ( والى )
Warisan ( وراثة )
Wilayah ( ولاية )
Wujud ( وجود )
X
Y
Yakin ( يقين )
Yakni ( يعني )
Yatim ( يتيم )
Z
Zalim ( ظالم )
Zakat ( زكاة )
Zaman ( زمان )
Ziarah ( زيارة )
Zuhud ( زهد )
Demikian contoh kata-kata serapan dari bahasa Arab. Semoga bisa menambah wawasan Anda. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan tulis pertanyaan Anda di kolom komentar di bawah ini. Saya berikan izin bagi siapa saja yang ingin mengbagi postingan ini, supaya faedahnya dirasakan oleh orang banyak. Syukran 'alaa haadzihiz-ziyaarah (terima kasih atas kunjungannya), wa jazaakumullahu khairan.

Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallaam bersabda :

"Ada tujuh perkara yang terus mengalir pahalanya bagi seorang hamba meski ia sudah meninggal dunia di dalam kuburnya :

1. orang yang mengajarkan ilmu.
2. mengalirkan air dari sungai,
3. menggali sumur,
4. menanam pohon kurma.
5. membangun masjid,
6. mewariskan mushaf, dan
7. meninggalkan anak yg beristighfar baginya sepeninggalnya."
[Hadis hasan riwayat al-Bazzar, Abu Nu’aim dan al-Baihaqi. Lihat: Shahih al-Jami’ ash-Shaghir oleh al-Albani no. 3602]

[•] PENJELASAN SINGKAT

1). Mengajarkan Ilmu.
Yakni ilmu yang bermanfaat yang dapat memberikan pengetahuan kepada manusia tentang Islam, mengenalkan dirinya kepada Allah ta’ala, menunjukinya kepada jalan yang lurus. Ilmu yg membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, serta yang halal dan yang haram.
2). Mengalirkan Air dari Sungai.
Maksudnya adalah membuat saluran air dari sungai atau mata air. Sehingga dapat mengalir ke perumahan penduduk dan untuk bercocok tanam. Masyarakat dapat menggunakannya untuk keperluan minum, menyirami tanaman, dan untuk minuman hewan ternak, dll.
3). Menggali Sumur.
Dengan amalan mulia ini berarti ia telah berbuat baik & menghilangkn kesusahan manusia. Dengan memudahkan mereka memperoleh
air untuk keperluan sehari-hari. Sebab air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting bagi semuanya.
4). Menanam Pohon Kurma.
Pohon kurma merupakan sayyidul-asyjaar (tuannya pepohonan), pohon yang paling utama, banyak manfaatnya dan bisa dirasakan oleh banyak manusia. Disebutkannya pohon kurma secara khusus tidak menunjukkan bahwa menanam pohon di sini hanya terbatas pada pohon kurma, namun mencakup pohon lainnya.

[diringkas dari sebuah selebaran karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-Badr]

Al Huthoiah dan Az Zabarqon adalah dua orang penyair sangat terkenal di masa kekhilafahan Umar bin Khattab.

Ketika Al Huthoiah sering kali menyerang dan mengejek Az Zabarqon dan siapapun dengan syairnya yang tajam, Umar menegur dan melarangnya. Tapi ia terus melakukannya tetapi dengan cara halus yang tidak dipahami kecuali oleh penyair handal semisalnya.

Suatu hari Az Zabarqon mengadukan Al Huthoiah kepada Umar atas syairnya:

Tinggalkan kemuliaan itu, tak usah mencarinya.
Duduklah, karena engkaulah yang makan dan berpakaian.

Umar berkata: "Itu hanya teguran".

Az Zabarqon berkata: "Apakah hidupku ini hanya sebatas makan dan berpakaian? Demi Allah wahai amirul mu’minin, belum pernah ia menghina saya yang lebih menyakitkan dari ini".

Maka Umar pun harus bertanya kepada penyair handal Rasulullah yang masih hidup Hassan bin Tsabit. “Ya, bahkan ia telah membuang kotoran di atasnya,” jelas Hassan.

Umar memutuskan untuk memenjarakan Al Huthoiah agar menjaga kehormatan muslimin dari lisan buruknya itu.

Di penjara, Al Huthoiah bersyair untuk Umar:

Bagaimana menurutmu tentang anak-anak burung yang tinggal di Dzi Marakh

Bulunya tumbuh lembut di sekitar tembolok, tak ada air dan tak ada pohon

Kau lemparkan pencari makannya di lubang yang gelap

Maafkanlah, bagimu keselamatan Allah, wahai Umar

Karena kasihan, Umar mengeluarkannya dari penjara dan mewanti-wantinya agar tidak lagi menghina siapapun dengan syairnya. Al Huthoiah berkata: "Kalau begitu keluargaku akan mati kelaparan".
(Karena mereka bersyair utk mencari uang)

Mendengar itu, Umar memberikan kepadanya 3000 Dirham (sekitar 180 juta Rupiah) dengan perjanjian agar ia berhenti bersyair yang mencederai kehormatan orang lain.

Dan Al Huthoiah pun berhenti.

Terlalu mahal kehormatan muslimin untuk dicederai!!! Berapapun harga perlindungannya, mari kita beli.

Jangan justru menjadi penyebab cederanya kehormatan saudara.

Keselamatan untukmu, wahai Umar...

‪#‎budiashari‬
*Notes fb Rusdi Mathari
PAMFLET. Judul kepala berita beberapa koran yang terbit di Jakarta pada Jumat silam [6 November], berbeda-beda padahal isu dan sumbernya relatif sama. Sebagian besar menyebut perekonomian negara ini sedang lesu, dan hanya sebagian kecil yang menulis sebaliknya.
Beberapa orang lantas mempersoalkan dan memperbandingkan judul-judul koran-koran itu, dan yang paling menarik perhatian adalah judul Kompas dan Sindo, sebab dua koran itu menulis judul yang seolah saling berhadapan: Kompas dengan “Perekonomian Mulai Tumbuh” dan Sindo dengan “Ekonomi Lesu, Pengangguran Melonjak.” Beberapa orang yang menyebarkan perbandingan kedua koran, menyertakan pengantar “mana yang lebih dipercaya?” atau semacam itu, dan tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu tendensius.
Bila membaca dengan cermat kedua berita itu, baik Kompas maupun Sindo sebetulnya menggunakan sumber utama yang sama: BPS. Kompas mengutip keterangan Deputi Kepala Badan Pusat Statistik Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Kecuk Suharyanto, dan Sindo mengutip keterangan Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS, Razali Ritonga, selain Kecuk. Redaksi kedua koran lantas melengkapi berita masing-masing dengan sumber-sumber lain.
Kompas memilih pengamat ekonomi UGM, Tony Prasetiantono; Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani; Menteri Perdagangan, Thomas Lembong; dan siaran pers dari Deputi Direktur Departemen Komunikasi BI Andiwiana. Sementara redaksi Sindo memilih keterangan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution; pendapat dari Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance [Indef], Enny Sri Hartati; dan keterangan dari Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Dengan sumber utama [BPS] yang sama, berita yang muncul di Kompas dan Sindo semestinya sama, tapi seperti yang sudah bisa dibaca pada kepala berita kedua koran pada Jumat lalu, yang terjadi adalah sebaliknya: bertentangan. Problemnya, sejak lead hingga empat paragraf berikutnya, Kompas tidak menuliskan siapa sumbernya untuk tidak menyebut sumbernya tidak ada.
Sumber Kompas baru muncul pada paragraf kelima dengan mengutip pernyataan Kecuk yang menyatakan, “Pertumbuhan konsumsi rumah tangga-yang menopang PDB dengan kontribusi 54,98 persen-melambat, dari 5,08 persen pada triwulan III-2014 menjadi 4,96 persen pada triwulan III-2015.” Ada pun Sindo, menulis menulis lead-nya dengan sumber dan pernyataan yang jelas: BPS dan Razali.
Pernyataan-pernyataan yang diletakkan di bagian-bagian awal berita Kompas yang menyatakan perekonomian mulai membaik, karena itu bisa disebut sebagai kesimpulan redaksi Kompas, meskipun bila ditelusuri, pernyataan-pernyataan itu kemungkinan besar salah satunya bersumber dari pernyataan Darmin yang dalam berita itu, justru tidak dikutip oleh Kompas. Keterangan Darmin itu bisa diketahui, sebab Sindo mengutip utuh dan jelas pernyataan Darmin.
Pernyataan “Secara kumulatif, hingga kuartalIII/ 2015, ekonomiIndonesia tumbuh 4,71%” yang ditulis Sindo, adalah relatif sama dengan lead yang ditulis Kompas “Perekonomian Indonesia mulai membaik. Produk domestik bruto triwulan III-2015 tumbuh 4,73 persen, sedikit lebih baik dibandingkan dengan triwulan II-2015 yang sebesar 4,67 persen...” Perbedaannya, setelah pernyataan itu, Sindo melengkapinya dengan pernyataan langsung dan jelas dari Darmin: ”Pertumbuhan ekonominya membaik dari kuartal sebelumnya, tapi tidak cukup tinggi menyerap tenaga kerja. Akibatnya, penganggurannya naik.” Dan tidak dengan Kompas.
Koran itu sebaliknya menjadikan pernyataan yang tidak jelas sumbernya, untuk dijadikan judul kepala berita [halaman satu]: “Perekonomian Mulai Tumbuh.” Celakanya, judul itu kemudian bertabrakan dengan penjelasan dari sumber-sumber yang dipilih Kompas yang sebagian besar menyatakan kondisi perekonomian negara ini sesungguhnya memburuk. Pernyataan Lembong yang menyatakan “Pertumbuhan ekonomi masih lumayan positi

At-Tabrîk atau mendoakan seseorang dengan keberkahan, ada bbrp lafal dg makna yang berdekatan, yaitu :

BÂROKALLÂHU LAKA
BÂROKALLÂHU FÎKA
BÂROKALLÂHU 'ALAIKA
BÂROKALLÂHU BIKA

Para ahli lughoh (bahasa), menjelaskan bahwa penggunaan "harful jar" (preposisi) dalam doa di atas memiliki penekanan makna yang berbeda

Jika kita ucapkan :
🏻 Bârokallâhu laka, maka maknanya adalah
الدعاء له بالبركة فيما حصل عليه حديثا أو فيما رزقه الله
Mendoakan keberkahan baginya atas hal yang baru terjadi padanya (berupa kenikmatan) atau yang Allâh anugerahkan kepadanya

Atau bisa juga
يبارك الله في الشئون الدنيوية المصلحية
Semoga Allâh memberkahi di dalam seluruh urusan dunia yang ada maslahatnya

🏻 Bârokallâhu fîk, maka maknanya adalah
يبارك الله في الشخص بحيث أنه فاضل أو على خلق أو غير ذلك

Semoga Allâh memberkahi seseorang dari sisi keutamaan yang dimilikinya, atau karena perangai (akhlaknya) atau yang semisalnya.

Maknanya serupa dengan doa :

كثر الله من أمثالك
Semoga Allâh memperbanyak org sepertimu

🏻 Bârokallâhu bika
Maknanya adalah
يبارك الله لك ولغيرك بسبب وجود هذا الشخص، بمعنى أن يكون سببا لحلول البركة عليك أو على الآخرين

Semoga Allâh memberkahimu dan selainmu lantaran adanya seseorang, yg mana org tsb adalah sebab datangnya barokah kepadamu dan kpd selainmu.

🏻 Bârokallâhu 'alaika
Maknanya adalah
يبارك الله في أمور الدين

Semoga Allâh memberkahi di dalam urusan agama.
Biasanya,' alaika cenderung utk masalah agama, sebagaimana Lafal doa sholawat :
وبارك على محمد وعلى آل محمد

"Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad"
Di dalam Qur'an juga dikatakan
وباركنا عليه و على إسحاق

"Dan kami berkahi atas dirinya dan atas Ishâq."
Perhatikan bahwa "harful jar" (preposisi) yang digunakan dalam ayat di atas adalah 'ala, dan ini adalah utk kebaikan agama.

Wallâhu a'lam
🏻 Makanya, ketika kita mendoakan pengantin, kita dianjurkan mengucapkan
بارك الله لكما وبارك عليكما

"Bârokallâhu lakumâ wa bâroka 'alaikumâ"
Yaitu, diantara maknanya adalah "Semoga Allâh memberkahimu dalam seluruh urusan duniawi dan urusan agamamu".

Jadi;
🏻 Jika kita dapati orang yang mendapatkan nikmat, barusan menikah, mengadakan acara walimah, dll kita ucapkan "barokallohu laka wa alaika"
🏻 Jika kita dapati org yg mengajar kita, membagi ilmu dg kita, atau kpd ustadz dan ulama yg memiliki keutamaan, maka kita ucapkan "barokallohu fik", yaitu fi ilmika wa fi umrika wa fi juhdika... Dst (berkah di dalam ilmu, usia, upaya, dll)
🏻 Jika kita dapati org yg memberi manfaat utk kita dan org lain, baik dunia atau akhirat, maka kita ucapkan "Bârokallâhu bika"
🏻 Jika kita bermaksud mendoakan atas kebaikan agama seseorang, maka kita ucapkan "Bârokallâhu 'alaika".

Wallâhu a'lam

pembahasan disadur dari : Mahasiswa Muslim Gadjah Mada

---------------
FP : Ma'had 'Umar bin Khattab Yogyakarta
web : mahadumar.id
twitter, instagram, dan telegram : @mubk_jogja
BBM : 595F4CAC

Lingkarannews.com- Media kini tak ubah menjadi sebuah tunggangan politik sebuah kepentingan, dari menjadi pembangun karakter tentang seorang pemimpin hingga ikut berpihak dalam salah satu pilihan politik.

Netralitas dan independesi Media kini banyak dipertanyakan

Bergerak dan mengarahkan sesuai dengan kepentingan yang ‘membayar’, ini jelas menunjukkan asas simbiosis mutualisme (asas salaing membutuhkan); kondisi persaingan media yang semakin ketat, ditambah kondisi ekonomi yang terus melambat sehingga publik mulai sedikit mencari jawaban di media (daya beli), mereka (para pemilik media) harus berpikir dan memutar otaknya bagaimana caranya bisa mendapatkan kucuran modal bantuan.

Kucuran modal bantuan atau kucuran dana abadi untuk media bisa terus hidup dan di bantu dengan sistem pengiklanan dari perusahaan afiliasi; adalah tidaklah gratis

Tidak gratis artinya media tersebut mulai harus bisa menjadi tameng pertahanan citra atau image sebuah kepentingan, juga bersamaan menjadi tunggangan penggiringan opini publik atas sebuah kepentingan

Media butuh keberpihakan untuk tetap hidup

Idealisme serta hal lainnya, adalah sebuah ‘mimpi’ manis disiang bolong pada saat ini.

Bahkan kini media sengaja dibangun demi kepentingan kekuatan politik tertentu, bos bos media adalah pemain politik secara otomatis medianya menjadi ‘brand’ atasnama diri dan kepentingan politiknya sendiri.

Media yang hidup karena bosnya adalah pemain politik, bergerak menunggu angin yang ditiup sang bos itu ke arah kepentingan politik yang mana, maka disanalah media itu terwarnai

Sementara media yang hidup dengan harapan menjadi bagian kepentingan politik tertentu, akan selalu menunggu pesanan siapa yang membayar, peluru peluru pembangunan opini itu diarahkan kemana.

Kini media tak ubahnya sebuah mesin penghasil uang dengan misi kepentingan yang sudah diemban oleh para pemiliknya; ikuti arah angin nya kemana, idealisme sudah lama ditinggalkan.